Monday, February 13, 2012

Priority Seat - Tempat duduk Prioritas

Sudah sekitar 3 bulan terakhir ini saya jadi konsumen kereta listrik alias KRL jakarta-bogor atau lebih tepatnya bogor-sudirman pp. Salah satu hal yang saya temui pertama kali naik kereta adalah adanya "priority seat" atau "kursi prioritas". Saya sendiri juga ga tahu sejak kapan KRL Indonesia atau lebih tepatnya KRL Jabotabek punya kursi khusus ini. Maklum, saya jarang naik kereta sebelumnya dan cukup gaptek dengan kereta2an.

Tapi, sejak pulang dari negeri seberang dan seringnya naik kereta-keretaan (eh kereta beneran denk), saya juga jadi "ngeh" sama apa aja yang ada di kereta. Maklum, sebagai warga asing, saya kudu "liat kanan kiri" biar ga ngelanggar peraturan di negeri yang terkenal tertib banget itu.


Balik lagi ke topik, "priority seat" atau kursi prioritas, atau dalam bahasa Jepangnya Yuusenseki.
Seperti yang mungkin sudah diketahui para pengguna kereta, kursi ini terletak di setiap ujung dari sebuah gerbong dan berkapasitas sekitar 3-4 orang di masing2 sisi kereta. Kursi ini diutamakan untuk diduduki oleh

1. Penyandang cacat atau orang yang cedera seperti patah tulang kaki
2. Ibu Hamil
3. Orang yang membawa anak kecil
4. Lansia




Label "Kursi Prioritas" di Jepang


Label Kursi Prioritas di Indonesia


Tentu saja keempat kategori tersebut ga harus duduk di kursi prioritas, tapi harus mendapatkan prioritas untuk duduk dimana pun mereka berada di kereta. Namun, kecenderungannya, mereka akan menuju ke sana atau petugas KRL akan mengarahkan mereka ke tempat prioritas ini.

Di Jepang, keempat kategori di atas cenderung "mengincar" tempat duduk prioritas sebelum masuk kereta. Maksudnya, mereka akan bersiap mengantri di depan pintu yang dekat dengan kursi prioritas. Tentu saja hal ini sulit dilakukan di Indonesia, karena di peron di Indonesia ga ada penanda "posisi" pintu kereta. Selain itu, kereta juga tidak selalu berhenti pada "batas" yang pas.


 Letak kursi prioritas yang biasanya ada di ujung setiap gerbong

Di Indonesia, kategori yang banyak duduk di kursi ini (menurut pengamatan saya) adalah ibu hamil, orang membawa anak, dan ibu-ibu yang mendekati lansia tapi belum lansia.

Sedangkan di Jepang, kategori yang banyak duduk di kursi ini adalah : Lansia.  Nah lho? Kok bias beda? Ya, tentu beda, mengingat jumlah orang muda di Indonesia lebih banyak daripada yang tua (lansia maksudnya). Hal terbalik dengan di Jepang :)

Tapi, ada satu hal yang membuat saya salut, pernah suatu ketika saya sedang naik kereta di Tokyo. Pas berhenti di sebuah stasiun, ada sekelompok (sekitar 10 orang) manula yang masuk sambil beberapa membawa tas ransel dan berpakaian kemeja, celana lapang, serta jaket yang diikat di pinggang, tak lupa topi anti-panas. Kebetulan saat itu, kursi prioritas sudah penuh setengahnya oleh ibu hamil dan orang yang cedera kaki. Jadi, hanya 4 orang lansia yang kebagian duduk. Saat itu, beberapa orang yang duduk di kursi sebelah kursi prioritas langsung berdiri dan memberikan kursi untuk para lansia, namun apa yang terjadi? Para lansia menolak duduk dan memilih berdiri saja di depan teman2 mereka yang duduk di kursi prioritas agar bisa mengobrol. Seingat saya, mereka sanggup berdiri sampai hampir sasiun terakhir dan berdiri dengan "kokoh". Dari canda tawa mereka pun, terlihat tidak ada rasa keberatan untuk berdiri dan ternyata, dari hasil "nguping", mereka baru saja pulang mendaki Gunung! Yak, mendaki gunung. Memang bukan hal yang aneh bagi orang Jepang mendaki gunung di usia senja. Tapi, rasanya yang seperti ini saya belum pernah menemukannya di Indonesia. Saya yakin pasti ada, tapi entah dimana ya orang2 seperti itu ^^

Yang membuat saya kagum adalah, para kaum prioritas di Jepang justru tidak mempermasalahkan mereka tidak mendapat "kursi prioritas". Salut.
Tapi jangan salah, "kaum nakal" juga ada lho di Jepang... Maksudnya, orang yang non-prioritas duduk di kursi prioritas, pura2 tidur biar ga disuruh berdiri kasih kursi, Hihi... Yang in jangan ditiru ya ^^

Saya harap, kursi prioritas ini bisa digunakan sebaik- baiknya. Sejauh ini sudah baik kok. Yang "prioritas" duduk di "kursi prioritas" :)

2 comments :

Danang D. Cahyadi said...

waduh mbak, yang prioritas pertama, stiker gambarnya agak ambigu...aq bingung awalnya...#pengenketawa

tapi ternyata salah memahami...ya maklum, namanya juga the power of imagination...
aq punya pengalaman mba, naek commuterline bogor jakarta, aq juga menduduki kursi prioritas sama agung n anak2 blogger..kbtulan muat 3 org...nah,pas ada ibu2 hamil,nenek tua, dan ibu+balita, kita berdiri...abis itu ada penyandang disabilitas (skrg kita sebaiknya memakai istilah ini), eh, malah bapak2 yg duduk di kursi priority yg berseberangan dengan yg q duduki tdi, pura2 gtw, ngbrol sama mbak2...ga ada yg nawarin....mas2 penyandang disabilitas (kaki yng utuh hanya satu) itu bergelantungan di tengah ruang commuterline. akhirnya ada bapak2 yg bersandar di pinggiran/dinding menawari agar mas2 itu bisa bersandar..tetep aq ga tega mba... akhirnya pas ada kondektur ngecek tiket, ada 1 kondektur yg negur bapak itu, dia suruh bapak itu berdiri...dan mempersilakan mas2 penyandang disabilitas tadi...aaaaah,lega rasanya...melihat mas2 itu bisa duduk tanpa susah payah berdiri dengan 1 kaki dibantu "kruk"

ayudesu said...

Yang bagian mana yang ambigu? hayo... hihi... #ikutan_imajinasi...
Alhamdulillah, biarpun imajinasinya masdab tinggi, tapi masih inget kasih kursi ke yang memang membtuhkan, hehe...

Post a Comment