Wednesday, January 28, 2015

Sekilas tentang mencari tempat tinggal di Jepang


Pertengahan bulan ini gue baru aja sukses dapet tempat tinggal baru yang deket kampus, murah (?), dan nyaman. Kalau ditanya prosesnya gimana, jujur gue ngerasa semuanya cepet banget, yang lama adalah galau memulainya. Well, gue mulai dari proses si gue cari tempat tinggal dulu ya.
Ceritanya, aturan asrama tempat gue berlabuh sekarang cuma bisa ditinggalin selama satu tahun doank, which is selesai musim semi ini (hiks). Padahal asrama tempat gue guling-guling sekarang adalah tempat paling nyaman, lengkap perabotnya, dapur dan kamar mandi di dalam (istilah anak kos banget ini), dan MURAH! Yes. Dimana lagi di Tokyo (pedalaman sih) bisa dapet tempat kayak gini. Mungkin karena fasilitas dan harganya yang sesuai kantong mahasiswa non-Jepang, asrama ini ga punya banyak kamar dan cuma boleh ditinggalin maksimal 1 tahun.
Nah, menginjak tahun kedua (honestly tahun ke-3 lebih satu bulan gue di Jepang kalo digabung sama tahun-tahun sebelumnya), gue mulai harus masuk ke realita, cari apartemen alias apato dalam istilah Jepangnya. Dari akhir tahun lalu gue udah mulai tanya kanan kiri soal info apato yang gue pengen: murah, bersih, cukup buat sendiri dan bikin party (eh), dan deket dari salah satu tempat berikut: Kampus, Swalayan lengkap bin murah, atau Stasiun yang ada kereta ekspresnya. Tinggi banget ya kriteria gue? Jujur, awalnya gue ogah pake real estate agency, karena denger-denger sekilas dari orang-orang bayarnya mahal dan orang asing (bukan luar angkasa) sering ditolak karena ga bisa bahasa Jepang.

Tapi, setelah gue ngobrol-ngobrol lebih lanjut sama orang-orang yang pro dan kontra sama si agen, gue pun memutuskan untuk “why not try using the agency’s services?” Hal pertama yang gue lakukan sebelum pergi ke agen adalah “poking” orang-orang yang gue kenal deket dan punya bahasa Jepang yang canggih dan sedikit mirip orang Jepang, kalau bukan orang Jepang asli. Buat apa? Buat nemenin gue ngomong sama mba-mba dan mas-mas agennya lah, secara bahasa Jepang gue masih cupu. Kedua, gue ngomong 4 mata (karena dari kita ga ada yang pake kacamata) sama babeh Lab alias dosen pembimbing gue buat minta kesediaan beliau jadi guarantor. Apa itu? Penjamin kalau gue mahasiswa asing legal dan anak baik-baik yang tinggal di Jepang buat tujuan mulia mencari ilmu (mulai lebay). FYI, Jepang adalah negara yang lebih skeptis dari gue yang suka skeptis berlebihan. Mereka menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, secara label “non-Japanese” punya budaya yang berbeda, cara hidup yang berbeda, dan bahasa yang berbeda. Bayangin aja situ punya kos-an, terus ada orang dari negara yang situ aja belom pernah denger namanya, apalagi bahasanya. Terus doi ga bisa bahasa negara situ. Gimana coba mau ngomong sama doi? Gimana mau jelasin aturan kos-an ke doi?  Bahasa Tubuh? Ya bisa aja sih. Tapi tetep aja, ga nyaman bukan? Kira-kira analogi ekstremnya gitu. Tapi ini analogi ala gue ya, hehehe.

