Thursday, December 25, 2014

Turning upside down in 2014

Enam hari menuju 2015. Tahun ga ngaruh sih, kalau mau “review” perjalanan hidup kapan aja bisa. Tapi, mumpung “pas” tahun 2014 ini banyak kejadian yang berdampak besar bagi gue, jadi gue berniat melalukan “review” alias tinjauan ulang alias mengingat kembali.
Jadi, apa saja kejadian-kejadian yang membuat hidup gue jungkir balik, diputer 180 derajat, terus diputer balik 180 derajat, terus diputer lagi 180 derajat, terus dibelokkin dikit 90 derajat, terus diputer lagi, sampai entah sekaranga ada di fase mana? ^^

  • Lulus ujian kompetensi dokter hewan. Baru-baru ini sadar setelah melihat kembali sertifikatnya yang tertulis “memiliki kewenangan medik veteriner berikut hak dan kewajiban dalam melaksanakan profesinya”. Berat euy isinya ^^ Di Jepang sendiri, ujian nasional semacam ini “segalanya” buat para dohe (dokter hewan) baru. Karena lulus ujian ini berarti “izin praktik di bidangnya masing2” yang otomatis bisa bekerja sesuai profesinya. Kalau ga lulus, harus menunggu satu tahun untuk ikut ujian ulang, dan selama itu ga bisa kerja apa-apa yang berkaitan dengan profesi dohe. Serem ya, setahun nganggur, apa kata dunia? >_<
  • Ikut ujian masuk program PhD di Gifu. Biarpun ini bagian dari pilihan “lanjut PhD”, tapi keputusan ambil program yang pakai embel-embel ujian masuk juga lumayan menantang. Setelah ngumpulin receh dari PP Bogor-Sudirman 5 hari seminggu, akhirnya gue pun terbang sendirian ke Tokyo dan lanjut nebeng bis ke Gifu. Kalau dipikir-pikir, itu pertama kalinya gue jalan sendiri ke luar negeri dengan status turis dan tiket pesawat murah meriah seadanya di musim dingin pula. Semuanya juga pesen sendiri, dari tiket pesawat sampai tiket bis, itinerary selama di Jepang juga dibikin sendiri, jalan-jalan sendiri, Cuma nginepnya ga sendiri, melainkan di mansion keluarga Indonesia yang super baik hati sejak dahulu kala. Alhamdulillah, aman sampai kembali ke tanah air biarpun sempat dihampirin badai salju terbesar dalam 20 tahun ^^;

  •  Berangkat sekolah tanpa beasiswa. Ini jadi semacam “first turning point” dalam hidup gue. Kenekatan gue berangkat (tentu dengan sejuta pertimbangan yang melibatkan satu quadroon keluarga, sahabat, dan kolega) membuat gue belajar puter otak cari nafkah sendiri, cari makan murah tapi tetap bergizi,  atur keuangan sendiri, atur komunikasi dengan orang-orang supaya bisa tetap bertahan hidup di negeri yang pajaknya baru saja naik 8% ini. Termasuk puter otak cari beasiswa.

  • Daftar dan resmi menjadi awardee LPDP. Turning point gue yang kedua. Dengan dukungan ibu pertiwi khatulistiwa semesta jagad raya, gue memperjuangkan beasiswa ini sampai akhirnya menjadi bagian dari keluarga LPDP. Sempat ada cerita, sudah berangkat ke Tokyo, lalu 1.5 bulan kemudian harus kembali lagi ke Tanah Air untuk menyelesaikan proses menjadi keluarga LPDP. Alhamdulillah, ada aja rezeki yang nempel buat perjalanan PP yang super heboh itu.

