Thursday, December 19, 2013

Anti-Amerika, Anti-Jepang, Anti-Indonesia?

Sejujurnya saya malas membahas topik-topik yang nyerempet (atau bahkan sudah nabrak) SARA. Tapi sempat gregetan juga melihat tanggapan orang-orang di sekitar saya yang kerap membahas mengenai anti negara tertentu, ataupun masih punya anggapan (yang menurut saya konservatif) tentang bangsa tertentu adalah mantan dan masih menjadi penjajah Tanah Air tercinta Indonesia. Sebelum membahas lebih lanjut, saya mau "cari aman" dulu dengan menyatakan bahwa tulisan saya hanya semata-mata pendapat dan pikiran saya pribadi, bukan karya ilmiah yang bisa dipercaya kebenarannya 95% (tingkat kepercayaan di uji statistik biasanya 95% kan ya?).

Baiklah, kita mulai saja. Pertama, saya sempat heran dengan orang-orang yang dengan gencar menyatakan "anti-Amerika" ataupun anti negara maju lainnya, sebut saja Jepang, serta beberapa negara maju di Eropa. Bagaimanapun buruknya perilaku individu-individu di negara-negara tersebut, menurut saya tetap saja negara dan sejumlah individu di Tanah Air tercinta tidak bisa lepas dari negara-negara tersebut. Contoh konkretnya, coba sebutkan perusahaan-perusahaan besar di Indonesia, apakah anda tahu siapa pemilik sebagian besar sahamnya? Atau bagaimana status perusahaannya? PMDN atau PMA? Berapa banyak pegawai perusahaan-perusahaan tersebut yang berstatus WNI? 10 orang? 20 orang? 100 orang? 1000 orang? Yang pasti mereka akan banyak menyerap tenaga kerja dari dalam negeri. Bukan hanya alasan upah yang murah lho. Upah itu kan beravriasi tergantung "standar hidup" di masing-masing wilayah.Alasan perusahaan asing tetap mempekerjakan warga lokal adalah selain karena lebih mudah direkrut, juga akan lebih sesuai dalam menjalankan bisnis mereka di negara tersebut. Bayangkan kalau sebuah perusahaan komputer dari Eropa mempekerjakan hanya orang-orang Eropa saja. Pelanggan akan enggan membeli produk mereka karena mereka harus susah payah berbicara dalam bahasa asing dengan customer service dari perusahaan tersebut.

Kedua, saya sempat "gerah" dengan perkataan teman saya yang bilang "Ih, ngapain sih dengerin musik Jepang? Kan mereka penjajah". Sayangnya saat itu saya hanya diam saja dan tidak menanggapi. Padahal setelah dipikir-pikir, teman saya tersebut suka mendengarkan musik "kebarat-baratan" (which is not all of the singers are American, they could be European, even English, Dutch, name it!). Apakah dia sadar bahwa dia bisa saja dikatakan sebagai "terjajah" secara modern oleh musik-musik dari negara-negara luar, dan tidak menutup kemungkinan  juga dari negara mantan penjajah Tanah Air? Jadi, apa salahnya mendengarkan musik dari negara Jepang, Inggris, Amerika, Belanda?

Saya sendiri sadar bahwa negara-negara seperti Jepang, Belanda, dan Inggris pernah menjajah Tanah Air sekian tahun yang lalu. Akan tetapi, kondisi saat ini, Tanah Air kita tercinta ini (serta negara-negara lain juga) sudah menjalin hubungan diplomatik yang cukup "bersahabat", mengadakan sekian banyak kerjasama ekonomi, pendidikan, budaya, dan sebagainya. Bahkan saat ada bencana alam di suatu negara, negara lain akan membantu secara sukarela, terlepas dari kemungkinan adanya "niat politik" di dalamnya.

