Saturday, February 22, 2014

Graduate School Entrance Exam and The City (Part 2)

Ujian ketiga selesai 5 menit lebih cepat dari jadwal dan saya pun kembali ke ruang tunggu untuk membereskan berkas-berkas yang-rencananya-dipakai-untuk-belajar. Berhubung jadwal bis kembali ke Tokyo masih cukup lama, saya pun memutuskan menghangatkan diri sebentar di ruang tunggu sampai peserta terakhir mendapat giliran ujian lisan.  

Sekitar Pukul 3.00 saya pun memutuskan keluar dari ruang tunggu yang hangat dan berjalan-jalan melihat universitas Gifu dan kota Gifu tentunya. Awalnya saya ingin langsung naik bis kota ke stasiun, namun saya urungkan niat itu setelah melihat pemandangan alam yang membentang cantik di depan kampus. Jiwa “ga mau rugi” saya pun mendorong saya mengambil kamera saku dari tas dan mengambil setiap pemandangan yang menurut saya “menarik”. Sambil menahan dinginnya angin pegunungan, saya berjalan mengikuti insting saya sambil tak hentinya melihat kanan kiri menikmati pemandangan kota yang saya kunjungi kurang sari satu hari itu.

Sungai yang membentang tepat di depan kampus

Di kejauhan terlihat gunung di belakang kampus

Perumahan yang tidak terlalu padat dan sawah yang menghampar di depannya



Salah satu rumah (?) tua yang besar 

Seperti yang sudah saya bilang, Gifu adalah kota yang dikelilingi pegunungan dan dialiri sungai. Tak ketinggalan lahan pertanian (tidak hanya sawah padi saja) membentang dimana-mana. Sayangnya tidak ada tanaman yang bisa dilihat karena sedang musim dingin. Namun, saya berspekulasi sendiri bahwa saat musim semi tiba, pasti pemandangannya sangat cantik dan saat musim gugur, lahan pertanian akan penuh dengan berbagai buah-buahan ranum, sayur mayur segar, umbi-umbian yang bersembunyi di balik tanah, sampai padi menguning siap panen. Belum lagi melihat tumbuhan di pinggiran sungai yang berbunga saat musim semi dan berdaun hijau yang cantik bercermin pada aliran air tenang di bawahnya. Satu lagi, bangunan yang relatif tidak terlalu tinggi dan berjarak cukup lengang membuat saya bisa leluasa menikmati hamparan alam Gifu. Sayangnya ada beberapa gedung yang membuat indahnya Gifu agak terganggu, gedung Pachinko! Meskipun gedung Pachinko dikumpulkan di satu area, tetap saja agak menganggu karena lebih besar dan lebih tinggi dari rumah-rumah di sekitarnya. Meskipun demikian, saya sempat tertawa melihat gedung pachinko menjulang tinggi dan jumlahnya yang cukup banyak untuk kota seimut Gifu. Hehehe… Orang Jepang memang tidak bisa lepas dari Pachinko kayaknya.


Lelah berputar-putar, saya pun memutuskan untuk mengunjungi bangunan berbentuk mesjid yang secara beruntung saya temukan saat berkeliling kota. Mesjid yang berada di tengah-tengah hamparan sawah dan kebun itu terlihat sepi dan saya pun mencoba mencari pintu masuk. Setelah melihat tulisan “Islamic Center buka sampai Pukul 19.00” saya pun memberanikan diri membunyikan bel. Terdengar suara orang dari dalam berbicara bahasa Inggris dengan logat yang saya kurang familiar, lalu keluarlah dua orang pria, yang satu seperti keturuan Afrika, yang satu lagi seperti keturunan Timur Tengah dekat Eropa. Mereka yang melihat saya berjilbab tanpa ragu mengucap salam. Saya pun langsung mengutarakan bahwa saya mencari tempat untuk sholat (kebetulan waktu Maghrib sudah dekat dan jadwal bis saya masih 4 jam lagi). Dengan ramah mereka menunjukkan pintu masuk untuk akhwat dan saya disambut ramah oleh muslim lain di pintu tersebut.
Masjid Gifu di antara hamparan lahan pertanian
Alhamdulillah, saya bisa sedikit bersih-bersih di tempat wudhu dan sambil menunggu, saya melihat-lihat buku yang dipajang di lemari buku dekat tenpat sholat. Sepertinya muslim yang berada di Gifu berasal/berbicara salah satu dari 4 bahasa, Arab, Inggris, Jepang, dan Indonesia, karena buku-buku Islami yang disimpan menggunakan emoat bahasa tersebut. Masjid tersebut juga dilengkapi dengan wi-fi gratis lho. Alhamdulillah saya jadi bisa menghubungi kerabat di Tokyo untuk mengabari keadaan saya.

Setelah sholat maghrib, saya yang terlihat (dan memang) kedinginan di ruang sholat yang tidak berpemanas, bertemu dengan seorang Ibu muslimah Afrika yang ternyata suaminya adalah pengurus mesjid tersebut. Kami sempat mengobrol sedikit dan setuju kalau Gifu itu sangat dingin untuk ukuran kami yang kampung halamannya beriklim tropis.

Menjelang Pukul 7 petang, saya pun pamit dan menuju kampus untuk naik bis kota ke stasiun. Sebenarnya ada halte bis yang lebih dekat, tapi saya takut nyasar, jadi yang pasti-pasti aja. Menunggu bis di kampus. Perjalanan 30 menit dan bis yang hangat membuat saya sempat tertidur. Untungnya stasiun adalah terminal terakhir, jadi ga bakal nyasar, hehehe.

Stasiun Gifu. Akhirnya!
Sesampainya di stasiun, saya masih harus menunggu 1 jam lagi sebelum keberangkatan dan saya memutuskan nge-wifi sambil menghangatkan diri. Tepat Pukul 9.10 saya pun duduk manis di dalam bus, mengatur posisi dan melaju sampai Tokyo. Satu hal yang menarik, bis yang saya tumpangi beserta supir dan kondekturnya adalah bis dan orang sama dengan saat saya berangkat dari Tokyo ke Gifu dan saya kagum karena itu berarti mereka bekerja 2 malam berturut-turut melewati sejumlah propinsi bolak-balik Tokyo-Gifu!


Lega setelah ujian? Belum, masih banyak hal lain yang perlu dibenahi jika diterima maupun tidak diterima. Tonikaku, ganbarimasu J

アユ

0 comments :

Post a Comment