Tuesday, May 31, 2011

Gara gara sebuah pertanyaan

Tanggal 29 Mei 2011 lalu, pertama kalinya saya diminta jadi interviewer seleksi AFS Yayasan Bina Antarbudaya chapter Bogor untuk tahun keberangkatan 2012-2013. Ada satu hal yang menarik dari wawancara dengan salah seorang siswa SMA negeri terkemuka di Bogor. Saat itu saya bertanya “kalau terpilih, mau ke (negara) mana?” Siswi tersebut pun menjawab “Amerika (USA)”. Lalu saya tanya “kenapa?” Jawaban yang mengejutkan pun keluar.
Siswi berusia sekitar 15 tahun itu menceritakan tentang masa SD-nya di sebuah sekolah swasta di Bogor. Konon para guru termasuk kepala sekolah dasar tersebut “memprovokasi” siswa-siswinya untuk membenci Amerika (USA). Negara adidaya tersebut dikatakan sebagai negara yang buruk dan segala hal mengenainya adalah jelek. Saya bisa sedikit memaklumi hal ini, tapi yang membuat saya dan kedua rekan interviewer saya kaget adalah pernyataan “kita (orang Islam) tidak boleh bergaul dengan non-Islam”. Astaghfirullah. Saat itu, siswi yang saya wawancarai (sebut saja “N”) bilang bahwa saat itu ia sempat memberontak dan menyatakan argumentasinya kepada teman dan guru. N tidak setuju bahwa USA harus dimusuhi bahkan tidak berteman dengan yang berbeda agama. Baginya, ia sendiri sejak kecil sudah bergauk dengan teman dari berbagai latar belakang, budaya, maupun agama. Selain itu, ia juga beragumen bahwa tidak semua tentang USA itu buruk, pasti ada hal baik yang dimiliki. Indonesia pun punya hal baik dan buruk sebagai sebuah negara. Ia pun menambahkan bahwa keinginannya untuk pergi Amerika adalah untuk membuktikan bahwa negara paman Sam itu tidak seburuk yang dikatakan guru-guru SD nya. Ia ingin membuka wawasan mengenai dunia luar, terutama Amerika. Saatia mengungkapkan argumennya di sekolah, guru dan teman-temannya balik menyerang N sampai membuatnya menangis. Ketika N menceriatakan hal tersebut kepada orang tuanya, sang Ibu memutuskan untuk pergi ke sekolah dan berbicara dengan kepala sekolah. Namun, hasilnya nihil. Kepala sekolah punya prinsip “memusuhi Amerika dan tidak bergaul dengan yang berbeda agama”.
Saya tidak menyangka kalau pertanyaan sederhana saya “mau ke mana?” dan “kenapa?” akan dijawab dengan sebuah cerita mengejutkan. Kalau saya tidak salah ingat, orang tua saya sempat berencana menyekolahkan adik saya ke SD yang yang diceritakan N. Entah saya harus bersyukur atau bagaimana mengetahui SD yang dulu sempat akan (tapi tidak jadi) menjadi tempat sekolah adik saya ternyata memiliki iklim yang demikian.
Sejujurnya, saya menyadari bahwa pengetahuan agama saya masih sangat sangat kurang sekali. Akan tetapi, saya pribadi tidak setuju kalau harus memusuhi USA bahkan tidak bergaul dengan yang berbeda agama. Bukankah Rasulullah saw. mengajarkan kita untuk berbuat baik kepada sesama, sekalipun ia berbeda keyakinan? Bukankah dalam salah satu surat Al-Qur’an, kita diajarkan untuk tidak saling mengintervensi agama lain? “Bagiku agamaku dan bagimu agamamu” Sekali lagi, saya sangat tidak pandai dalam ilmu agama, maaf jika ada pernyataan yang salah.
Akhir kata, saya salut dengan keberanian siswi tersebut dan prinsip yang tetap ia pegang sampai sekarang, serta keterbukaan pikirannya dan toleransinya terhadap sesama. Bagi saya pribadi, saya sependapat dengan siswi tersebut. Tidak ada salahnya kita bergaul dengan orang-orang berbeda latra belakang budaya maupun agama. Selama tidak saling melakukan intervensi mengenai keyakinan, selama kita berinteraksi untuk hal-hal yang baik, selama bisa bermanfaat, kenapa tidak? Selain itu, mengenai Amerika. Apakah yang melakukan “keburukan” atau “kejahatan” itu semua warga Amerika? Bagaimana dengan saudara muslim kita yang tinggal disana? Mereka juga warga Amerika, tapi haruskah kita memusuhi saudara sendiri? Setiap orang berhak berpendapat dan memiliki cara berpikir yang berbeda. Namun, inilah jalan pikiran saya “kita hendaknya bergaul dengan sesama tanpa membedakan latar belakang agama”.

0 comments :

Post a Comment