  • Setelah menjadi bagian dari keluarga LPDP, hidup tentunya berubah, dari yang putar otak cari makanan murah meriah namun bergizi menjadi putar otak cari makanan bergizi yang murah. Eh, sama aja ya? Ya, bisa dibayangkan, yang tadinya pendapatan per  bulan ga pasti, tergantung dari gaji (ehm) Teaching Asisstant dan sedikit sambilan olahraga otak sana sini, belanja sayur dan protein nabati muter2 ke supermarket murah, protein hewani yang paling maknyus cuma telur dan susu Hokkaido (teteup), sering-sering nongkrong di kampus (sekalian belajar juga kok, hehehe) supaya listrik di asrama bisa hemat.  Berubah jadi punya pendapatan bulanan tetap, teaching assistant teteup jalan, sambilan putar otak tambah banyak, dan rajin belanja demi menambah energi buat mikir dan ngurus farm. Lho, malah tambah banyak?  Lho, udah dapet beasiswa masih aja sambilan? Bukan… bukan… Sebenarnya teaching asisstant dan sambilan putar otak itu tetep lanjut karena “terlanjur” kontrak setahun dan sayang juga ilmunya kalau “dilepas”. Ilmu menyampaikan ilmu dalam bahasa asing (tsssaaaaah). Alhamdulillah bisa nambah-nambah buat seonggok tiket konser Arashi, (teuteup back to arashi). Dan gosipnya, tahun depan Alhamdulillah ditawari dosen pembimbing buat bantu penelitian beliau. Kalau lolos, bakal menyandang “status” baru: Research Asisstant. Sebenernya kerjaan begini, keuntunganya dobel, ikut publikasi penelitian bonus fulus (ga boleh dibalik ya, hihihihi).

  • Mengenal kembali sahabat-sahabat lama dan berkenalan dengan sahabat-sahabat baru lengkap dengan masalah-masalah hidup mereka. Ini agak sedikit berat, tapi tahun ini gue dipertemukan dengan beberapa sahabat lama yang membagi masalah besar dalam hidupnya ke gue. Mencoba menjadi pendengar yang baik, gue pun menyimak setiap keluhan mereka dan mencernanya tanpa protes. Lebih tepatnya gue ga tau harus nge-respon apa karena pengalaman gue Nol Besar dengan masalah-masalah mereka. Ini bisa dibilang pertama kalinya dalam hidup gue mendengar masalah-masalah yang gue anggap cuma “problematika yang bisa ditemui di layar kaca”, tapi ternyata ketika terjadi di dunia nyata, itu bukan “sekadar”. Yang pasti, gue belajar dari inti permasalahan mereka bahwa “anything could be happened in life”, sekalipun kita sudah berada pada “steady state” sekalipun, meskipun “tidak pernah ada masalah” tapi justru itu bisa “memicu masalah” kalau tidak berhati-hati. Apalah ini bahasanya kiasan semua. Pokoknya harus tetap berusaha dekat dengan Pencipta Alam Semesta ini yang Maha membolak-balik hati, yang mengubah nasib suatu kaum setelah kaum tersebut berusaha.

  • Tetap bertahan dengan kondisi yang sekarang walaupun aral melintang, badai konser di Dome (salah, itu badai yang lain alias grup badai :P), dan suhu dingin mendera. Aku tetap di Tokyo dan ga akan pergi kemana-mana kecuali ada konferensi ilmiah, konferensi grup badai, konferensi hidup, dan koneferensi-konferensi yang lainnya.


Last but not least, 2014 akan jadi salah satu dari sekian tahun yang dapet award sebagai “tahun dengan frekuensi jungkir balik paling banyak”. Entah tahun-tahun selanjutnya bakal ada jungkir balik lagi atau ga, apapun yang terjadi, anything could be happened in life so be prepared J

アユ
In the middle of designing the next research plan    


2 comments :

Halo Terong! said...

Kamu hebat! Aku juga pingin banget ke jepang, cuman karena baru punya anak, jadi ketunda dulu ke jepangnya... nanti bagi bagi tips yaaa :p

haloterong.blogspot

dulunya terongpink :D

laras rahayu said...

Halo Nahla!

Lama ga liat di duni blog, ternyata vakum ngurus baby ya? hehehe...
Nanti aku bagi ga cuma tips doank deh ;)

Post a Comment