Intinya, setelah dapet persetujuan dan kedua pihak penting: partner in crime sebagai penerjemah dan babeh sebagai pengganti orang tua gue di Jepun, gue pun meluncur ke salah satu agen (sebut saja mawar) yang terlihat memajang iklan apato murah bin keren karena deket stasiun yang ada kereta ekspresnya. Hahaha. Awalnya setengah “iseng”, pengen nanya dan lihat-lihat dulu aja gitu. Eh, berhubung partner gue sama golongan darah dan stoic-nya sama gue, plus mba-mba agen mawar (sebut saja melati) yang canggih nyari apato yang pas buat mahasiswa non-Jepang kayak gue, gue pun tertarik buat liat salah dua dari sekian banyak apato yang ada. Setelah dua jam ngobrol dan muter-muter, termasuk lihat langsung ke TKP, gue pun memutuskan untuk “ambil” salah satu dari yang ditawarkan. Partner in crime gue sih terserah gue, tapi berhubung dia tahu kayak apa kehidupan penelitian gue sama anak-anak (kambing) gue, dia dengan senang hati menerima keputusan gue ambil itu apato.
Langkah selanjutnya adalah: gue isi form data diri (standar sih), begitu pula dengan babeh sebagai orang tua, eh penjamin. Ini form “ancang-ancang” sebelum form kontrak resmi. Mba melati harus konfirmasi dulu ke Ibu Kosan yang punya apato, mau apa ga nerima gue jadi anak kosanya. Dua jam kemudian... (ga kok, gue ga nunggu 2 jam di kantornya, gue pulang ke lab sambil nunggu telepon) mba melati telepon dan bilang kalau aplikasi gue diterima dan gue udah bisa teken (bahasa apa sih ini teken?) kontrak besok atau lusa. Gile, cepet banget (apa emang cepet ya?). Karena gue besoknya sibuk (tsaaah), jadilah lusa gue ke kantor si agen ditemenin my cool partner in crime. Setelah isi ini itu, termasuk itung-itungan duit, gue pun membubuhkan tanda tangan plus stempel di atas kertas. Dilanjutkan dengan babeh beberapa hari kemudian (maklum babeh sibuk, jadi dokumennya harus dianter ke kantor babeh dan gue harus “mapan” ngomong di depan beliau). Yang menarik, ada prosedur ngebacain kontrak dan aturan. Dibacain! Cuma 3 lembar sih, tapi tetep aja. Gue cuma ngerti intinya (Alhamdulillah masih ngerti intinya. Kalo lagi kepepet kadang gue bisa sih bahasa Jepang). Kelakuan gue saat dibacain itu tulisan adalah mendengarkan dengan manis, setelah selesai, gue suruh partner gue merangkum. #plaaak.

Langkah selanjutnya adalah, cari bantuan angkut barang. Alhamdulillah partner gue dengan senang hati meminjamkan dan nyupirin mobilnya buat angkut barang-barang gue. Yeay!

Jadilah gue punya apato hasil jasa agen. Terus, kenapa akhirnya gue pilih apato yang sekarang ini?

1.     Lokasinya deket dari kampus. Saking deketnya, kampus gue bisa dikeker (bahasa apalagi ini?) dari jendela.

2.     Home appliances include. Alias udah ada perabot lengkap! Sebagai mahasiswa, gue ga perlu cari perabot second-hand atau gratisan buat ngisi apato. Dan kalau udah lulus, terus pindah ke belahan dunia lain, gue ga perlu repot cari orang yang mau diwarisin perabot gue atau buang perabot gue. As you know, buang perabot di Jepang bayarnya mahal dan harus pesen dulu sama tukang angkut sampahnya bro. Lumayan duitnya buat PP Tokyo-Hokkaido naik pesawat. Wuuuzzz….

3.     Harga sewa sesuai golden rules: ga lebih dari 1/3 gaji sebulan. (Harga dan gaji dirahasiakan, bahkan emak gue di kota aja ga tau gaji gue berapa, maap ya mak ^^).

4.     Luasnya pas sama badan gue yang mungil (sok-sok mungil) dan sesuai apa kata emak: semakin luas rumah semakin capek bersihinnya. Jadilah gue pilih yang “pas” buat gue sendiri guling-guling sambil nonton DVD konser Arashi (teteuup).

5.     Uang “macem-macem”nya ga banyak. Memang ga bisa dihindari yang satu ini. Tapi ada beberapa poin yang menurut gue reasonable dan gue ga keberatan bayar:

a) asuransi (perlu ga perlu, tapi buat jaga-jaga ga ada salahnya, daripada menyesal di belakang);
b) guarantee deposit (yang ini lebih murah dibanding guarantee deposit di asrama dengan fasilitas yang “lebih”, gimana gue ga setuju^^ Toh di akhir bakal dibalikin kalau gue ga melakukan bully terhadap apato dan barang. Yeay! );
c) jasa bersih-bersih sekalian desinfeksi (setelah bertahun-tahun gue belajar bedanya bersih-bersih dan desinfeksi, gue 99% setuju ini penting);
d) jasa agen (ya sudahlah, gue juga kerjanya di bidang jasa, dan kita sama-sama perlu makan, jadi gue bayar berhubung uang jasa cuma sepersekian harga sewa sebulan).

No Pic Hoax? Demi melindungi keamanan tempat gue berlabuh, gue ga akan mengunggah foto apapun tentang apato gue :D


アユ

1 comments :

usimautauaja said...

Target locked!
NEXT PARTY VENUE!

~~ 牛-yang-bukan-sapi-tapi-suka-minum-susu-sapi

Post a Comment