Wednesday, July 24, 2013

Sekilas pengalaman

Beberapa waktu lalu saya sempat "kepo"-in laman media sosial salah seorang dosen saya. Singkatnya, beliau posting mengenai sebuah riset yg menghasilkan generasi baru dari sel ovum seekor hewan dan sedikit menyinggung tentang kemungkinan riset-riset seperti ini bisa menjawab pertanyaan rekan-rekan yang kerap mempertanyakan kebenaran nabi Isa yang lahir hanya dari seorang Ibu. Hal ini sampai menimbulkan perdebatan panjang antar sesama anggota grup sampai akhirnya ditengahi oleh admin.

Bukan. Saya bukan akan membahas agama. Saya tidak akan membahas sah atau tidaknya, atau halal haram perkara-perkara seperti di atas. Saya hanya sedikit tergelitik mengenai pernyataan dosen saya yang sempat menyinggung "apakah saudara akan terima kalau orang di luar agama kita mengatakan kalau Siti Maryam itu berzina atau nabi Musa membelah laut itu rekayasa?" Maksud dari pernyataan ini tentunya bagaimana kita sebagai muslim (dan muslimah) bisa menjelaskan dengan baik dan dapat diterima logika jika ada rekan kita yg berbeda keyakinan mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan mengenai agama kita.

Konkritnya begini, saya pernah mengalami berada di suatu komunitas yang semua anggotanya bisa dikatakan (maaf) tidak meyakini satu agama-pun. Salah seorang rekan saya saat itu bertanya "mengapa orang Islam dilarang makan babi?"

Saya awalnya menjawab, "karena babi itu kotor, memakan segala, sering berendam di lumpur, dsb" Lalu, apakah rekan saya menerima begitu saja jawaban saya? TIDAK.

Dia berpendapat bahwa sekarang ini pemeliharaan babi sudah lebih baik dan bersih. Tidak ada lagi babi makan sampah dapur, tidak lagi berguling-guling di lumpur, dsb. Ya, hal ini masuk akal. Di peternakan babi modern, pemeliharaan sudah sangat baik, bersih, dan sejahtera.

Saya pun sempat ingin melontarkan argumen lain bahwa "cacing hati pada babi bisa ditularkan ke manusia". Tapi saya urungkan niat ini karena waktu itu saya berpikir bahwa secara ilmiah "cacing dewasa tidak bisa ditularkan dari hewan ke manusia dan akan mati pada saat dimasak".

Saya pun memutar otak dan melemparkan argumen "babi adalah reservoir berbagai penyakit, dan penyakit tersebut bisa menular ke manusia". Lalu apa teman saya menerima jawaban saya? TIDAK. Di negara maju dengan pemeliharaan yang diawasi oleh dokter hewan serta penanganan karkas yang tepat (misal dengan pelayuan dan pembekuan), penyakit-penyakit yang dapat zoonosis dan foodborne disease tentu dapat dicegah sebelum sampai ke meja makan kita.

Saya pun melontarkan argumen lainnya "sebuah penelitian pernah menyebutkan bahwa DNA babi lebih dari 90% mirip atau serupa dengan DNA manusia. Sehingga makan babi seperti kanibal dan dapat membahayakan manusia". Apakah rekan saya akhirnya menerima jawaban saya? TIDAK. Ia kembali bertanya "apakah saat kitab orang Islam (Al-Qur'an) diturunkan, sudah ada riset tentang itu? Bukankah itu riset-riset pada zaman modern sekarang? apa dalam kitab yang diturunkan ratusan atau ribuan tahun lalu itu disebutkan? Kalau iya, kenapa baru tahu sekarang?"

Saya sempat berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari rekan saya itu. Akhirnya saya pun mengatakan bahwa "memang dalam Al-Qur'an tidak disebutkan alasan-alasan tidak boleh makan babi seperti yang saya sebutkan sebelumnya, pokoknya dulu hanya 'dilarang', namun kami berusaha mencari penjelasan ilmiah mengenai ini dan inilah yang kami dapat"

Apakah rekan saya puas dengan jawaban saya? Entahlah, yang pasti ia berhenti bertanya setelah argumen saya yang terakhir dan kami pun melanjutkan obrolan dengan topik lain yang tidak menyangkut agama :)

Jadi, disini saya hanya ingin berbagi pengalaman bahwa kita sebagai muslim memang wajib percaya dengan mukjizat, kebesaran, dan segala yang diciptakan Allah SWT. Namun, tidak ada salahnya kita terus belajar, menimba ilmu, dan mencoba mencari penjelasan ilmiah mengenai ciptaan-ciptaan Allah SWT. Bukan untuk melampaui ciptaanNya, bukan untuk menyombongkan diri, bukan pula untuk mengingkari. Tapi untuk lebih mensyukuri.

Terakhir, berdasarkan pengalaman saya, bukti-bukti ilmiah yang logis sangat perlu kita pelajari 'in case' kita berhadapan dengan rekan beda keyakinan yang sangat kritis yang ingin tahu lebih lanjut tentang agama kita. Nggak mau kan kalau kita dianggap "aneh banget, masa' begitu dilarang begini dilarang". allahu alam bi showab



アユ

1 comments :

Danang D. Cahyadi said...

Menarik. Kita meyakini apa yg menjadi tuntunan agama kita, memang harus didukung dengan mempelajari semua dibalik hal tsb. Di babi, beberapa parasit seperti cacing, dapat menginfeksi manusia jg, terutama dari jenis Taenia solium, baik fase dewasa (T.solium) maupun fase metacestodanya (cysticercus cellulocae), dapat bersifat zoonosis; disamping banyak alasan lainnya.

Post a Comment