Friday, May 10, 2013

Mengapa banyak yang enggan menikah?


Seperti itulah mungkin yang ada di kepala generasi muda di negara berkembang terhadap generasi muda di negara maju. Memang tidak semua demikian, namun bisa dilihat trend “enggan” menikah di antara mayoritas generasi muda (20-35 tahun) di belahan negara maju di dunia, sebut saja Perancis dan Jepang. Alasan mereka enggan menikah tentu bermacam-macam. Namun hal ini juga tidak lepas dari teori yang pernah saya dengar dari beberapa warga negara-negara maju tersebut. Bagi mereka, kemajuan ekonomi berdampak pada semakin menigkatnya persaingan di dunia kerja, kesempatan semakin besar bagi kaum wanita untuk menduduki posisi yang tinggi di sebuah organisasi, serta tuntutan bagi setiap individu untuk selalu bersikap mandiri menjadi latar belakang mereka memilih “tidak menikah sama sekali” atau “tidak menikah di usia muda (20-35 tahun).

Seorang teman yang sedang berada di Jepang pernah berbagi ceritanya bahwa sebagian besar generasi muda memilih tidak menikah karena alasan: menikah memerlukan tanggung jawab yang besar, mengurus rumah tangga, mengurus anak, dan bagi wanita akan sulit membagi waktu antara mengurus rumah dan anak dengan pekerjaannya di luar. Well, saya ga menyalahkan alasan mereka dan tidak pula lantas menganggap mereka “tidak berani” bertanggung jawab. Sebelum membahas lebih lanjut, disini saya tidak akan membahas gaya hidup “sex bebas” mereka. Bukan itu inti dari bahasan ini. Karena sebagian besar toh akan pada akhirnya pasangan yang punya anak sebelum menikah akan menikah dan bertanggungjawab atas anak-anak mereka.

Ok, lanjut lagi ke masalah “mengapa enggan menikah?”. Sejauh yang pernah saya alami, kehidupan dan bertahan hidup di negara maju memang sulit. Kemandirian. Inilah yang saya soroti sebagai salah satu alasan utama mereka enggan menikah dan punya anak (atau sebaliknya^^). Saya melihat dan mendengar sendiri bagaimana seorang anak di Jepang dan Amerika Serikat diajarkan untuk mengurus mereka sejak balita. Di Jepang, sejak usia 10-12 bulan, anak diajarkan untuk makan sendiri sampai akhirnya sekita usia 1,5-2 tahun, mereka bisa makan sendiri dengan cukup “rapi” menggunakan sendok/garpu/sumpit. Di Amerika Serikat, anak-anak sudah bisa memakai baju sendiri sejak usia 3 tahun. Sekolah SD di Jepang, anak-anak bergotong royong membersihkan ruangan kelas dan sekolah mereka sejak hari pertama masuk sekolah. Berangkat sekolah pun sendiri tanpa diantar oaring tua, dan hal ini pelan-pelan diajarkan sampai kelas 5SD mereka bisa pulang-pergi ke sekolah sendiri. Remaja berusia 18 tahun pada umumnya melanjutkan kuliah merantau ke luar kampung halaman dan tinggal sendiri. 

Lalu bagaimana dengan pekerjaan di rumah/rumah tangga? Asisten rumah tangga (kalau tidak mau disebut pembantu) bukan hal yang mudah untuk dicari. Sempitnya kesenjangan ekonomi membuat hampir tidak ada gap antara miskin dan kaya, yang ada adalah golongan “menengah” dan “atas” sehingga tidak ada yang bekerja sebagai asisten rumah tangga. Kalauoun ada, hanya orang-orang tajir melintir alias kaya raya lah yang mampu menyewa seorang asisten rumah tangga. Alasan lain mengapa asisten rumah tangga tidak umum adalah sulitnya syarat sewa. Memiliki seorang asisten di rumah mewajibkan tuan rumah untuk menjamin (kalau tidak mau disebut membayar) asuransi kesehatan, asuransi tenaga kerja (semacam jamsostek), asuransi jiwa, memastikan asisten mendapat tempat dan makanan yang layak di rumah, serta memperoleh upah sesuai UMR. Jadi, hak dan kewajiban asisten rumah tangga dianggap sama dengan karyawan kantoran. Dan tuan rumah adalah “direktur” yang wajib memenuhi hak asisten rumah tangganya sebagai karyawan. Bagaimana? Masih mau merekrut asisten rumah tangga di negara maju?

