Friday, April 1, 2011

Konser: Fund Rising atau Pemborosan Listrik?

Wah wah, tumben-tumben saya bahas masalah ini. Sebagai orang yang cenderung "pro" (atau mungkin cita-cita pengen nonton?) konser, saya ingin sedikit mengeluarkan uneg-uneg mengenai konser bernama "Marching J". Konser ini diadakan selama beberapa hari mulai dari tanggal 1 April (hari ini) di Yoyogi National 1st Gymnasium, Tokyo, Jepang dan diprakarsai oleh Jhonny's Entertaintment yang membawahi berbagai artis terkenal, termasuk salah satunya grup favorit saya, Arashi (teuteup).


Tanggal 31 Maret kemarin saya membaca sebuah pengumuman resmi dari pihak bos (baca: Jhonny's Entertainmetnt) bahwa ada desakan dan suara-suara dari fans (luar maupun dalam negeri Jepang) untuk tidak membatalkan konser para artis, melainkan hanya dilakukan penundaan saja. Selain itu banyak juga suara-suara yang mengusulkan diadakannya semacam charity concert untuk menggalang dana. Tujuannya tentu saja untuk membantu para korban bencana alam 11 Maret lalu. Berdasarkan suara-suara tersebut akhirnya pihak Jhonny's (kita sebut saja begitu) memustuskan untuk menyelenggarakan konser amal seperti yang sudah disebutkan pada awal tulisan ini.


Pihak penyelenggara sebenarnya "aware" dengan krisis listrik yang terjadi. Hal ini diungkapkan pada pengumuman konser yang akan diselenggarakan. Selain itu jika melihat waktu konser, yakni pukul 10 pagi sampai 5 sore, bisa dikatakan sebagai cara untuk menghemat penggunaan lampu (siang hari kan terang :) Namun, saya masih tetap berpikir (atau lebih tepatnya sulit menerima) apakah konser amal merupakan hal yang tepat?


Penyelenggaran di siang hari menurut saya sudah menjadi pilihan yang (agak) bijak, untuk menghemat penggunaan lampu. Namun, saya rasa lampu tetap digunakan meskipun di siang hari dan konser dilakukan di lapangan terbuka. Tidak hanya lampu, kalau saya coba me-list alat2 yang menggunakan listrik saat konser di antaranya:

1. Lampu di tempat konser

2. Sound system (untuk ukuran national stadium standar olimpiade, pasti perlu soundsystem yang besar dan oke)

3. Big Screen (saya lihat pada foto yang di-upload seorang kenalan yang berada pada konser hari ini, memang digunakan)

4. Heater/AC di ruangan backstage (mengingat cuaca yang masih cukup dingin)

5. Alat musik

6. Beberapa alat pada ruang persiapan artis (ruang ganti, ruang tata rias) yang menggunakan listrik.



Mungkin penggunaan listrik pada poin 6 termasuk sangat kecil jika dibandingkan dengan pengeluaran untuk sound system dan big screen yang jumlahnya lebih dari satu. Namun, apakah terpikirkan oleh para fans (terutama dari luar Jepang) mengenai penggunaan listrik pada saat konser? Saya berusaha untuk positive thinking bahwa pihak penyelenggara tentu sudah mempertimbangkan secara bijak penggunaan listrik sehemat mungkin untuk konser amal ini. Apalagi jika mengingat pasokan listrik di Jepang, terutama Tokyo (tempat diselenggarakannya konser) masih belum stabil.


Kembali ke pertanyaan sebelumnya. Apakah terpikirkan oleh para fans mengenai pemakaian listrik pada saat konser? Apa yang sebenarnya mereka inginkan dari konser ini? Tidak ingin kehilangan kesempatan menonton konser hanya karena bencana? Atau ingin melihat penampilan artis favorit mereka sambil bisa beramal untuk para korban bencana? Egoiskah yang demikian? Atau saya mengatakan ini karena saya iri tidak bisa menonton konser?


Mari kita lihat lagi secara berurutan...

1. Tanggal 11 Maret lalu terjadi bencana alam di daerah Fukushima dan sekitarnya

2. Reaktor nuklir meledak akibat bencana

3. Pasokan listrik berkurang akibat kebocoran reaktor

4. Penghematan listrik besar2an oleh seluruh pihak dan lapisan masyarakat serta pemadaman listrik bergilir oleh perusahaan listrik negara.

5. Dari sisi sosial, banyak korban bencana yang membutuhkan makanan, tempat tinggal, bantuan medis, dan sebagainya

6. Pemerintah harus memikirkan bagaimana cara membantu para korban, membangun kembali infrastruktur yang rusak, serta mengembalikan kondisi pembangkit listrik seperti semula.

7. Oleh karena itu, biaya yang dibutuhkan pastinya sangat besar

8. Di tengah penurunan ekonomi Jepang, hal ini tentu menambah beban negara

9. Pemerintah Jepang sedang berusaha "mengemis" bantuan dari US dan Perancis mengenai tenaga nuklir

10. Simpulannya, pasca bencana, finansial dan listrik menjadi masalah sangat serius saat ini.


Jadi, bagaimana dengan topik kita? Saya rasa sebuah dilema, menyelenggarakan konser besar lalu diperoleh dana yang besar untuk membantu para korban. Tapi di sisi lain cukup memberatkan penggunaan listrik, meski hanya sebentar. Bagi pemikiran awam saya, mungkin penggunaan listrik yang besar pada konser bisa dialihkan untuk hal yang lebih "penting" seperti untuk menjalankan peralatan medis. Atau tidak adakah cara lain bagi para artis beserta fans-fans setia mereka untuk menggalang dana tanpa harus memboroskan listrik? Misalnya dengan fundrising bersama2 di jalan2, atau dengan menggumpulkan dana melalui rekening resmi Jhonny's dan setiap yang mengirimkan dana akan memperoleh merchandise asli dari sang artis? Tidakkah lebih menghemat listrik?


Tulisan ini hanya sekadar pemikiran awam saya saja. Saya tidak bermaksud untuk menjatuhkan atau menjelek-jelekkan pihak tertentu.

Akhir kata, semoga Jepang bisa kembali ke keadaan yang aman, tentram, dan stabil, serta nyaman untuk ditinggali :)


Ayu

4 comments :

asudomo said...

kenapa ga di indonesia aja konsernya hehehehe

ayudesu said...

kalo konser gratis mau deh... ;P

Indah Nurmawarti said...

ayu tuh bikin blogspot jepang ya,,fitur nya beda atau emang bikin sendiri *oot*
iya lah hidup arashi oniitachi!!

ayudesu said...

Indah... itu dia yang ayu ga tau sampe sekarang... dari awal daptar udah fiturnya pake bahasa jepang.. padahal kalo di dashboard b.inggris~ *dasar gaptek*

Tante indah... merhatiin aja ayu nulis Arashi ;P

Post a Comment