Wednesday, August 10, 2011

Makan-makan di resto yang Jepang banget



Dalam rangka memenuhi janji traktir dan sekaligus mencoba restoran Jepang yang direkomendasikan seorang teman, maka sabtu kemarin (1 hari setelah "hari nambah umur") kami (saya, partner, adik, dan teman) makan di restoran Jepang Hijau (kalau diterjemahin ke bahasa Indonesia jadinya "hijau") yang terletak di dekat TK saya jaman dulu.

「Diskon 40% untuk 50 items」 yang cukup membuat saya berpikir "boleh juga nih" disamping "pasti tetep mahal" hehe... Anyway, berhubung udah janji dan udah ditodong secara halus, kami pun meluncur ke Restoran Hijau pukul 5 sore, mendekati waktu buka puasa.

Kesan pertama yang didapat begitu memasuki restoran, "Wah, Jepang banget" Mulai dari interior, sampai cara para pelayan melayani tamu. Membukakan pintu, mengucapkan "Irasshaimase", bertanya "meja untuk berapa orang?", mengantarkan ke tempat duduk, sampai cara mengantarkan makanan yang sangat apik.

Perlengkapan yang ada di atas meja? Mengingatkan saya dengan Tenya (Restoran tenpura di Jepang). Hehe... Ada bubuk cabe (apapun lah itu namanya), shoyu, garam, merica (dua yang terakhir ada ga ya di Tenya?), plus asesoris wajib "handuk basah". Yang membuat terasa spesial adalah origami kecil dengan berbagai bentuk yang dipajang di setiap sudut meja. Kalau 1 meja ada 4 kursi ya ada 4 origami dengan bentuk berbeda. Wah2, lucu juga^^


Keempat origami setelah dikumpulkan. Ada bentuk burung "crane", bunga (?), kepiting (?), dan kipas (?)

Setelah melirik2 menu diskon (ya, yg diskon doank yang dilirik, hehe) kami pun memesan 2 kitsune udon dan 2 nabeyaki udon dengan minuman ocha panas. Selama menunggu, kami diberi bonus ta'jil untuk berbuka. Awalnya saya pikir itu miso shiru (sejenis sup dengan kaldu tauco), ternyata es cendol hahaha. Soalnya disajikan di mangkok kecil sih dan kuahnya keruh gimana gitu kayak kuah miso shiru^^

Kesan2 tentang menu yang kami makan:

1. Udon kan makanan favorit saya di kantin kampus^^ Cuma kalo di Indonesia tercinta, makan udon harus di restoran mahal dengan porsi yang lebih sedikit (padahal kenyang juga :p) dan kurang panas kuahnya.

2. Aburage nya kurang besar dan kurang mantep. hehe... Aburage? Itu lho, tahu manis yang jadi topping udon.

Kitsune Udon - Udon (mie Jepang ukuran besar) dengan tahu deep fry
3. Ocha-nya kurang "free to take". Kami memang dikasih segelas kecil ocha plus satu cangkir kecil ocha untuk refill. Tapi tetep aja kurang "prasmanan" gitu dan ga gratis kayak di negara asalnya :P

4. Ada bonus dessert buah. Wuah, yang ini ga ada di jepang nih. Hehe... Buah untuk dessert kali ini adalah semangka alias suika! Pas ya dengan musim panas^^

Semangka sluurrrp

5. Meskipun para pelayan melayani  dengan cara "Jepang banget", tapi saat menyerahkan bill, kertasnya ga dibalik. Setahu saya kalau istiadat Jepang, menyerahkan bill kepada pelanggan tidak boleh bagian ada tulisan di atas atau terlihat, melainkan harus tertutup. Karena kalau bagian yang ada tulisan "total angka" ada di atas dianggap tidak sopan.^^ Wah2 ada2 aja ya...

6. Ternyata untuk nabeyaki ada dua jenis penyajian telur: setengah matang dan mentah. Kalau yang setengah matang, telurnya langsung disajikan sebagai topping. Sedangkan yang mentah, disajikan terpisah di mangkok kecil dan penikmat nabeyaki bisa menuangkannya sendiri sesuai selera. Saya sendiri ga suka makan telur mentah >< Apalagi setelah belajar higiene pangan :P

Nabeyaki telur mentah yang terlihat enak dan sangat megenyangkan. Yang putih nagkring di dekat mangkuk itu namanya handuk basah untuk membersihkan tangan sebelum makan.


Anyway, secara keseluruhan makan di restoran Hijau mengenyangkan, adem, dan nyaman ^^

Sekian report dari Restoran Hijau :)

2 comments :

asudomo said...

intinya tetep mahal hahahaha

ayudesu said...

Yang penting halal dan makannya ga setaun sekali, hehehe

Post a Comment