Sunday, August 29, 2010

Journey to Romania: See Another Freezing Part of The World

Minggu, 29 Agustus 2010.
Perjalanan Sakurai caster ke 3 Negara di belahan Eropa pada bulan Juli lalu dirangkum dalam acara liputan spesial hari ini. Perjalanan ini memuat beberapa topik seperti ekonomi dan sosial.

Perjalanan pertama ke Jerman, mengunjungi sisa-sisa reruntuhan tembok Berlin. Tidak ada hal istimewa yang bisa saya simpulkan mengenai perjalanan pertama ini. Hanya narasi pendek mengenai sejarah tembok Berlin yang ditampilkan.

Perjalanan kedua ke Rusia yang diawali dengan kunjungan ke Red Square yang bersejarah dan dilanjutkan dengan wawancara spesial bersama peraih nobel sekaligus mantan pemimpin Soviet, Mikhail Gorbachev. Wawancara yang dibuka dengan saling menyapa dalam bahasa Russia (Sakurai caster terdengar cukup fasih melafalkan salam sederhana dalam bahasa Russia). Satu hal yang unik dan cukup mengejutkan (terutama bagi sang caster) adalah Mikhail Gorbachev yang langsung menutup kertas naskah yang dibawa Sakurai caster. Secara tegas beliau mengatakan bahwa beliau tidak ingin mendengar pertanyaan dan pernyataan berdasarkan sebuah acara televisi. Beliau lebih ingin berbicara secara personal dan mendengar pendapat pribadi Sakurai caster mengenai apa yang beliau sampaikan. Luar biasa, peraih nobel yang satu ini. Beliau berhasil 'menggagalkan' seluruh naskah yang sudah disiapkan dan menguji keterampilan Sang caster dalam mengatasi situasi wawancara yang tidak sesuai skenario awal.

Wawancara dengan Mikhail Gorbachev membahas masalah kemanusiaan dalam kaitannya dengan generasi muda. Pesan Gorbachev bagi anak muda (terutama anak muda Jepnag) berkaitan dengan peran generasi muda dalam memperbaiki dan memajukan kondidi bangsa sendiri. Ketika menyampaikan pesan tersebut, Gorbachev terlihat menjabat dengan sangat erat tangan Sang caster. Bagi Sakurai caster, Gorbachev sangat serius dalam menyampaikan pesan sampai menjabat erat tangannya selama berbicara.

Meskipun pesan Gorbachev disampaikan untuk generasi muda Jepang, pesan tersebut saya rasa dapat diterapkan juga di tanah air Indonesia. Situasi dan kondisi buruk yang dihadapi oleh masing-masing negara harus bisa diatasi oleh generasi muda sebagai penerus dan harapan bangsa. Sebagai generasi muda, sudah seharusnya mengetahui, menghadapi, dan berjuang demi masa depan bangsa yang nantinya dapat berpengaruh pada situasi dunia.

Perjalanan terakhir ke Rumania. Fakta yang sangat mengagetkan bagi saya adalah banyaknya anak jalanan dan tuna wisma di Rumania. Berdasarkan data statistik, sekitar 900 orang tuna wisma berkeliaran secara bebas sekarang di Rumania. Pada malam hari, jumlah para tuna wisma yang berkeliaran terlihat lebih banyak daripada siang hari. Hal ini membuat keamanan menjadi sangat rendah.

Kondisi ekonomi dan politik yang buruk diperkirakan menjadi penyebab banyaknya tuna wisma. Di lain pihak, banyak orang tua yang 'menitipkan' anaknya sendiri ke rumah singgah atau gereja disebabkan tidak punya pekerjaan dan atau penghasilan yang rendah sehingga tidak sanggup untuk menyokong kehidupan Si Anak. Pengakuan seorang anak berusia sekolah dasar yang ditemui Sakurai caster di sebuah gereja bahwa ia ditipkan oleh orang tuanya sendiri. Anak laki-laki yang ditipkan bersama dengan adiknya yang masih balita itu terlihat cukup santai seakan 'dititipkan' adalah hal yang wajar. Padahal, anak-anak yang tinggal di gereja sepertinya notabene adalah anak yatim piatu, sedangkan ia masih memiliki ayah dan ibu.

