Friday, December 12, 2014

Jatuh cinta pada Kopi

Si gue punya ayah dan ibu yang dulu adiksi terhadap kopi. Konon waktu jaman kuliah, kopi jadi teman bergadang ngerjain tugas, media ngobrol-ngobrol dengan teman sejawat, ataupun sekadar teman santai. Lulus kuliah, beliau berdua masih suka ngupi-ngupi (bahasa alaynya minum kopi alias ngopi :P), sampai punya anak dan anaknya SMA pun tiap pagi wajib ngupi supaya “segar” katanya. Si gue pun masih ingat kopi kapal api (bukan promosi) kesukaan beliau. Secangkir kopi plus gula jadi teman sarapan tiap pagi. Si gue sendiri waktu ngerti ga ngerti “apa sih enaknya kopi? Kopi hitam pula, pekat pula, secangkir pula, tiap pagi pula, kalau ga ngupi malah pusing”, dst dst...

Akhirnya pun suatu waktu, beliau berdua berhenti minum kopi karena alasan kesehatan. Sebenarnya ga cuma kopi, tapi ada makanan dan minuman lain yang akhirnya (istilahnya) “kata dokter ga boleh dikonsumsi lagi”. Dan saat itu si gue merasa sedikit senang karena akhirnya mamih papih (sok anak gedongan banget gue) berhenti ngupi.

Si gue pun sampai saat itu belum juga ngerti “why people love coffee” dan belum bisa minum kopi hitam (entah apa istilahnya) pake gula doang, apalagi ga pake gula. Kalaupun minum, pasti dicampur krim atau susu dan gula yang banyak. Ini mah bukan kopi kalau kata orang Italia, hehehe. Sampai si gue kuliah (ehm) S1, terus lanjut (ehm) koas pun, masih minum kopi-kopian alias susu campur kopi, gula campur kopi, mocca campur kopi, es batu campur kopi, dst dst.


Vienna coffee vs Cappucino a la cafe

Ketagihan si gue sama kopi dimulai pas semester kedua sekolah S-Teler (beneran bikin teler soalnya), dimana kerjaan numpuk, penelitian ambil sampel intervalnya ga kira-kira (10 menit sekali lah, 2 jam sekali lah, 6 jam sekali lah, dll), kehidupan Tokyo bagian desa yang bikin jam 1 pagi baru pulang nongkrong di Kota, sampai aroma kopi yang semerbak tiap hari di ruang mahasiswa yang bikin ngiler. Awalnya masih minum kopi-kopian, tapi belakangan ini si gue mulai sadar akan bahaya pemanis selain fruktosa (sebut saja aspartam, asesulfam, dkk) dari kopi-kopian instant dan mulai beralih ke kopi tubruk (ga tubruk juga sih) atau kopi hitam yang pasti komposisinya cuma biji kopi dihaluskan. Lalu diseduh dengan air panas, diseruput tanpa gula. Sedaaaappp. Alasan lain si gue berhenti minum kopi-kopian adalah ga bersahabatnya lambung gue sama yang namanya krim dkk. Entah kenapa minum kopi ber-krim malah bikin asam lambung galau, hahaha...


Cafe au latte instan edisi Rilakkuma


Kembali ke kebiasaan minum kopi. Jam biologis si gue minum kopi adalah: pagi menjelang siang, sekitar jam 10-11 (tapi ini masih jarang) dan yang wajib adalah antara jam 3-5 sore, saat ngantuk-ngantuknya dan perlu “energi” buat melanjutkan kerjaan (alesan). Setelah itu efeknya adalah, si gue masih terang benderang alias masih melek sampai tengah malam (emang biasanya juga tidur tengah malem sih). Anyway, menurut jurnal ilmiah yang gue baca (Am. J. Epidemiol. (2002) 156 (9):842-850), kopi sebagai salah satu sumber kafein berperan sebagai stimulant ringan dan mampu meningkatkan aktivitas sistem saraf pusat sehingga si peminum kopi punya kesigapan (alertness dan arousal) yang tinggi. Peneliti lain juga berhipotesis bahwa kafein dapat meningkatkan memori. Keren kan bahasanya? Hehehe…



The hits: Starbucks' Hot vs Cold Caramel Machiatto !

Apapun itu, sebagai warga negara penghasil kopi terenak di dunia (semoga hipotesis gue bener), gue mau melestarikan kopi demi mensejahterakan para petani kopi (asiiik).


Selamat ngupi... (Sluuurp)


アユ

0 comments :

Post a Comment