Saturday, January 11, 2014

Another Path to go back to Japan: Meet My Professor

Setelah memutuskan mau kemana dan mau dengan siapa, gue pun mengubungi Profesor Lab gue di Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT). Profesor yang gue hubungi via email awalnya adalah Prof. Kamomae, tidak lain adalah Kepala Lab Reproduksi Klinik Hewan Ternak Besar saat ini. Alhamdulillah, beliau menyambut baik, namun beliau melimpahkan komunikasi ke Prof. Tanaka, Associate Professor, sebab beliau akan pensiun Maret 2014. Prof. Tanaka sebagai Associate akan naik jabatan setelah profesor utama pensiun.

Segera setelah membaca email penolakan dan pelimpahan tugas tersebut, gue pun mengirimkan email ke Prof. Tanaka. Entah beruntung atau apa, sebelum gue sempat mengirim email, Prof. Tanaka sudah mengirimkan email lebih dulu; beliau bilang bahwa beliau sudah dengar cerita dari Prof. Kamomae tentang gue dan beliau dengan senang hati (!) akan menerima gue di Lab-nya. Beliau juga bilang bahwa langkah awal adalah mencari program yang tepat untuk gue sekolah di sana.

Gue yang ga pede ini sempat bilang kalau gue belum punya gambaran apa-apa soal penelitian. Gue bilang begini karena dari cerita-cerita yang gue denger melalui orang-orang berpengalaman, negosiasi dengan profesor adalah negosiasi penelitian, dengan kata lain kita diterima untuk masuk Lab-nya kalau rencana penelitian kita menarik dan sesuai dengan minat beliau. Dalam kasus gue, ternyata ga seperti itu. Tanpa perlu "Negosiasi Penelitian", Profesor gue sudah setuju dan bersedia menerima gue sebagai mahasiswa di Lab-nya. Beliau bahkan menanggapi pernyataan "saya belum punya gambaran apapun soal rencana penelitian" dengan "sulit untuk menentukan secara pasti rencana penelitian kamu sekarang, yang penting kita cari program graduate-nya dulu." Alhamdulillah.


Email berikutnya dari Prof. Tanaka adalah tawaran program graduate school yang tersedia di TUAT, yakni United Grauate School of Veterinary Sciences (UGSVS) yang berpusat di Gifu-shi, Central Japan. Ini adalah program gabungan 4 universitas yang memiliki Fakultas Kedokteran Hewan dalam menyelenggarakan graduate program selama 4 tahun (gelar yang diperoleh PhD) dengan keunggulan, mahasiswa bisa memperoleh bimbingan dan fasilitas penelitian dari keempat universitas anggota secara cuma-cuma ditambah lembaga riset external seperti National Health Center, Japan Race Association, Center for Zoonoses, dan sebagainya. Wow, tampak menarik dan berbeda dari "Graduate School" biasa.

Saya pun diminta membaca "application guidelines" untuk melihat apakah program ini sesuai untuk saya atau tidak. Sempat galau dan bingung juga membaca syarat dan ketentuan, sampai bolak balik konsultasi dengan Prof. Tanaka, para koordinator program STEP-TUAT, dan staf program UGSVS. Akhirnya saya dan Prof. Tanaka memutuskan untuk mendaftar program ini. Eh, Profesornya juga daftar? Tentu saja, karena gue adalah mahasiswa luar Jepang yang masih berdomisili di luar Jepang alias belum terdaftar dalam status "Resident", sehingga pendaftaran dilakukan melalui Prof. Tanaka. Nama dan alamat pengirim dalam amplop pendaftaran atas nama Prof. Tanaka dan Lab, pembayaran application fee pun dilakukan oleh Prof. Tanaka yang bersedia menyediakan dan mengurus semuanya sebagai "ganti" gue disana. Intinya gue berhutang application fee sih. Hehehe.

Menurut salah seorang kenalan gue yang sudah "sepuh" di Jepang, Profesor gue ga akan mau melakukan pendaftaran "atas nama gue" termasuk membayarakan application fee kalau gue "bukan siapa-siapa". Jadi, menurut analisa sesepuh tersebut, Profesor gue sudah "percaya" sama gue. Hubungan saling percaya ini konon di Jepang penting banget, salah satunya buat memperlancar birokrasi. Semacam KKN ya? Mungkin Indonesia salah satu negara paling korup, tapi Jepang adalah negara paling tinggi nepotisme-nya (in my own opinion)

Lanjut ke tahap-tahap mendaftar. Mari gue jabarkan runutan mendaftar sekolah pascasarjana ke Jepang menurut pengalaman gue sendiri (tahap-tahap bisa berbeda tergantung program, universitas, dan individu pendaftar):

1. Hubungi Profesor yang diingiinkan, yakni yang bidang penelitiannya sesuai minat, atau bidang penelitiannya kita ga minat-minat banget, tapi kita dikenalkan dengan beliau melalui perantara "mantan muridnya" atau melalui pertemuan ilmiah. Ingat, nepotisme itu penting (again, in my own opinion).

