Sunday, August 31, 2014

Catatan Obihiro – Hari Pertama

Tanpa mengenal satu orang pun yang berangkat pada hari yang sama, si gue berangkat sendiri, seperti biasa, menggeret koper ke Bandara Haneda dengan rute naik-turun bis dan kereta yang bagi kebanyakan orang melelahkan, namun menyenangkan bagi saya. Kalau dibilang berani, tidak juga. Lebih cocok dibilang “terpaksa berani”, rasa takut saat itu tentu saja sangat besar. Maklum, pertama kalinya menghadiri acara resmi kampus di kampus lain (ya, beginilah United Graduate School) dengan tiket yang sudah dipesankan dan diatur jadwalnya oleh kampus. Tentu saja dosen pembimbing si gue datang, hanya saja beda hari. Si gue yang “blank” dengan tiket elektronik maskapai penerbangan nasional Jepang (yak, si gue naik JAL!), dan ga tahu gimana caranya dari bandara Obihiro ke kampus, biarpun katanya ada bis jemputan. Ya, gue ngebayangin Tokachi-Obihiro itu segede Haneda, hehehe...

Dengan bahasa Jepang yang nge-pas buat tanya sana sini, gue pun meluncur ke bandara dan langsung cari mbak-mbak JAL untuk membimbing check-in. Dengan sigap dan cekatan, mbak-mbak JAL pun menekan tombol pada mesin check-in otomatis dan berakhir dengan kesimpulan : “kursi sudah ditentukan, silakan masukkan barang yang mau desimpan di bagasi”. Reaksi gue pun “udah, gitu aja?” Gue bahkan ga inget nomor kursi gue dan ga ada tanda-tanda boarding pass bakal dirilis. Gue pun nurut aja dan menyerahkan koper gue sebagai barang bagasi. Sambil nunggu boarding yang masih sejam lebih, gue pun menikmati banner mas Jun dan mas Sho yang mentereng di counter JAL sambil lirik kanan-kiri siapa tahu ada orang Nokodai (kampus gue) yang mukanya gue kenal, sayangnya ga ada.

Gue pun iseng sambil penasaran nge-cek website JAL, siapa tahu bisa liat kursi gue nomer berapa dan end up dengan nomer kursi tidak tercantum! Hahahaha… akhirnya gue pun tanya sama mbak-mbak JAL (lagi!) dan ternyata nomer kursi bakal dirilis saat kita masuk security gate, 1 gate tepat sebelum boarding gate. Emang katrok deh gue. Dan sepanjang masuk security gate sampai mau ke boarding gate yang jaraknya 100 meter itu pun gue ga nemu orang-orang nokodai maupun orang-orang berhawa Gifu yang katanya berangkat bareng dari Haneda. Yang ada di pikiran gue saat itu, gimana nanti gue mendarat di Obihiro? Dimana gue mesti nunggu bis jemputan? Skenario terburuk adalah, gue woro-woro di bagian informasi bandara Obihiro dan mencari orang-orang Renjuu (United Graduate School) a la anak ilang.




