Monday, December 8, 2014

Rekam Medik Hidup

Tahun 2014 sudah akan berakhir. Ya, tidak ada hubungannya dengan tahun juga sih, tapi dengan umur, hehehe. Jadi ceritanya si gue mau sadar diri, udah dikasih hidup selama lebih dari 25 tahun (lebih beberapa bulan menurut kalender masehi, dan lebih setahun menurut kalender hijriyah). Tua muda itu realtif, tergantung yang bikin gantungan, eh acuan. Semacam teori gerak relatif kalau dalam fisika (Alhamdulillah masih inget pelajaran fisik^^). Apapun itu, si gue mau sedikit merangkum apa-apa aja yang udah, dan apa-apa aja yang belum terlaksana. Yang pasti ibadah haji bareng mama belum terlaksana. Duh, jadi mellow deh kalo gini.

Oke, sekarang kita telaah dulu ala Rekam Medik. Maaf, agak berat bahasanya, maklum lagi bolak-balik tugas di Rumah Sakit terdekat :P

Signalement:
Nama : sebut saja Ayu
Usia: sekitar 25 tahun
Gender: Perempuan
Status: Single (keterangan lebih detil tidak tersedia untuk publik)
Pekerjaan: Part-time student, part-time cook, dan part-time lainnya.

Anamnese:
Pernah menulis peta hidup waktu masih pakai seragam putih biru, isinya rencana ikut pertukaran siswa AFS ke Jepang waktu SMA, kuliah S1 sastra Jepang di Jepang, lanjut S2, menikah (ehm) dengan pria Jepang muslim, punya anak, kerja jadi interpreter, naik haji bareng enyak babeh, hidup di Jepang sampai pensiun, terus pulang ke Tanah Air kerja social buat bangsa dan negara. Cihuy banget kan mimpi si gue jaman ABG? Lebih cihuy lagi karena si gue masih inget isinya sampe sekarang ^^;

Physical (reality) examination:
Jaman SMA ga jadi ikut AFS karena di tahun kedua SMA si gue udah dikeluarin dan disuruh kuliah. Kuliah S1 gak jadi ambil sastra Jepang, jadinya kedokteran hewan. Gara-gara SMA ga jadi ikut student exchange, pas kuliah jadinya ikutan pertukaran mahasiswa, biarpun ga ada yang mau dituker sama si gue. Untung tujuan negaranya tetep ke Jepang, Cuma tujuan prefecture yang tadinya mau ke Ishikawa (entah kenapa dulu gue pengen kesini), malah terdampar di Kelurahan Koganei, Ibu Kota Tokyo. Lulus S1 ga jadi ambil S2, malah muter-muter fakultas dan jalan-jalan keliling jawa barat, sampe terdampar (lagi) di Sapporo, Hokkaido.  Jadilah, 2 tahun setelah lulus S1, gue didandanin yang cantik sama mba model, pakai kebaya warna ungu, dan disumpahin alias ngucapin sumpah sehidup semati sebagai (ehm) dokter hewan. Berat euy kalau inget sumpah yang satu ini. Sudahlah. Lulus dari jenjang yang bukan S2 itu pun gue tetep belum (ehm) nikah, apalagi sama muslim Jepang (boro-boro lah, calon ga ada apalagi niat), si gue kembali terdampar di Ibu Kota Tokyo yang semakin bling-bling menjelang Olimpiade 2020 (cihuy!). Singkat cerita, sekarang si gue terpaksa (gara-gara gue memaksa juga sih) ga jadi S2 dan mungkin seumur hidup ga akan S2, tapi malah masuk program S3. S3 bro! Doktor!

Nah, mulai dari sini bagian paling galau. Lanjut! Sebagai mahasiswa yang masih (ehm) muda, pengalaman kerja seadanya, nulis thesis ga pernah, cuma pernah nulis skripsi sama setumpuk laporan koasistensi yang direvisi melebihi skripsi, si gue pun harus jungkir balik belajar gimana caranya: nulis jurnal buat publikasi Internasional (Oh no!) dan nulis disertasi (yang bahkan babeh gue aja masih in progress disertasinya^^; kumaha ieu~). Ditambah pengalaman ngasprak cuma seadanya, macam 3 jam muter-muter ruang praktikum, sambil liat mikroskop kalo ada yang nanya, kalo ga ya gosip sama mas-mas dosen (eh). Sekarang, yang namanya asprak disini kerjaannya hampir-hampir nyamain dosen muda di tanah air. (hebat ya? Kalau ga mau dibilang lieur, heuheuheu).

Sekolah mulu, kapan nikahnya? Eits, ini pertanyaan akhirnya muncul juga. Kalau mau dibikin selow, si gue sih selow-selow aja: Kalau ada yang ngajak dan cocok, cocok hati, cocok pikiran, cocok duit (eiiiits) ya lanjut. Kalau belum, ya usaha supaya ada. Hahahahaha. Kalau mau dibikin galau, ya lebih cepat lebih baik (aseeeeek). Kecenderungan dari jaman entah kapan sampai sekarang, pola kuliah-lulus-kerja bentar-nikah itu udah paling umum. Itungannya umur 25 itu “pas”nya di fase yang terakhir itu. Biarpun setengah dari populasi temen seangkatan gue melaksanakan kecenderungan umum, gue sampe sekarang tetep tergoda buat melaksanakan pola umum itu. Hahahaha. Kalau kata sesepuh, udah 25 taun lho, 3 taun lagi Doktor lho, udah ketinggian lho, entar kalo banyak yang mau (eh, bener kan ya banyak yang mau? aamiin) gimana? Anyway, pada akhirnya gue ga jadi nulis tentang kegalauan mahasiswa Doktor yang masih muda, single (no other detail available regarding this), dan belum ada yang ngelamar. Eaaaaa….
Diagnosa:
Sehat

Prognosa:
Fausta alias bisa move on

Treatment:
Tidak perlu treatment khusus

Tokyo, 8 Desember 2014


TTD
Ayu (ceritanya sebagai dokter hewan yang mencoba mendiagnosa diri sendiri biarpun ga termasuk sebagai spesies yang wajib didiagnosa).


3 comments :

Muhjah Fauziyyah said...

*melintascantik*

laras rahayu said...

*lambaikan tangan ke fans setia*

Muhjah Fauziyyah said...

*angkat3jari ala kwangsoo*

Post a Comment