2. Diskusikan topik-topik menarik yang sesuai dengan bidang penelitian beliau. Bisa dimulai dari topik-topik sederhana, menceritakan keadaan di negara kita sesuai topik tersebut, lalu bertanya bagaimana kondisi di Jepang, sampai mengemukakan ide kita tentang suatu permasalahan yang masih belum terselesaikan secara ilmiah. Waktu itu gue sering membahas temuan-temuan gue mengenai  kasus reproduksi dan penanganannya di Indonesia. Lalu gue basa-basi busuk bertanya tentang prevalensi kasus yang sama di Jepang, bertanya penanganannya di Jepang.
 
3. Setelah si Propfesor tampaknya "klop" dengan kita, barulah ungkapkan kalau kita berkeinginan melanjutkan sekolah di tempatnya.

4. Kalau bisa, cari tahu dulu program pascasarjana yang ada di Universitas tujuan sebelum Profesor kita. Setiap jurusan kadang punya program masing-masing, cara pendaftaran masing-masing, syarat dan ketentuan masing-masing. Syarat dan ketentuan ini hendaknya dibaca dengan teliti, karena kita akan memasuki sistem pendidikan yang berbeda dari negara kita. Meskipun sama-sama S2, tapi sistem pendidikannya tetap saja berbeda.
Perhatikan juga apakah program tersebut sudah termasuk beasiswa atau belum serta ada ujian masuk atau tidak.

5. Setelah mendapat persetujuan dari Profesor untuk mendaftar program pascasarjana tertentu, siapkan dokumen-dokumen yang diperlukan sambil berkonsultasi dengan Profesor kita mengenai cara-cara mengisi dokumen, yang paling penting adalah diskusikan proposal penelitian kita (ini syarat yang selalu ada di setiap program pascasarjana). Cara paling umum membuat proposal penelitian adalah, kita buat sendiri sesuai minat kita (tapi tetap berhubungan dengan bidang ilmu si profesor), lalu minta saran perbaikan dari profesor. Selanjutnya ya seperti nge-draft skripsi. Hehehe...

6. Dokumen-dokumen yang sudah siap dikirim dengan EMS. Ini saran pribadi gue, karena EMS memberlakukan tarif paling murah dalam pengiriman ke luar negeri dengan reputasi yang cukup baik, fasilitas "tracking" yang update, serta lama pengiriman yang relatif singkat, untuk dokumen rata-rata memerlukan waktu 4 hari saja.


7. Berdoa diterima. Ini kalau tanpa ujian masuk (entrance examination). Tapi, jika kita harus mengikuti ujian masuk, perhatikan apakah ujian masuk dilakukan secara "fisik" di lembaga yang ditunjuk di Indonesia, secara online, atau secara "fisik" di universitas yang dituju langsung di Jepang. Paling "repot" adalah jika harus mengikuti ujian masuk di universitas tujuan. Setelah dokumen pendaftaran dikirim, kita masih harus mempersiapkan keberangkatan singkat kita ke Jepang untuk ujian. Standar sih, paspor, visa, surat undangan dari profesor, keterangan akomodasi selama di Jepang, tanda booking tiket, dsb. Tapi, cukup merepotkan.

8. Ikuti ujian masuk dengan tenang, kemudian banyak-banykalah berdoa semoga diterima dan mendapat beasiswa. Aamiin.

Saat ini saya baru mau melangkah ke tahap yang ke-7. Kalau boleh sedikit curhat sambil memberi saran, sebaiknya gantilah paspor anda dengan yang baru jika anda akan berpergian H-6 bulan masa berlaku paspor anda habis. Gue lagi berkutat sama yang satu ini. Pas gue pesen tiket, bagian ticketing mengingatkan gue untuk memastikan bahwa paspor gue masih berlaku di atas 6 bulan pas hari keberangkatan. Untuk kasus gue: paspor gue tersisa masa berlaku 6 bulan 11 hari saat tanggal keberangkatan. Nice. Intinya gue harus perpanjang paspor sebelum bikin visa dan waktu gue tersisa kurang dari satu bulan. Wish me luck >,<

Cerita bersambung ke tahap selanjutnya...

アユ

6 comments :

Indah Nurmawarti said...

Allahumma yassir wa la tuassir,,,
Semoga dilancarkan dan dimudahkan,,aamiin,,

laras rahayu said...

Aamiin. Makasih tante Indah :)
See you there ;)

mevlied nahla said...

KEREEENNNN aku juga mua sekolah di jepanggg... tapi buta harus ngapain.... dokumennya juga gak ngerti...

laras rahayu said...

Nahla... dokumennya ada versi bahasa Inggrisnya juga kok. Don't worry be happy, hehehehehe

dreamdee said...

Hai, Ayu. Kenalin namaku Vita. Aku dpt pencerahan stelah baca blogmu. Pengen tnya2 ttg s2 di jepang. Kalo tidak keberatan bisa minta alamat emailnya Ayu? よろしくお願いします。。

Vita

laras rahayu said...

Hai, Vita! maaf baru lihat2 lagi komennya. You can contact me by email larasati.prahayu [at] gmail [dot]com

Post a Comment