Monday, September 1, 2014

Catatan Obihiro - Hari Ketiga : Campus Tour and Barbeque Party!

Hari ketiga adalah hari yang ditunggu-tunggu setiap peserta, kelas ‘hanya’ sampai pukul 3 sore, kemudian dilanjutkan dengan jalan-jalan keliling kampus pertanian Obihiro yang sejauh mata memandang adalah ladang, sawah, pepohonan, rerumputan, dan aneka kandang. Bangunan-bangunan yang tidak terlalu tinggi (tidak lebih dari 5 lantai sepertinya) juga membuat mata lebih leluasa memandang hamparan ladang milik Sang Pencipta: Langit Biru dan Awan Putih Bersih.

Suasana Obihiro University yang adem


Dengan berjalan kaki, kami dipandu menuju tempat pertama, Rumah Potong Babi yang super higienis. Bahkan sebelum melakukan tur, kami diberi angket untuk memastikan : 1. tidak mengunjungi farm lain pada hari yang sama; 2. Tidak berpergian ke luar negeri dalam satu minggu terakhir; 3. Tidak memakai baju yang sama dengan baju yang dipakai di luar negeri dalam kurun waktu 4 bulan terakhir; 4. Sehat jasmani (rohani udah pasti lah ya). Rumah Potong tersebut didesain sebagai tempat belajar cara pengolahan yang baik dan benar: save from farm to table. Para mehasiswa setiap minggunya melakukan praktikum pengamatan cara pengolahan yang dilakukan khusus oleh para ahli berlisensi yang sengaja diundang oleh kampus. Jadi, mulai dari hewan masuk rumah potong sampai dengan diolah menjadi daging dan sosis, seluruhnya dilakukan oleh para ahli sehingga produk akhir dapat secara legal dijual ke seluruh penjuru negeri. Bagi yang ingin sekadar melihat pun, disediakan ruangan khusus dengan akses bebas ke ruangan-ruangan pemotongan sampai pengolahan. Sederhananya, setiap ruangan dirancang memiliki dinding kaca, dan di luar dinding kaca tersebut terdapat ruangan terpisah untuk melihat proses pengolahan tanpa harus masuk ke dalam ruang pengolahan. Jadi, untuk melihat proses pemotongan dan pengolahan, pengunjung tidak perlu repot tes kesehatan, mandi, mendesinfeksi diri, dan berganti baju dengan baju khusus. Cukup memastikan 4 hal yang sudah disebutkan di awal, berganti sepatu luar dengan slipper dalam ruangan, duduk manis dan nikmati prosesnya.

Rumah Potong Babi dan Pengolahan Daging
Spoiler: Ini rumah potong tempat pengambilan gambar pada film Silver Spoon (Gin no Saji)


Ruang Pemotongan


Mendengarkan penjelasan bilingual mengenai proses pengolahan daging babi



Tempat kedua yang kami kunjungi adalah kompleks perkandangan sapi perah yang super luas. Kompleks perkandangan sudah dilengkapi dengan ladang pengembalaan, gudang penyimpanan pakan, paddock “kecil”, tempat pengolahan kotoran, basecamp para pekerja, kandang-kandang individu yang dibagi sesuai usia sapi, serta tempat pemerahan susu. Sebelum masuk, kami harus memakai pakaian khusus overall serta boots yang didesinfeksi. Yang unik adalah, adanya sikat raksasa yang berputar otomatis jika disentuh oleh sapi. Fungsinya untuk menggaruk badan sapi. Jadi, para sapi bisa “menggaruk badannya sendiri” saat gatal. Satu lagi, seluruh proses pemeliharaan sampai pemerahan sapi dilakukan secara bergantian oleh para mahasiswa! Dengan demikian, para mahasiswa sudah tidak diragukan lagi kompetensinya setelah lulus dari universitas.   
Produk dari peternakan sapi tentunya adalah susu dan produk olahannya, keju dan es krim dengan merk milik universitas. Kami diberikan kesempatan mencicipi satu cup es krim susu gratis yang rasanya, jangan ditanya, enak!

