Monday, April 25, 2011

男女逆転「大奥」

Ooku. Itulah judul film yang premier 1 Oktober 2010 di Jepang. Ooku ditulis dengan dua kanji 「大」
dari kata "ooki" yang berarti besar, dan 「奥」 yang hanya memiliki satu cara baca: "oku" yang berarti "jauh di dalam".
Secara istilah, "Ooku" dapat diartikan sebagai sebutan untuk seorang nyonya besar atau pemimpin wanita.



Kembali ke film, Ooku bercerita tentang sebuah masa dimana peran pria dan wanita "terbalik". Mulai dari pekerja konstruksi, kepala keluarga, sampai pemimpin negara (dalam hal ini Shogun) adalah wanita. Kenapa hal ini terjadi? beberapa masa sebelumnya terjadi wabah penyakit Red Pox (semacam cacar) yang hanya menyerang kaum laki-laki, terutama anak-anak dan laki-laki muda. Wabah yang fatal ini menyebabkan jumlah laki-laki di seluruh "negara Edo"(sebutan untuk Tokyo tahun 1700-an) bahkan hampir seluruh Jepang mengalami penurunan drastis, yakni 1:4 dari jumlah wanita.Oleh karena itu, laki-laki dianggap bertubuh lemah karena sangat rentan terhadap wabah mematikan tersebut dan harus dilindungi demi menjaga kelangsungan hidup manusia.

Dua orang tokoh utama yang akan dibahas dalam posting-an kali ini adalah Sang Shogun wanita, Tokugawa Yoshimune dan seorang samurai muda, Mizuno Yuunoshin.Mizuno, seorang Samurai cerdas dan terampil memutuskan untuk mengabdikan dirinya pada Sang Ooku. Mizuno sendiri menemukan banyak sekali yang yang tidak ia duga sebelumnya. Bahwa kehidupan para pengikut Ooku yang konon berjumlah 3000 orang pria (sebenarnya hanya 800-an menurut salah satu bangsawan istana) tidaklah seindah yang oarng luar istana bayangkan. Banyak dari mereka yang "kehidupan di dalam istana dalah satu-satunya kehidupan", kesenjangan sosial antar strata, sampai masalah dengan Ooku yang hampir seluruh konsekuensinya adalah "hukuman mati" atau "bunuh diri". Salah satu cerita tentang seorang samurai muda tangguh yang dikalahkan dalam sebuah adu pedang oleh Mizuno yang "hanya" pelayan tingkat bawah, kemudian "keberadaan"nya ditolak oleh sang "atasan". Layaknya etika para samurai jaman Edo, samurai muda tersebut memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena merasa "harga diri" satu-satunya sebagai samurai nomor satu telah kalah oleh Mizuno. Tragis memang melihat hal ini.

Di sisi lain, seorang sang Ooku yang baru saja kembali dari perjalanannya ke daerah pedesaan di luar istana, sangat mengejutkan bagi seluruh warga istana. Hari pertama kembalinya beliau, yang pertama kali diprotes adalah kemewahan busana para penasehat termasuk Ooku sendiri. Sang Shogun melihat bahwa kesulitan ekonomi sedang terjadi di hampir seluruh negeri sehingga tidak seharusnya istana bermewah-mewahan dengan busana mahal serta aksesoris berlebihan. Sungguh sangat mengejutkan bagi seorang pemimpin istana yang notabene "suka dengan kemewahan" dan "tidak peduli dengan kesulitan rakyat jelata". Karena hal tersebut, sang Ooku sampai memecat salah satu penasehatnya yang setuju dengan penampilan mewah.

Hal lain yang membuat saya salut dari sang Ooku adalah ternyata seorang yang konon berhati besi, ternyata masih punya "hati" sebagai manusia. Pertama, kejadian saat beliau pergi keluar istana untuk melihat keadaan rakyatnya. Penyamaran dengan pakaian merakyat, ia pun bersikap layaknya rakyat biasa. Bahkan saat seorang wanita muda tidak sengaja menyiram kakinya dengan air, sang Ooku tidak marah dan menggunakan "kekuasaannya". Saat seorang anak kecil diusir ayahnya karena terserang red Pox, sang Ooku malah memberinya obat penawar dan menyuruhnya untuk membaginya dengan 5 orang teman-temannya. Sang Shogun pun sangat miris melihat para pria yang bersolek dan menjual diri mereka untuk para wanita yang menginginkan anak. "Dunia terbalik" ini bagi sang Shogun sangatlah ironis.

