Tuesday, May 31, 2011

Anak Baby Sitter

Tulisan kali ini terinspirasi (tumben bahasanya keren J) dari kejadian yang saya liaht di pesta pernikahan salah satu kenalan saya sabtu kemarin.

Saat itu saya sedang menikmati hidangan dengan mama, di depan kami berdiri sepasang suami-istri dengan penampilan cukup “wah”. Sang suami memakai stelan tuxedo hitam dengan kemeja ungu mengkilat a la penari flamenco, sementara sang istri dengan gaun hijau tua, rambut dicat pirang dan ditata a la tuan putrid mediteran. Di depan mereka ada kereta bayi dan disanalah putri cantik mereka berada (beneran cantik dan lucu, rasanya pengen ngambil fotonya, tapi saya kan bukan stalker -.-“). Di belakang kereta bayi terlihat serorang berpakaian baby sitter berwarna orange muda. Ia seorag perempuan muda berusia sekitar 17-19 tahun, terlihat lebih muda dari saya pokoknya (kok kesannya tua banget yak diriku ><). Saya memperhatikan si anak (mungkin usianya sekitar 1-1,5 tahun) yang sangat lucu seperti bermain sendiri. Sang ayah terlihat sibuk dengan (ehm) Bl*ckb**ry nya, sementara sang ibu asik menikmati hidangan dengan tatapan mata lurus ke depan (ya, sesekali tengok kanan kiri sih). Apakah mereka terlihat bermain dengan putrinya? Tidak. Sempat terlihat sekali, sang ibu melambaikan tangan seperti menyambut “teriakan” si anak. Lalu si ayah sempat melepaskan pandangan dari (ehm) Bl*ckb**ry putihnya selama beberapa detik untuk melihat anaknya dan sedikit berbicara dengan sang istri. Setelah itu, kembali ke kesibukkan masing-masing…

Tak lama kemudian, si ibu terlihat berbicara dengan baby sitter setelah itu si pengasuh pergi dan kembali membawa sepiring pudding lengkap dengan vla-nya. Lalu ia pun menyuapi (yak, baby sitter yang menyuapi) anak majikannya dengan pudding tersebut. Saat si putri cantik sedang makan pudding, salah seorang kenalan sang ayah datang dan bermain dengannya. Si anak terlihat senang menanggapi orang tersebut. Sang ayah sempat beberapa saat mengobrol dengan kenalannya dan beberapa detik melirik anaknya. Lalu saat si putri cantik melakukan gerakan aneh bin sangat lucu, si “kenalannya ayah” terlihat terkejut namun senang. Tapi yang membuat saya terkejut bukan kelakuan si putrid cantik, melainkan reaksi kedua orang tuanya. Mereka tidak bereaksi. Lebih tepatnya, mereka tetap tidak beranjak dari kesibukan masing-masing. Melirik sedikitpun tidak. Saat itu, si baby sitter dengan fasih menjelaskan perilaku si putri cantik di rumah yang bisa lebih lucu bin ajaib lagi di rumah. Ketika salah seorang kenalan sang ayah-ibu yang lain datang, hal yang sama pun terjadi.

Beberapa saat kemudian, si ibu kembali berbicara dengan baby sitter, lalu si baby sitter pergi dan kembali dengan sepiring buah. Ternyata kali ini untuk dimakan sendiri. “Akhirnya dia bisa makan juga. Tapi, masa’ cuma buah?” begitulah pikir saya. Positive thinking-nya, “mungkin dia sudah makan nasi tadi”. Sambil menikmati buah-buahan untuk dirinya, ia juga menyuapi si putri cantik dengan pudding. Tak lama kemudian, nyonya dan tuan besar pergi meninggalkan si putri cantik dengan baby sitternya. Mereka sempat menyapa si putri cantik 1 atau 2 detik, detelah itu menghilang dari pandangan. Setelah tuan dan nyonya besar pergi, baby sitter kembali dengan tugasnya, menyuapi pudding sambil makan buah. Saat si putri cantik terlihat batuk-batuk, dengan sigap ia pergi mencari air putih. Tampaknya si putri cantik enggan makan pudding setelah itu. Sempat saya lihat seorang wanita muda dan ibunya bermain dengan si putri cantik. Mereka terlihat cukup “biasa” bermain dengannya, layaknya keluarga dekat si putri cantik.

Pemandangan tersebut hilang dari hadapan saya ketika si putri cantik menangis minta bertemu dengan ayah dan ibunya (sepertinya begitu).

Saya sempat berbisik dengan mama saat melihat “pemandangan menakjubkan” hari itu. Kira-kira begini:

Saya: “Ma, anak kecil yang di depan itu lucu ya? Tapi saying, kayaknya dia ‘anak baby sitter’”

Mama: “Iya, anak sperti itu kelihatannya ‘anak pembantu’. Ayah-ibunya kerja tiap hari, pulang malem. Mestinya kalau weekend, pembantu diliburkan, anak diurus ibunya seharian.”

Saya cukup sependapat dengan mama. Itulah kenapa judul tulisan ini “anak baby sitter”. Seorang anak dari keluarga berada, yang sejak kecil diasuh baby sitter, bahkan yang mengetahui kebiasaan sehari-hari si anak adalah baby sitter. Sungguh miris melihatnya. Mungkin karena saya dibesarkan oleh seorang ibu rumah tangga, jadi saya tidak tahu bagaimana rasanya jadi “anak baby sitter” dan cenderung menentang hal tersebut. Tapi, pemandangan yang saya lihat hari itu benar-benar “menyedihkan”. Tidak ada sedikitpun “perhatian” kedua orang tua terhadap si anak. Bahkan tidak terlihat mereka bermain atau setidaknya memperkenalkan putri mereka kepada teman-temannya saat beberapa kenalan mereka datang untuk menyapa putri mereka. Si ibu malah memilih menikmati hidangan sendiri tanapa memikirkan makanan untuk si anak. Ia malah menyuruh baby sitter untuk mengambilkan makan dan menyuapi. Si ayah sibuk sekali dengan (ehm ehm) “Bl*ckb*rry nya. Mungkin sedang sibuk dengan bisnis pekerjaannya (positive thinking sajalah). Tapi, saya melihat wajah si ayah yang senyum-senyum dan kerap tertawa melihat tulisan-tulisan di layar hp canggihnya itu. Benarkah itu urusan pekerjaan?

Anyway, saya memang berencana akan jadi wanita karier (jiaah gaya…), tapi kalau sampai anak saya nanti jadi anak baby sitter, nggak banget deh. Masa’ sampai di acara santai di weekend, anak masih diurus semua sama baby sitter? Apa susahnya meluangkan waktu untuk bermain dan menyuapi anak makan? Bukannya sibuk ngurusin perut sendiri ~.~

Tapi, positive thinking aja lah.. Mungkin kebetulan yang saya lihat pas “adegan” mereka acuh sama anaknya. Mungkin di luar itu mereka sangat perhatian terhadap si putrid cantik J

アユ

0 comments :

Post a Comment