Tuesday, July 1, 2014

Bersyukur

Baru saja 3 hari bulan Ramadhan berjalan, dan ini menjadi kali kedua saya puasa di negeri seberang, dengan status "minoritas", tanpa "potong jam kerja", tanpa "toleransi tidak makan di depan yang sedang berpuasa", dan dengan rezeki musim panas (masih musim hujan sih...) yang jumlah harinya cukup panjang. Di hari ke-3 ini udah banyak cerita dan pengalaman baru yang menampar diri untuk lebih bersyukur dan terus bersyukur apapun keadaannya. Hmmm,, kayaknya pernah ada temen yang posting tentang ini deh :)

Anyway, sejak hari pertama ramadhan, saya dihadapkan pada cerita seorang sahabat tentang hidupnya di setahun terakhir ini. Tidak, saya tidak akan cerita detil tentang cerita beliau. Intinya, beliau menyadarkan saya bahwa Allah Yang Maha Pembolak balik hati (sekali lagi) menunjukkan kekuasaanNya di hadapan saya melalui cerita hambaNya. Bagaimana seseorang yang begitu dekat dengan kita bisa saja suatu waktu dibalik hatinya, dipalingkan dari hidayahNya. naudzubillah min dzalik. Bagaimana kata-kata pepatah bahwa kehidupan bagaikan roda adalah benar adanya. Seseorang yang sudah memperoleh kebahagiaan hidup, kecukupan materi duniawi, dalam hitungan detik dibalikkan keadaanya, bagai, entah ditegur atau diuji oleh Yang Maha Kuasa. Bagaimana Yang Maha Agung mengembalikan hambaNya ke fithrah agamaNya melalui, entah musibah atau ujian yang besar dalam hidup. Innalillahi wa innailaihi raaji'un.

Saat mendengar cerita beliau, rasanya kondisi saya saat ini "tidak ada apa-apanya", tidak seberat beliau, dan sangat cemen, kata anak ABG jaman dulu, kalau saya mengeluh ini-itu dengan segala kemudahan yang saya peroleh saat ini. Astaghfirullah.

Kedua, saya harus harus harus bersyukur dengan kondisi puasa di musim panas (musim hujan sebenernya) yang panjang harinya hanya 16 jam 20 menit! Gara-gara program pengayaan suatu lembaga beasiswa beberapa waktu lalu, saya berkenalan dengan seorang teman yang berdomisili di belahan utara Eropa.  Meskipun sebelumnya sudah pernah mendengar bagaimana panjangnya hari di sana pada musim panas, namun baru kali ini saya merasakan sebuah empati terhadap masyarakat muslim yang berdomisili di belahan utara bumi tersebut. Sekali lagi, saya harus banyak bersyukur! Kondisi di Tokyo belum ada apa-apanya dibandingkan di kota-kota di Eropa Utara. Bahkan, saya saat ini masih diberi nikmat berkumpul dengan saudara-saudara muslim dan muslimah di tengah-tengah kesibukan kami menuntut ilmu di perantauan. Subhanallah, Nikmat Tuhanmu manalagikah yang kamu dustakan.

Last but not least, have a blessed Ramadhan month, everyone :)

アユ

0 comments :

Post a Comment