Sebuah kejadian yang bagi Shogun sendiri tidak diinginkannya adalah konsekuensinya menanyakan nama seorang bawahan sebagai tanda perhatian khusus terhadap bawahannya tersebut. Bawahan yang dimaksud adalah Mizuno. Menurut peraturan, pria pertama yang menarik perhatian seorang Ooku harus "melayani" sang Shogun sebagai "Naiso no Kata" (secara harfiah berarti "pihak rahasia"). Akan tetapi konsekuensinya adalah pria tersebut harus segera dikenai hukuman mati setelah "melayani" sang Shogun. Sangat ironi, tindakan yang "terlarang" namun "harus dilakukan". Perarturan yang tidak masuk akal. Namun, sang Shogun tetap menunjukkan simpati dan penyesalannya terhadap Mizuno. Beliau bahkan bersedia mengabulkan permintaan Mizuno untuk memanggilnya dengan "Onobu", wanita yang disayangi Mizuno. Bahkan sang Ooku berkata pada tiga orang bangsawan yang saat itu menunggu di luar ruangan "Sangat lancang dan melanggar peraturan seorang bawahan berani memanggilnya dengan nama tersebut, namun jika bawahan yang lancang tersebut hidupnya tidak lama lagi, maka seorang Ooku harus mengabulkan permintaannya sebagai manusia". Sungguh sangat mengejutkan, seorang Shogun ternyata memiliki pikiran seperti itu.

Alih-alih membunuh Mizuno, Ooku malah membebaskannya dari hukuman mati dan berpesan untuk tetap melanjutkan hidup. Dengan satu syarat, Mizuno tidak boleh menampakkan dirinya di depan keluarga dan teman-temannya kecuali Onobu. Selain itu, Mizuno juga harus mengganti namanya dan menjalani hidup baru sebagi oarang yang berbeda sepenuhnya. Mizuno Yuunoshin yang dulu dianggap telah mati. Hal ini menunjukkan sang Ooku masih memiliki belas kasihan namun tetap berusaha menjalankan peraturan istana.

Setelah Mizuno dibebaskan, sang Ooku mengumpulkan 50 orang bawahannya yang disebut "50 pria rupawan" dengan kimono hitam. Hal mengejutkan kembali terjadi, alih-alih memilih seorang pria sebagai "pilihan pasangannya", beliau malah membebaskan ke-50 pria muda tampan tersebut. Sang Ooku beralasan bahwa kondisi ekonomi istana tidak mencukupi untuk menghidupi kemewahan para pria muda yang bisa dikatakan sebagai "bangsawan" istana dan tidak ada manfaatnya bagi sang Shogun sendiri untuk "mengurung" mereka di istana untuk melayaninya. Beliau bahkan berpesan "Pulanglah ke kampung halaman masing-masing, lanjutkan kehidupan bersama keluarga dan teman-teman serta menikahlah dengan pasangan yang selayaknya". Sang Ooku berkata bahwa pesannya tersebut merupakan keinginannya yang tulus terhadap demi masa depan cerah bagi bawahannya itu.

Dari film bersetting jaman Edo dengan "scenery" yang menakjubkan ini, saya bisa belajar cukup banyak. Seorang pemimpin yang dibutuhkan rakyat, peduli terhadap kesulitan rakyat, dan berani mengembil langkah yang berbeda dengan peraturan maupun budaya leluhur. Kesediaannya untuk "turun" ke lapangan melihat sendiri kondisi rakyatnya, bukan dengan penampilan dan perilaku sebagai pemimpin negara, tapi sebagai sesama rakyat. Penolakannya untuk memakai pakaian mewah, bahkan memerintahkan seluruh pejabat dan bangswan istana untuk memakai kimono sederhana tanpa motif, bordir, maupun warna yang mencolok. Keputusannya untuk tidak menghukum mati seorang bawahan dan malah memintanya untuk tetap melanjutkan kehidupannya sendiri. Terakhir, keputusan besar untuk "membebaskan" ke-50 "bangsawan" demi kesejahtaraan rakyatnya, bahwa potensi anak muda seperti mereka tidak seharusnya "dikurung" di dalam istana, tapi sebaiknya kecerdasan dan keterampilan mereka bisa dimanfaatkan untuk membangun negeri.

Sungguh sebuah film yang menakjubkan. Andai saja para pemimpin negara kita (Indonesia), bisa berlaku bijaksana seperti sang Ooku, mungkin masalah perekonomian yang berkepanjangan ini bisa terselesaikan. Semoga.


Disclaimer:
TBS TV
大奥

0 comments :

Post a Comment