Wednesday, November 12, 2014

Hari Ayah



Hari ini konon adalah hari ayah di Indonesia. Terlepas dari "setiap hari adalah hari ayah" karena "kita harus mengingat orang tua kita setiap saat"; saya rasa tidak ada salahnya kita punya hari ayah. Sekadar mengingatkan kita, yang mungkin dengan kesibukan sehari-hari kita dan ayah sehingga jarang berkomunikasi, ataupun untuk membuat satu hari spesial dalam setahun untuk menghabiskan waktu berdua, (bertiga? berempat? tergantung jumlah anak si ayah kali ya) dengan ayah.

Saya sendiri saat ini tinggal terpisah ratusan ribu kilometer dengan sosok yang saya panggil bapak. Saya masih ingat ekspresi wajah dan tangan yang mencoba tegar saat melepas anak perempuan kesayangannya (lagi) ke negeri seberang. Saat pertama kali melangkahkan kaki ke negeri matahari terbit ini, 5 tahun lalu, entah saya yang kurang peka atau memang berbeda, saya tidak merasakan kebimbangan dalam ekspresi maupun gerak gerik bapak melepas saya di bandara. Namun, tahun ini saya merasa sangat sangat berbeda.

Mulai dari bulan Februari, saat saya pamit pergi selama seminggu untuk mengikuti ujian masuk program United Graduate School di Gifu, Jepang. Saat itu saya memang pergi sendiri, setelah 2 waktu sebelumnya saya pergi bersama teman. Namun, saat itu saya sudah merasakan bapak yang seolah enggan melepas anaknya. Kedua, saat saya akhirnya memutuskan berangkat ke Tokyo untuk kuliah Doktoral. Ketika itu status saya "mahasiswa tanpa beasiswa". Sangat wajar sekali bapak khawatir. Orang tua mana yang tidak khawatir dengan kondisi anaknya yang "nekat" berangkat tanpa status finansial yang stabil.
Ketiga, saat saya pergi (lagi) setelah pulang singkat untuk mengikuti seleksi beasiswa. Saat itu, kami ketinggalan bis damri terakhir ke bandara. Keputusan tercepat saat itu adalah naik taksi. Bapak dan mama mengambil keputusan yang menurut saya "cukup berani", yakni tidak ikut naik taksi sampai bandara bersama anak perempuan mereka. Alih-alih ikut naik taksi, mereka mempercayakan anaknya pada "partner" (bahasa awamnya pacar yang sudah kenal dan saling kenal antar 2 keluarga besar. Berat euy statusnya ^^;). Saya pun merasakan kembali ada perasaan "enggan" dan "berat" bagi bapak untuk melepas saya yang naif ini.

Hari ini, meskipun saya tidak menjadwalkan diri untuk menelepon bapak (saya berencana menelepon bapak saat ulang tahun mama, dua hari kedepan), saya bersyukur bisa mengetahui kabar bapak baik-baik saja dari adik saya di rumah. Rasanya di usia yang konon "sudah harus bisa bersipak dewasa" ini, saya semakin paham dan memikirkan baik-baik apa yang harus saya lakukan untuk menjaga komunikasi dengan bapak, membahagiakan bapak, dan sebisa mungkin mengerti perasaan bapak.

Saya masih ingat, terakhir kali mengobrol panjang lebar, bapak dengan semangatnya menceritakan penelitian beliau dengan bahasa yang saya mengerti dan menggunakan analogi-analogi yang sesuai dengan bidang saya. Sederhana, namun harus disyukuri. Tidak semua orang punya kesempatan bersama ayahnya sampai usia saya.

Terimakasih Bapak. Sehat-sehat selalu disana ya. Sampai berjumpa lagi di Tanah Air maupun di belahan bumi Allah lainnya.

Anakmu,
Ayu

0 comments :

Post a Comment