Tuesday, January 11, 2011

成人と言うのは。。。

成人「せいじん」 terdiri atas kanji 「成」 yang berarti "grow", "accomplish" dan 「人」 yang berarti "person". Secara istilah diterjemahkan sebagai "orang dewasa".
Seorang individu dikatakan dewasa apabila sudah mencapai usia 20 tahun. Mulai usia ini setiap individu secara legal bisa berpartisipasi dalam pemilihan umum, memiliki lisensi mengemudi, menyewa apartemen, bekerja, dan menikah. Khusus untuk bekerja (part time maupun full time) dan menikah sebenarnya dapat dilakukan oleh yang berusia di bawah 20 tahun dengan "surat izin orang tua". Setelah mencapai usia 20 tahun, seseorang bisa bekerja atau menikah tanpa "surat sakti" tersebut alias atas keputusannya sendiri. Sementara itu, pada usia 20 tahun juga setiap individu (khususnya di Jepang) diperbolehkan untuk merokok, minum minuman keras, pergi ke pub, bahkan secara "wajar" melakukan premarital sex. Individu yang berusia 20 tahun secara hukum negara sudah harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri , setiap keputusan dapat diambil sendiri, seperti menentukan tempat tinggal dan menikah.

Setiap tahunnya pemerintah masing-masing kelurahan/kecamatan di jepang menyelenggarakan upacara kedewasaan (Adult ceremony/Seijin Shiki/成人式) untuk mengapresiasi penduduk yang berusia 20 tahun. Biasanya acara tersebut (selanjutnya akan disebut seijin shiki) dihadiri oleh para pejabat kota dan mengundang seluruh masyarakat setempat yang berusia 20 tahun, laki-laki maupun perempuan, warga Jepang maupun warga asing. Semua yang berusia 20 tahun pada bulan April tahun sebelumnya sampai Februari tahun diselenggarakannya seijin shiki akan diundang tanpa kecuali. Seijin Shiki yang diselenggarakan setiap hari Senin pada minggu kedua bulan Januari ini dijadikan sebagai hari libur Nasional.


Perempuan yang menghadiri upacara ini biasanya mengenakan kimono dengan furisode (kimono lengan panjang) sebagai simbol pajang umur dan merupakan kimono yang hanya boleh dipakai oleh wanita single. Sementara itu kaum pria memakai hakama (pakaian tradisional Jepang juga). akan tetapi akhir-akhir ini kebanyakan laki-laki memakai stelan tuxedo karena dianggap lebih praktis, mudah, dan murah.

Setiap kelurahan/kecamatan mempunyai kebiasaan masing-masing dalam merayakan Seijin Shiki. Kelurahan tempat saya tinggal setahun yang lalu, Koganei-shi, menyelenggarakan Seijin Shiki dengan mengumpulkan seluruh masyarakat (yang berusia 20 tahun tentunya) dalam suatu Hall. Acara diisi dengan pidato para pejabat kelurahan yang berisi wejangan, nasehat, dan penyuluhan mengenai hak dan kewajiban para "seijin" atau orang dewasa. Selain itu terdapat banyak hiburan berupa tarian, drama, dan paduan suara serta tak ketinggalan doorprize. Ya, itulah yang menarik dari Seijin Shiki di Koganei, doorprize yang menggiurkan selain juga ditayangkan pesan-pesan dari para atlet Tokyo FC yang sangat populer.

Setelah acara resmi di Hall selesai, para seijin baru memanfaatkan kesempatan tersebut untuk reuni. Tentu saja, sebab rata-rata para seijin yang berusia 20 tahun sedang menempuh pendidikan di universitas yang jauh dari tempat tinggal asal, sehingga acara Seijin Shiki dijadikan ajang reuni dengan teman SMA, SMP, atau bahkan teman masa kecil. ^^
Selain reuni, beberapa orang juga ada yang mengunjungi kuil, salah satunya Asakusa di Tokyo menjadi salah satu favorit.


Melihat keramaian pada Seijin Shiki dan Seijin no Hi secara keseluruhan, sebenarnya apakah makna dari peringatan tersebut?
Menurut pendapat saya sebagai salah satu "mantan" peserta, berikut yang dapat saya maknai:
1. Jepang mengapresiasi warganya tanpa kecuali yang menginjak usia dewasa.
2. Pesan-pesan dan penyuluhan yang dilakukan pasa saat upacara dapat dijadikan ajang sosialisasi mengenai hak dan kewajiban warga negara kepada para seijin baru.
3. Menjadi suatu peringatan untuk "mengingatkan" akan hak dan kewajiban setiap individu yang tergolong sebagai "orang dewasa".
4. Biasanya orang tua, kerabat dekat, guru, serta teman akan memberikan nasehat atau sekadar ucapan selamat dan doa agar menjadi pribadi yang lebih baik setelah dewasa.

Akan tetapi, makna positif selalu diiringi dengan makna negatif. Para Seijin yang secara legal diperbolehkan untuk merokok, minum sake, dan bahkan premarital sex, tidakkah hal ini menjadi masalah moral tersendiri? Bahkan di negeri Jepang yang konon "sangat bebas" pun, hal-hal tersebut masih kerap menimbulkan ketidaknyamanan sosial.

Lalu bagaimanakah dewasa yang sebenarnya? Dewasa tidak hanya secara fisik, tapi juga mental, pikiran, dan sikap. Menurut saya, dewasa itu:
1. Bertanggung jawab atas diri sendiri
2. Bisa menjaga diri sendiri dari perbuatan amoral secara agama maupun moral masyarakat.
3. Mampu menentukan pilihan dengan bijak.
4. Menghargai dan menghormati diri sendiri dan orang lain dengan cara tidak melakukan hal-hal yang tercela.
5. mampu menempatkan diri pada posisi sesuai situasi.

Sejujurnya, meskipun saya bisa berpendapat demikian dan sudah "diresmikan" sebagai seorang Seijin, saya tetap belum bisa bersikap dewasa sepenuhnya. Menjadi dewasa adalah proses, dan meskipun seseorang sulit untuk menjadi dewasa sepenuhnya, setidaknya berusaha untuk bersikap bijak sepenuh hati layaknya seorang dewasa tidaklah buruk.

0 comments :

Post a Comment