Saturday, January 11, 2014

Another Path to go back to Japan: Reasons

Sejak menyelesaikan program STEP TUAT tahun 2010 silam, banyak yang bertanya tentang apakah gue berminat kembali lagi ke Jepang, entah sekolah, bekerja, jalan-jalan, atau "sekadar" ikut suami masa depan? Tujuan terakhir sebenarnya adalah "opsi pasrah" menurut gue. Huehehehe.

Setelah galau tiga tahun, akhirnya gue pun memantapkan hati (cieee bahasanya...) untuk mencoba "masuk Jepang lagi". Kali ini untuk jangka waktu yang lama dan menyandang status Research Student, yang otomatis dengan KTP Resident Jepang. Kalau sekadar masuk kembali, 2 tahun lalu pun sempat magang singkat sekalian "pulang kampung" ke Koganei (salah satu distrik di Tokyo) tercinta. Baiklah, cerita pulang kampung sudah pernah dibahas
2 tahun lalu.

Lalu, apa yang gue lakukan setelah memantapkan hati? Yang pertama adalah menghubungi Profesor. Ini juga bikin galau, karena gue bingung mau menghubungi profesor tempat gue nge-lab dulu ketika program STEP-TUAT, atau profesor pembimbing magang 2 tahun lalu, atau profesor koordinator program STEP-TUAT terdahulu, atau nekat mania menjajaki hubungan ilmiah baru dengan profesor lain? Gue pun memilih pilihan "pengecut" dengan menghubungi Profesor tempat gue nge-lab 3 (atau 4?) tahun lalu. Pertimbangannya adalah: 1) Gue sudah berkorespondensi, bahkan mengunjungi beliau, sejak kembali dari Jepang tahun 2010; 2) Meskipun awalnya gue tidak terlalu suka dengan bidang ilmu beliau, tapi suasana Lab beliau membuat gue jadi suka dengan cara yang "luar biasa" menurut gue; 3) Gue cari aman, karena track record gue sudah lumayan bagus di Lab dan universitas tersebut; 4) Gue cinta kampung halaman kedua gue setelah Indonesia, yakni Koganei-Fuchu; 5) Ini alasan tambahan: gue masih pengen berkarya bareng Duta Melati dalam memperkenalkan dan mengajarkan bahasa dan budaya Indonesia di Jepang (mulia banget ga sih tujuan terakhir gue? Hehehehe).

Banyak yang tanya, "Ga kapok ke Jepang? Kenapa sih pilih Jepang? Yakin mau graduate school di Jepang? Berat Lho..." Well, sejujurnya gue masih penasaran untuk tinggal di Jepang lebih lama dari sebelumnya (bukan selamanya lho), gue masih penasaran apakah gue mampu hidup mandiri di negeri maju yang terkenal pekerja keras ini? Gue penasaran apakah tinggal di Jepang berarti ga bisa menikmati hidup?  Gue penasaran, ilmu apalagi yang belum "dicuri" dari Jepang oleh para pejuang ilmu Indonesia di sana. Gue masih penasaran apakah gue bisa ketemu Arashi? (Eh, yang satu ini bonus ^^).

Intinya, gue harus menjawab rasa penasaran gue dan "mencuri" ilmu sebanyak-banyaknya dari Jepang, membuat lebih banyak orang Jepang mencintai Indonesia, dan yang pasti diterima sebagai mahasiswa graduate school.

Cerita bersambung ke tahap selanjutnya...


アユ

0 comments :

Post a Comment