Field Center alias Kompleks perkandangan sapi

Kostum yang wajib dipakai saat masuk ke kandang sapi


Barisan sapi penghasil susu

Garuk-garuk badan dulu ah....

Kandang pedet yang imut-imut 


Selesai menikmati es krim, kami pun menuju tempat barbeque, namun, tur tidak berhenti disini. Sepanjang perjalanan ke tempat barbeque, kami melewati perkandangan domba berbulu lebat seperti yang ada di fim shaun de sheep, kandang serta paddock sapi yang tidak digunakan untuk pemerahan susu, ladang sorgum dan aneka sayur mayur, serta kompleks stable kuda lengkap dengan paddock luas yang dijadikan tempat pengambilan gambar film Silver Spoon! Tanpa banyak bicara, setiap yang melewati stable pun langsung otomatis mengambil foto, termasuk saya, hehehehe. Saking bangganya kampus sebagai tempat syuting film kelas nasional, sebuah lapangan parkir dirancang khusus untuk para pengunjung yang ingin melihat area syuting. Hihihihi… Bahkan sebuah banner dipasang di perpustakaan kampus.

Konon disinilah Silver Spoon diambil gambarnya


Tertulis: Lokasi syuting Silver Spoon!


Tempat parkir khusus para pengunjung yang mau lihat tempat syuting


Kembali ke alur cerita, sepanjang perjalanan ke tempat barbeque, kami pun menemukan kompleks perumahan sederhana, seperti rumah tipe 21 di Indonesia dengan pekarangan rumah berumput, yang ternyata dulunya dipakai sebagai kompleks perumahan dosen. Bahkan bapak Dekan kami dulunya pernah tinggal di dalah satu rumah tersebut. Dan konon, rumah “paling besar” yang ada disana diperuntukkan bagi Kepala Rumah Sakit Hewan.

Ini yang konon dulunya perumdos alias perumahan dosen

Selain kompleks perumahan, kami pun melewati Pusat Penelitian Protoza dengan desain bangunan yang modis dan hiasan 3 deimensi protozoa berukuran besar terpampang tepat di lobi gedung.
Perjalanan pun berakhir di Kashiwa Plaza, semacam bangunan teritegrasi antara cafeteria, koperasi, ruang pertemuan himpunan mahasiswa, ruang baca dan belajar yang dilengkapi dengan komputer dan kursi-kursi cantik a la café. Tidak ketinggalan, halaman luas untuk barbeque! Untuk barbeque kali ini, kami dijamu oleh para cook alias tukang masak yang menyajikan berbagai hidangan, daging domba, sosis babi hasil Rumah Potong yang sebelumnya dikunjungi, cumi-cumi, kerang hotate yang lezat, serta sayur mayur produk pertanian kampus Obihiro.

Pusat Penelitian Protoza yang modis

Barbeque Party!

Hari ketiga diakhiri dengan insiden kecil di hotel hasil keteledoran saya sendiri: terpleset di kamar mandi dengan dagu terpantuk pinggiran bak mandi, alhasil cukup untuk 3 jahitan. Namun, dengan berbagai pertimbangan dokter jaga rumah sakit yang tidak dipercaya oleh para dokter hewan (beginilah kalau berada di lingkungan orang-orang medis), luka yang menembus batas terdalam subkutan dianggap “kurang dalam”, peralatan P3K yang dianggap lengkap serta sumbangan gel antibiotik dari salah satu sensei sudah dianggap cukup untuk self-treatment. Dengan kreatifitas dan keahlian para kolega dalam memberikan antiseptik, dan membebat luka, akhirnya luka berdiameter 2 cm dengan darah yang sempat mengucur deras itu pun bisa merapat menjadi 0.5 cm pada keesokan harinya, serta darah yang berangsur berhenti mengucur. Untunglah tidak jadi dijahit karena jujur, saya takut jahit menjahit! ^^   


0 comments :

Post a Comment