Perjalanan dilanjutkan ke sebuah desa tempat tinggal orang tua dari anak yang ditemui di gereja. Ketika ditanya mengapa sang anak ditipkan di gereja, Sang Ayah langsung terdiam cukup lama, demikian pula halnya dengan Sang Ibu. Saat akhirnya Sang Ayah bersedia membuka mulut, ia mengatakan bahwa keadaan ekonomi keluarga lah yang membuatnya terpaksa mengirim kedua buah hati tercinta ke panti asuhan gereja. Sang Ayah juga sempat menceritakan bahwa beberapa tahun yang lalu ia masih memiliki pekerjaan di sebuah pertanian. Setelah keadaan ekonomi memburuk, ia kehilangan pekerjaan dan tidak memiliki penghasilan yang cukup untuk menghidupi kedua anaknya. Meskipun ia masih bisa sedikit bekerja di ladang, namun penghasilan yang didapat sangatlah sedikit. Sang Ayah pun bertutur sambil berlinang air mata bahwa ia dan Sang Ibu tentu sangat ingin tinggal bersama kedua buah hati tercinta, akan tetapi kondisi ekonomi keluarnga membuat mereka tidak tega membiarkan Sang Anak hidup susah.

Selanjutnya ketika Sakurai caster berjalan-jalan di taman, ia melihat banyak sekali ana-anak jalanan sedang bermain dan salah seorang diantara mereka secara mengagetkan tiba-tiba memanggil Sang Caster. Anak perempuan berpenampilan tomboy tersebut memperlihatkan 'rumah'nya yang terletak di bawah tanah taman. Tempat yang disebut rumah oleh remaja tersebut sebenarnya adalah lubang untuk saluran air. Ketika mencoba turun ke dalam lubang, Sakurai caster dikejutkan oleh pemandangan lembap, 'sumpek', dan penuh sampah berserakan. Terlihat dua buah matras dan selimut yang robek sana-sini dan di bawahnya dipenuhi sampah botol minuman. Hal yang dipertanyakan Sang Caster adalah bagaiman sang remaja bisa bertahan di musim dingin Rumania yang suhunya bisa mencapai minus 10 derajat celcius lebih. Dengan santainya, remaja yang sejak usia 5 tahun sudah berkeliaran di jalan ini mengatakana bahwa lubang tersebut adalah tempat yang cocok untuk berlindung dari dinginnya musim dingin. Sementara itu ketika musim panas, ia selalu berada di luar karena di dalam lubang sangat panas dan tidak ada angin yang masuk.

Masih di taman, Sang Caster bertemu dengan seorang remaja laki-laki berusaia 2 tahun yang lengannya penuh bekas luka irisan beda tajam. Remaja yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di jalanan ini mengatakan bahwa semua luka tersebut adalah akibat kerasnya hidup di jalanan. Setiap orang bersaing untuk mendapatkan makanan dan 'tempat tinggal' yang nyaman. Ketika ditanya mengenai masa depan, Sang Remaja menyatakan harapannya untuk dapat hidup normal dengan memperoleh pekerjaan. Namun ia langsung menyatakan betapa sulitnya memperoleh pekerjaan dengan kondisinya yang sekarang sebab untuk diterima di sebuah perusahaan, sesorang harus memiliki alamat yang jelas yang tertulis pada kartu identitas diri. Hal inilah yang tidak dimiliki Sang Remaja laki-laki tersebut.