Untungnya skenario anak ilang nan memalukan tidak terjadi. Di pesawat, akhirnya gue ketemu orang yang gue kenal! Akhirnya! Gue pun tiba-tiba bersyukur rajin ikut sensei praktek di Rumah Sakit, karena orang yang gue kanal itu mahasiswa pascasarjana yang kerjaannya tiap hari praktek di rumah sakit. Hahahaha…  Sebagai sesame mahasiswa, pertanyaan pertama yang diajukan oleh Mas Goya (anggap saja nama sebenarnya)  setelah “konnichiwa” adalah “yoru neremashitaka? (could you sleep last night) ?” Gue yang semalem ga bisa tidur gara-gara Godzilla di Roppongi pun ga langsung menjawab. Akhirnya Mas Goya pun mengaku ga bisa tidur karena latihan presentasi semalem suntuk sama pembimbingnya. Dan setelah penjelasan agak panjang itu, gue pun menjawab pertanyaan pertamanya dengan “Ya,, lumayan ga bisa tidur” supaya terlihat senasib, padahal beda kasus. Gue ga latihan sama sekali sejak H-2, dan H-1nya malah jalan-jalan keliling kota sama temen sampe berantem sama Godzila. Setelah curcol sedikit tentang presentasi yang harus kami lakukan, pesawat pun lepas landas dan 5 menit kemudian, kami pun tewas berjamaah (ya, sebelah gue ada penumpang yang entah siapa, pokonya satu baris bertiga) alias tidur siang. Setelah tidur siang ofensif yang cukup melelahkan (yak, kami bertiga ga ada yang bisa tidur sambil duduk kalem, jadi cukup capek tarik kepala saat kepala mulai jatoh ke samping kanan-kiri). Kekhawatiran abstrak gue yang kedua pun muncul, “jangan-jangan cuma gue yang barang bawaanya paling berat, 1 koper (kecil sih) plus tas tangan ukuran L, jangan-jangan cuma gue yang barangnya masuk bagasi”. Ternyata, temen seperjalanan gue ini bawa barang lebih banyak! Hah! Untungnya gue ga sendirian ngantri ambil koper, dan untungnya Tokachi-Obihiro itu Cuma sepersekian Haneda, turun pesawat à ambil barang à keluar langsung pintu keluar! Begitu keluar ambil bagasi pun kumpulan manusia Tokyo dan Gifu langsung terlihat. Kalau tahu begini, sendirian juga bisa, hehehehe…



Di dalam bis, tanpa gue sadari (gue baru tahu hari ke-3 lebih tepatnya) gue duduk di samping Bapak Dekan! Jadi ini yang tanda tangan di segala Letter of Acceptance, Enrollment, dll? Penampilan sangat sederhana dan cara bicara yang kalem rendah hati benar-benar bikin gue ga nyangka kalau gue lagi tukar pikiran dengan Dekan sebuah United Graduate School, yang berarti kepala sekolah empat kampus sekaligus!

Sesampainya di Hotel, seperti biasa check-in, briefing dll. Kami pun dibagi kamar, satu kamar berdua. Berhubung mahasiswi sangat terbatas jumlahnya alias Cuma empat orang, kami pun dibagi dalam dua kamar, satu kamar berisi mahasiswa asing dan Jepang. Gue sekamar sama Mba Izu (anggap saja nama asli) dari Gifu yang terlihat “kutu buku” tapi ternyata temen deket salah satu profesor Gifu yang super gaul. Gue juga sempet mikir Mbak Izu bakal cenderung ngobrol dalam bahasa Jepang, ternyata beliau malah diam-diam jago bahasa Inggris, bahkan pernah tinggal di Amerika untuk belajar bahasa Inggris. Tahu gitu, gue ga usah repot-repot cari kosakata bahasa Jepang yang gue ga tahu, langsung tabrak bahasa Inggris aja. Hahahaha...

Seperti biasa, orang Jepang doyan pesta. Di hari pertama udah ada pesat kecil-kecilan untuk penyambutan kami. Gue pun ngobrol dengan berbagai macam manusia Jepang, ya mahasiswa, ya profesor, ya staf. Gue juga sempat ngobrol singkat dengan mahasiswa asing yang ternyata jago-jago juga bahasa Jepangnya. Sayangnya, gue ga langsung hapal nama tiap-tiap orang, sedangkan mereka langsung hapal nama gue! Hahahahaha…


Hari pertama pun diakhiri dengan berendam sampe keriput di bathub sambil nunggu teman sekamar pulang dari pesta bagian kedua (yang mana gue ga mungkin ikut karena kumpul-kumpul di bar). Eh, abis berendam, masih ada sajian terakhir, Mas Sho membawakan berita malam. Hihihihi…

0 comments :

Post a Comment