Saturday, May 17, 2014

(un)randomly Japan

Sudah hampir 20 hari si gue yang nekat ini di Jepang, tepatnya di kelurahan Fuchu, Tokyo. Kadang-kadang masih ga "ngeh" kalau ini sudah di bukan di Tanah Air tercinta, tapi Alhamdulillah masih di Bumi Allah :) Kalau dipikir-pikir lagi, banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepala saya, hasil dari pertanyaan saya sendiri maupun dari denger-denger orang sekitar ^ ^ :

Kenapa sih nekat jauh-jauh dateng ke negeri orang?
Kenapa sih pilih universitas sama lab itu? Kan banyak universitas dan lab yang lebih elit, lebih terkenal, lebih tinggi rankingnya (entah ini ranking universitas di dunia siapa yang buat)? Kenapa pilih sensei yang itu sih? Udah tahu beliau masih belum "Full" Professor tahun ini?
Kenapa sih ga nunda aja berangkatnya sampe dapet beasiswa?
Kenapa ga daftar beasiswa dari awal?
Kenapa sih susah-susah sekolah tinggi?
Kenapa sih mesti Jepang? Kan ada Eropa, Australia, Amerika, atau Indonesia aja kenapa sih?
Kenapa ga langsung kerja part-time aja?
Kenapa nge-lab mulu sih?
dan kenapa kenapa yang lainnya......

Cukup jengah memang mendengar pertanyaan-pertanyaan tersebut berulang kali ditanyakan, apalagi yang nanya orang-orang yang (let's say) "tidak berada atau tidak pernah ada di posisi saya". Ya, katakanlah saya naif, keras kepala, dan super nekat. Barangkali tulisan ini juga hanya sebagai pembelaan diri terhadap kondisi sekarang.

Logika sederhananya adalah: terlalu nekat bagi seorang perempuan muda untuk merantau ke negeri seberang hanya dengan modal pas-pasan untuk sekolah tinggi yang ia sendiri belum jelas masa depannya. Padahal ia sadar kalau kondisi keuangannya saat ini tidak memungkinkan untuk bersekolah.

Tapi, kalau boleh saya buat versi saya:

Saya bisa saja memilih kampus lain yang reputasinya jauh lebih elit, lebih terkenal, dan ranking dunianya lebih tinggi (entah siapa yang buat ranking ini), tapi saya memilih kampus kecil yang teduh ini untuk belajar. Saya memilih lab dengan sensei yang sudah saya kenal lama dan saya merasa nyaman dengan beliau-beliau untuk tidak hanya berbagi ilmu, tetapi juga berbagi pengalaman hidup. Saya lebih memilih tempat yang membuat saya merasa "seperti di rumah, seperti keluarga".

Saya bisa saja memilih jalan lain, bekerja misalnya. Saya sadar saya tidak jelek-jelek amat untuk diterima di tempat bekerja yang bagus dengan gaji yang cukup "lebih" di Tanah Air tercinta. Tapi, saya tidak memilih itu sekarang. Saya memilih bekerja untuk sesuatu yang saya anggap "akan kelihatan manfaat besarnya paling tidak 5 tahun kedepan". Saya memilih apa yang disebut orang sebagai "hujan emas di negeri orang" meskipun hujan emas itu sakit, hujan batu juga sakit, paling enak hujan duit kertas, hehehehe...

Saya bisa saja langsung melobi, bernegosiasi dengan universitas dan sensei untuk dapat working permit ataupun nekat kerja sambilan sembunyi-sembunyi demi mendapat kucuran dana tambahan di sini. Tapi, saya tidak ingin terburu-buru melakukannya. Saya masih menikmati pekerjaan semi-sukarela dengan bayaran yang "pas" sebagai teaching assistant (bahasa kerennya asdos, asisten dosen) di kampus sambil belajar.

Saya bisa saja menolak untuk tidak berangkat pada Februari lalu saat pengumuman kelulusan ujian masuk dikirimkan. Tapi, saya menerima dan bersedia untuk berangkat.

Ada yang bilang, seumuran saya seharusnya mendahulukan menikah dulu baru sekolah ke luar negeri. Tapi, saya tidak memilih itu sekarang.

Dengan egoisme dan kesempitan pemikiran serta pergaulan saya, saya bisa bilang kalau yang mengerti keadaan saya (selain Allah tentunya) hanya segelintir orang saja yang memang dekat dengan saya dan/atau pernah berada di posisi saya. Tapi, saya tidak ingin berprasangka buruk terhadap orang yang menghantam saya dengan ribuan nasehat "supaya saya jangan sekolah di Jepang". Pemikiran positifnya, mereka peduli pada saya, hehehehe (Ge-er banget deh)...

Saya ingin membuat suatu gerakan dalam hidup saya yang saya putuskan sendiri, saya niatkan dengan sungguh-sungguh, dan saya usahakan dengan segenap kemampuan saya untuk bisa berhasil, dalam arti berhasil memperoleh hasil yang baik dan bermanfaat. Inilah keputusan saya, nekat berangkat ke Jepang untuk sekolah sebelum kepastian beasiswa di tangan.

Balik lagi ke 20 hari sudah si gue di Jepang ini... sedikit demi sedikit peluang baik sudah mulai terlihat di depan mata, Alhamdulillah si gue masih diberi perasaan tenang dalam menjalaninya. Alhamdulillah selalu ada pertolongan dari Allah melalui hamba-hambaNya di saat "hampir" putus asa dan hampir tersesat. Alhamdulillah si gue mulai bisa "mengungkap" (cieee bahasanya...) alasan kenapa si gue pas ditempatkan di lab dan universitas ini. Ada hal-hal yang bisa gue lakukan untuk membantu diri gue dan orang lain di sini. Alhamdulillah si gue dikelilingi teman-teman, rekan-rekan yang baik dan siap membantu.

Pokoknya, si gue tetap bersyukur apapun keadaannya, karena ini keputusan si gue sendiri, jadi si gue harus menanggung "akibatnya" dan ga boleh "mengeluh" selain sama Rabb. Mungkin ini klise, tapi gue yakin kalau Allah dan hamba-hambaNya akan melihat usaha kita dalam menjalankan sesuatu. Biarpun si gue masih kuraaaaaaaaang (a la mas darto) banget usahanya.

とにかく、全力で頑張ろうヽ(≧▽≦)ノ

Fuchu, May 2014
アユ

0 comments :

Post a Comment