Hal lain yang menggelitik adalah, peralatan elektronik dan otomotif yang beredar di pasaran Indonesia. Coba sebutkan merk-merk yang kita kenal. Toyota, Daihatsu, Mitsubishi, Panasonic, Sony (Jepang), Hyundai, Samsung (Korea), Dell (Australia), Ford, Apple, Blackberry (Amerika Serikat). Angkutan dalam kota yang telah membantu kita sampai ke sekolah dan kantor, adalah produk merk Jepang. Alat komunikasi yang sedang "booming", Samsung, yang telah membantu kita dalam berkomunikasi dan mendapat informasi penting, adalah produk Korea. Atau gerbong-gerbong kereta yang setiap harinya mengangkut ratusan pencari nafkah keluarga, semuanya di-impor dari Jepang. Jadi, logika mudah dan radikalnya adalah, kalau mau anti negara-negara tersebut, kita harus berhenti memakai HP Samsung, berhenti naik angkot bermerk daihatsu, dan berhenti naik kereta ke kantor atau kampus. Mudah?

Sebagai seseorang yang sekian tahun sudah berkecimpung di dunia AFS (di Indonesia dikenal sebagai Bina Antarbudaya) sekaligus pernah mencicipi dunia "multikultur, multibangsa", saya merasa gerakan-gerakan "anti" negara tertentu dalam beberapa hal tidaklah "sesuai". Terkadang isu-isu politik yang dilontarkan para petinggi negara tidak sesuai dengan hubungan antar masyarakat bangsa-bangsa itu sendiri. Contohnya saja, saat tragedi 9 September, sempat ada oknum yang menyatakan tragedi tersebut adalah ulah teroris yang notabene muslim. Lalu, apakah teman-teman saya warga Indonesia yang muslim lantas memutuskan tali persahabatan dengan sahabatnya yang warga Amerika Serikat? Tidak. Apakah warga Amerika Serikat yang beristrikan warga Indonesia lantas menceraikan istrinya? Tidak. Apakah tragedi tersebut menutup jalan bagi organisasi seperti AFS untuk mempertemukan pemuda-pemuda untuk bertukar budaya? Tidak.

Di sisi lain, dengan adanya "cap" Belanda dan "Jepang" sebagai "mantan penjajah", apakah masyarakat dari kedua negara menjadi enggan untuk mempelajari bahasa dan budaya satu sama lain? Tidak. Apakah orang-orang Jepang dan Belanda menjadi sombong jika bertemu orang Indonesia? Tidak. Yang saya lihat malah, banyak masyarakat dari ketiga negara tersebut malah mengaggumi satu sama lain. Lihat saja di sekitar kita, banyak orang Indonesia yang menikmati kesenian Jepang, dan sebaliknya, banyak sekali orang Jepang yang tertarik melestarikan budaya Indonesia. Nah lho?

Salah satu fakta menarik yang saya temukan dari pernyataan wakil presiden kita, terlepas dari adanya pesan politik, saya percaya bahwa " di Indonesia ada sekitar 11.000 orang Jepang, dan sebaliknya ada sekitar 30.000 orang Indonesia ada di Jepang. Terdapat sekitar 1.200 perusahaan Jepang di Indonesia yang mempekerjakan 300.000 orang tenaga lokal. Selain itu ada sekitar 3.000 mahasiswa Indonesia di Jepang". 

Jadi, kalau mau mengatakan anti-Jepang, pikir-pikir dulu deh. Ada berapa orang yang akan menderita karena kehilangan pekerjaannya? Berapa banyak keluarga yang kelaparan, dan berapa banyak mahasiswa yang gagal mendapat ilmu akibat gerakan anti-Jepang. Saya tidak tahu tentang statistik Amerika Serikat, tapi saya yakin hal yang sama akan terjadi jika kita terlalu "berlebihan" dalam melakukan gerakan "anti-negara". 

Akhir kata, saya hanya ingin mengatakan, tidak ada yang salah dengan gerakan "anti" selama itu tidak berlebihan. Gerakan "anti" untuk mendorong produksi dalam negeri atau mendorong masyarakat berinovasi dengan sumber daya dalam negeri itu baik. Tapi, kalau sampai mau memboikot produk-produk ataupun lembaga-lembaga yang sudah berjasa dalam mempermudah kehidupan sehari-hari, bahkan menyediakan lapangan pekerjaan, saya rasa terlalu berlebihan.


2 comments :

mevlied nahla said...

Bener banget! mungkin kasusku beda, tapi aku sering juga dibilang "sok oke" kalo lagi dengerin musik klasik. Menurutku anti dalam suatu bangsa karena alasan penjajahan itu kurang modern hahahaha!

Yaomi Ya-chan said...

Nah, setuju sama postingan ini :)

Post a Comment