Ternyata selain anak muad, ada juga keluarga kecil yang hidup di jalanan. Seorang ayah dan ibu muda beserta bayi mereka yangmasih berusia 1 bulan setiap malam tidur di taman beratapkan langit dengan alas kain dan selimut seadanya. Ketika musim panas suhu cukup hangat bagi Sang Bayi, namun bagaimana ketika musim dingin yang sangat beku tiba? Lalu bagaimana dengan masa depan Si Anak yang sudah hidup di jalan sejak lahir? Tentu saja ada harapan dari kedua orang tua mengenai masa depan anak yang lebih baik, namun apakah kesempatan tersebut akan datang atau tidak masih menjadi pertanyaan besar.

Tempat terakhir yang dikunjungi adalah sebuah rumah singgah bagi anak-anak jalanan. Mungkin rumah singgah yang satu ini bisa juga disebut sebagai panti rehabilitasi bagi anak-anak jalanan supaya bisa melakukan kegiatan-kegiatan positif daripada berkeliaran di jalan. Seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang ditemui sempat membuat Sang Caster sangat terkejut dengan pertanyaan santainya "Do you have cigarette?" Tentu saja ini adalah pertanyaan yang tidak lazim bagi anak berusia 12 tahun ditambah dengan gerak tangannya yang ketika bertanya. Tangan sang anak membuat sebuah "gesture" orang merokok ketika bertanya seakan-akan ia adalah perokok berat (mungkin dia memang sudah terbiasa merokok).

Percakapan singkat juga dilakuakn dengan seorang perempuan yang terlihat seperti berusia 20-30 tahun. Ketika ditanya berapa usianya sekarang, perempuan tersebut berkatan bahwa ia tidak tahu usianya sendiri. Ia dibawa oleh orang tuanya ke rumah singgah tersebut dan sejak itu tidak pernah bertemu dengan orang tuanya sekali pun. Kebetulan saat percapakan singkat dilakukan, ia sedang berada di kelas menggambar. Gambar sederhana seperti layaknya gambaran seorang anak SD terlihat cukup bermakna. Bagi Sakurai caster, matahari tersenyum yang digambar Si Perempuan menyiratkan harapan akan masa depan yang lebih cerah.

Keseluruhan perjalanan tersebut telah membuka mata Sang Caster mengenai bagian lain dari dunia yang cukup "kejam". Tentu bagi Sang Caster (dan kebanyakan orang Jepang) kondisi di Rumania tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Kehidupan yang serba maju dan nyaman di Tokyo membuatnya tidak pernah berpikir mengenai bagaiman perasaan orang-orang yang hidup di jalanan di Rumania sepanjang hidupnya.

Bagi saya, keadaan di Rumania hampir (atau sangat mirip) dengan kondisi di Indonesia saat ini. Banyaknya anak jalanan yang berkeliaran di jalan-jalan besar. Orang-orang yang tidur beralaskan tanah(sebernarnya masih pakai alas di atas tanah, hanya 'seadanya') dan beratapkan langit. Lalu anak-anak yang dikirim ke panti asuhan karena kondisi ekonomi keluarga. Pemandangan ini bisa dikatakan banyak ditemui di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bogor (sejauh yang saya tahu dan lihat sendiri). Sebelumnya saya tidak pernah menyangka bahwa situasi yang terjadi di tanah air juga ditemukan di belahan dunia di Eropa.

Lalu apak yang bisa kita (saya) lakukan? Pertama, pastinya dengan memikirkan solusi di negeri sendiri meskipun sejujurnya saya sendiri tidak tahu apa yang bisa saya lakukan untuk berkontribusi secara langsung. Mungkin hal yang paling mudah adalah bersyukur atas kondisi sendiri. Saya sudah seharusnya bersyukur sudah diberikan kehidupan yang nyaman sejak lahir, dalam arti memikili orang tua, saudara, rumah yang nyaman untuk ditinggali, makanan yang bergizi setiap hari, kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi dan triliunan nikmat lain yang tidak terhitung.

Dengan segala kenikmatan tersebut seharusnya saya bisa lebih memaknai dan mengisi hidup sehingga selalu bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Amin.


アユ

0 comments :

Post a Comment