Sulitnya memperoleh asisten rumah tangga membuat para wanita karir (atau yang akan berkarir) berpikir puluhan kali untuk memiliki anak. Lalu bagaimana dengan pengasuhan anak oleh orang tua atau mertua? Seperti yang sudah saya sebutkan tentang kemandirian seseorang, bukan adatnya untuk tinggal di rumah mertua/orang tua setelah menikah (jangankan seteleh, belum menikah tapi sudah dewasa saja tinggal pisah dengan orang tua), apalagi membuat mereka membantu mengasuh cucu-cucunya. Seorang guru Jepang saya bilang bahwa ia meminta anaknya untuk hidup mandiri terpisah dari dirinya setelah kuliah. Sementara itu teman saya yang asli Perancis memilih untuk tinggal di apartemen alih alih tinggal di rumah bersama orangtuanya sejak masuk kuliah, meskipun kampus dengan rumah orangtuanya masih satu kota.

Lalu, bagaimana dengan membiarkan anak di rumah sendirian setelah ia mulai sekolah? Kan sejak kecil sudah mandiri. Tidak demikian solusinya. Anak memang diajarkan pulang pergi sendiri, tapi tidak semata-mata “dilepas” begitu saja. Ada aturan bahwa anak-anak dilarang berada di rumah sendiri di luar pengawasan orang dewasa (orang tua), anak-anak dengan usia tertentu pun dilarang naik kendaraan umum sendirian. Peraturan ini tentu saja bagian dari perlindungan anak.

Bagaimana dengan wanita karir yang punya anak? Salah satu solusi adalah menitipkan anak-anak mereka di tempat penitipan anak. Namun menitipkan anak pun tidak mudah. Banyak syarat yang harus dipenuhi. Sebagian kecil di antaranya adalah orang tua boleh menitipkan anaknya asalkan jadwal bekerja kedua orang tua di luar rumah di atas 6 jam/sehari dan ada jam maksimal anak boleh dititipkan di hoikuen (tempat penitipan anak), dan masih banyak lagi syarat yang lain.  

Lalu bagaimana dengan faktor lain yakni persaingan di dunia kerja? Tentu sangat keras dan ketat. Kemajuan ekonomi sekaligus menaikkan standar hidup,dengan demikian setiap individu harus siap bekerja lebih keras dalam bertahan hidup. Ibaratnya, bertahan hidup sendiri saja sulit, bagaiman jika harus menanggung hidup orang lain?

Pada akhirnya memang hanya ada satu solusi klasik, “kembali pada diri sendiri”. Namun sayapun mencoba mengerti kondisi dan lingkungan yang berbeda antara Tanah Air saya tercinta dengan negara seberang yang saya segani.  Tidak ada yang salah dengan pilihan setiap orang asalkan pilihan itu tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Lalu bagaimana dengan kekurangan generasi muda di banyak negara maju? Nanti kita pikirkan lagi di post berikutnya ya J

アユ

2 comments :

Danang D. Cahyadi said...

Menarik, pola pikir yang berbeda...bukan soal pilihan untuk tidak menikah atau tidak menikah muda, tp soal memandang Asisten Rumah Tangga sebagai individu seperti karyawan sebagaimana mestinya, dan tentu mereka bekerja secara profesional. Kalo di negara Indonesia, PRT belum mendapat penghargaan yg layak...paling bagusnya mgkin 'mereka' bekerja dengan rasa kekeluargaan, sama sprti pencitraan yang muncul antara "non" dan "mbok" atau "bibi", kayak di FTV2...haha
paling menderitanya, PRT yang dikerjarodikan, disiksa, dilecehkan, dan lain2....

larasrahayu said...

betul itu om Danang, waktu ngobrol sama slh seorang kenalan ibu rumah tangga, beliau takjub nyari PRT gampang banget di Indonesia, bahkan keluarga dengan level ekonomi menengah pun bisa punya PRT, kalo di Jepang yang level ekonomi menengah mana sanggup bayar gajinya ><

ngomong2 soal FTV, kayaknya harus diajarin nih yg bikin pelm, biar pencitraan PRT bis dibagusin dikit dan ga lebay, hahaha

Post a Comment