Monday, March 14, 2011

3月11日

Innalillahi...
Itulah salah satu kata pertama yang saya ucapkan ketika menerima sms dari adik tercinta sekitar Pk.15.10 WIB. Sms tersebut berisi pemberitahuan bahwa ada gempa 8.4 SR menimpa Jepang, negara yang pernah saya tinggali setahun yang lalu. Saya langsung buru2 pulang ke kos-an, bersiap membawa laptop untuk online di kampus. Tentu saja untuk mencari berita lebih akurat sekaligus mengontak semua teman-teman, saudara, kerabat, guru, dan semua kenalan yang berada di Jepang.

Sebelum saya sempat online, beberapa teman saya pun ada yang mengirimkan sms dan mengatakan bahwa ada gempa besar beserta tsunami yang melanda Jepang. Hal ini semakin membuat saya tidak tenang dan ingin segera online.

Sekitar Pk.16.00 WIB akhirnya saya pun berhasil mendapatkan berita dari beberapa media seperti Yahoo! Japan, NHK, dan NTV Jepang. Pusat gempa yang berada di daerah Sendai sedikit melegakan hati saya karena lokasiny acukup jauh dari Tokyo. Selain itu saya langsung menghubungi beberapa teman, kerabat, dan sensei2 baik melalui email maupun facebook. Alhamdulillah mereka semua selamat. Lega? tentu saja. Namun ternyata tidak secepat itu.
Meledaknya reaktor nuklir yang membuat persediaan listrik terbatas pun masih sedikit menjadi kekhawatiran saya. Selain itu berita terbaru yang baru saja saya dapatkan dari salah seorang kerabat adalah kemungkinan gempa susulan yang cukup besar, mati listrik giliran, serta air yang sempat tidak mengalir dengan baik di Tokyo. Keberadaan beberapa WNI yang mengungsi di daerah pusat gempa pun sempat menjadi kekhawatiran saya.

Kenapa saya begitu khawatir? Mungkin bagi sebagian orang aneh. Gempanya kan di Jepang dan pusatnya bukan di tempat saya dulu tinggal, kenapa saya sampai begitu cemas dan tidak tenang?
Well, mungkin inilah yang disebut empati. Saya bisa merasakan bagaimana perasaan saudara2 setanah air yang sedang tinggal di perantauan menghadapi bencana yang bisa dibilang sangat besar ini. Saya bersyukur, selama saya tinggal di Tokyo, tidak pernah terjadi gempa yang besar. Akan tetapi saat itu, kekhawatiran akan tiba2 terjadi gempa tentu saja ada, seperti yang kita ketahui, Jepang kan termasuk negara lempeng gempa.

Berita di media massa Indonesia maupun Jepang yang saya ikuti masih saja menampilkan update mengenai musibah hari Jumat lalu. Official twitter milik NTV Jepang yang saya follow pun kerap meng-update detil mengenai keadaan pasca gempa. Sangat miris membacanya, kerusakan dimana-mana, korban meninggal, hilang, cedera, dan sebagainya. Teman-teman saya di Forum Japan-Indonesia (facebook) pun kerap meng-update berita mengenai keadaan di Jepang pasca gempa dan tsunami. hal yang membuat saya sedih adalah berita yang teman2 saya update tidak hanya berisi fakta namun juga perasaan mereka mengenai situasi tersebut.

Di tanah air, beberapa teman saya ada yang cukup bersimpati menanyakan bagaimana keadaan tempat saya tinggal dan teman2 saya di Jepang pasca gempa. Namun, beberapa orang justru menyatakannya dengan cara yang agak sedikit "berbeda". Saya tidak menyalahkan cara mereka yang sedikit berbeda dalam menyampaikan "simpatinya", akan tetapi saya sempat merasa sedih dengan perkataan "kenapa kamu ga sekarang aja ke jepangnya? biar kena tsunami" atau "kalo kamu masih di jepang kan enak bisa cerita tentang bagaimana rasanya dihadang musibah". Astagfirullah,, meskipun saya tahu mereka hanya bercanda tapi ada perasaan "tidak terima" dan berharap mereka mau mengerti bagaimana perasaan saya dan yang paling penting perasaan saudara2 kita yang sedang tertimpa musibah di Jepang.

Satu hal lagi, meskipun secara fisik selamat dan sehat, saya rasa "trauma" atau "perasaan cemas" pasca gempa pasti akan sulit untuk dihilangkan. Hal inilah yang menjadi pemikiran saya juga. Apakah cukup dengan bukti bahwa "saya baik2 saja di sini" "tidak ada yang cedera"? Secara fisik memang bisa terlihat baik2 saja, namun apakah para "korban" gempa bisa mendapatkan ketenangan batin seperti halnya fisik mereka yang terlihat "tenang"?
Saya berdoa semoga saudara2 kita di Jepang (siapapun itu) bisa diberikan ketabahan dan kekuatan hati serta keselamatan lahir dan batin oleh Yang Mahakuasa, Allah SWT.

Amin.


Special Regards to: my dearest friend Indah who made me shivering when I read her message today.

0 comments :

Post a Comment