Thursday, June 26, 2014

Seniman vs Anjing

Beberapa waktu lalu (sampai sekarang sih…) sempat heboh mengenai tayangan (sebut saja YKS alias Yuk Keep Smile) salah satu televisi swasta Indonesia, sebut saja Trans TV, yang konon dianggap oleh masyarakat betawi dan pemerhati budaya sebagai “pelecehan terhadap Babeh Betawi Kite, Benyamin Sueb”. Dari tayangan yang di-upload ke sosial media, ada adegan dimana salah satu pemain YKS, sebut saja Caesar, dihipnotis supaya tidak takut anjing. Ia disugestikan jika melihat anjing, anggap saja sebagai (maaf) Benyamin Sueb. Sebelumnya, konon ada pula episode yang menayangkan hal serupa, hanya anjing diganti dengan ular, namun Benyamin Sueb-nya tetap sama-sama diibaratkan (atau disamakan?) sebagai (maaf) hewan. Tentunya banyak masyarakat yang geram soal ini, selain karena acaranya sendiri yang dianggap (correct me if I am wrong) tidak bermutu, ditambah lagi penyebutan seniman-budayawan-Bapak Betawi yang dianalogikan dengan hewan.

Beberapa waktu lalu bahkan JJ Rizal, seorang sejarahwan yang saya hormati, melontarkan petisi di salah satu media eletronik dan sudah ditandatangi oleh hampir 1000 orang, termasuk saya.
Saya menandatangi petisi bukan karena masalah hewan-hewanan yang diusut, tapi karena saya sendiri yakin acara tersebut sudah cukup sebagai tontonan yang tidak layak tonton. Sebenarnya, kalau kata Mas Alfito Deannova (correct me if I am wrong), gampang saja membuat sebuah acara TV bangkrut, matikan TV, tidak usah ditonton. Kalau tidak ada yang nonton, lama kelamaan akan turun juga ratingnya. Dan saya melakukan itu, mematikan TV, atau lebih tepatnya tidak ada siaran trans TV yang bisa saya akses sekarang ini, hehehehe.

Masalah hewan-hewanan, saya pribadi merasa prihatin. Dengan protesnya massa tentang benyamin yang dianalogikan sebagai entah ular, entah anjing, saya merasa ada “ketidak adilan terhadap hewan” (jiaaaah bahasanyaaaaa) disini. Dilihat dari sisi manapun, saya merasa bahwa baik ular maupun anjing dianggap (maaf) rendah dan kerap menjadi bahan candaan (kalau tidak mau disebut ejekan) di kalangan masyarakat di tanah air. Jujur, dulu saya sempat melakukan hal yang sama, membuat hewan sebagai bahan becandaan yang merendahkan. Tapi, setelah saya menekuni bidang saya sekarang ini (kedokteran hewan), saya menyadari bahwa hewan adalah ciptaan Tuhan, memang bukan ciptaan yang (paling) mulia seperti manusia, tapi hewan cukup mulia untuk dihargai, disayangi, dan mendapat perlakuan layak!

Saya meyakini bahwa hewan-hewan tersebut (tidak terbatas pada anjing dan ular) diciptakan Tuhan bukan tanpa alasan, bukan untuk dihina dina, tapi segala sesuatu yang diciptakan pasti ada manfaatnya. Tuhan Maha Tahu segalanya (note: ini bukan ceramah agama).  

Melihat tayangan YKS yang menjadikan anjing sebagai bahan celaan (saya tidak tahu istilah pasnya), dan juga protes-protes yang menyatakan keberatan seorang yang dihormati dan disegani bisa-bisanya disamakan dengan anjing; saya punya kesimpulan sendiri : 1. Memang sangat tidak pantas menyamakan (sengaja maupun tidak, serius maupun bercanda) seorang sesepuh, apalagi sudah almarhum, dengan seekor dua ekor hewan; 2. Anjing (dan ular serta hewan lainnya) masih dianggap oleh sebagian besar masyarakat (at least yang melek media elektronik) sebagai makhluk yang (maaf) tidak mulia.

Yang manapun, saya setuju penghentian tayangan YKS jika memang sudah menimbulkan banyak energi negatif di masyarakat Indonesia. Saya juga setuju jika nantinya ada petisi “stop menjadikan hewan sebagai bahan untuk mencela sesama manusia”. Ada yang sudah mulai dengan petisi ini? J
Last but not least, kalau saya disamakan dengan anjing saya tidak keberatan kok, asalkan disamakan dengan sifat loyal dan kecerdasannya :D

アユ

    

0 comments :

Post a Comment