Tuesday, August 10, 2010

Hiroshima-Nagasaki in Memory (from other point of view)

Menjelang bulan Agustus, berita di televisi menampilkan liputan mengenai peristiwa bom atom 65 tahun silam. Tanggal 6 Agustus adalah pengeboman Hiroshima, sementara 9 Agustus adalah Nagasaki. Malam ini, saya melihat secara lengkap liputan khusus mengenai peristiwa besar tersebut. Liputan yang disampaikan dengan sangat baik dan memperlihatkan sudut pandang lain mengenai tragedi yang menelan banyak korban ini.

Saya, sebagai orang Indonesia yang lahir dan dibesarkan di Indonesia selalu melihat peristiwa Hiroshima-Nagasaki dari sudut pandang "Indonesia". Sejarah yang saya pelajari di sekolah selalu menyebutkan bahwa "Setelah peristiwa pengeboman Hiroshima dan Nagasaki oleh AS, Jepang menyerah dan (sebagian besar) tentara Jepang pergi meninggalkan Indonesia." Peristiwa ini kerap kali ditulis pada latar belakang peristiwa kemerdekaan Indonesia. Secara tersirat maupun tidak, "Kalau saja AS tidak mengebom Hiroshima-Nagasaki, Indonesia mungkin akan lebih lama dijajah Jepang/tidak akan merdeka". Kira-kira demikianlah kesan yang ada pada diri saya sejak mulai belajar sejarah sampai setidaknya tahun lalu.

Pada pelajaran sejarah di Indonesia, tentu tidak disebutkan situasi yang ada di Jepang saat negara matahari terbit ini menduduki bumi Nusantara. Kesan yang kami (atau setidaknya saya) adalah kesan kejam, diktatorisme, dan kesan buruk lainnya. Saya pikir tidak salah kesan tersebut yang didapat, karena memang pada kenyataan sejarah, begitulah penjajah Jepang ketika masa Perang Dunia II.

Sejak berada di Jepang, saya berkesempatan melihat, mendengar, dan menyaksikan langsung kesan, pemikiran, dan perasaan orang Jepang mengenai peristiwa pengeboman Hiroshima-Nagasaki ini. Secara umum (tentu saja) warga Jepang terutama warga Hiroshima dan Nagasaki merasa sangat terpukul. Ini merupakan peristiwa besar sejarah yang membuat negara "jatuh": kalah dalam perang, kota yang hancur lebur, hilangnya banyak nyawa, dan dampak lainnya.

Saya sendiri sempat belajar sejarah Jepang di kelas, dan pada pembahasan akhir Perang Dunia II, sensei melewatkan bagian "apa yang terjadi setelah Hiroshima-Nagasaki dibom". Wajar saja, tidak mungkin beliau membahas sisi gelap negara sendiri di depan mahasiswa dari bekas negara jajahan (sebut saja Indonesia, China, dan Philippine).

Beberapa kali saya sempat berbicara dengan orang Jepang mengenai akhir Perang Dunia II, dan mereka memang tidak tahu (atau tidak pernah diceritakan) mengenai penjajahan Jepang terhadap negara lain. Hal yang mereka pelajari hanya sekadar "Tentara Jepang pergi ke negara Asia" dan tidak menceritakan "apa yang tentara Jepang lakukan di negara-negara tersebut".

Kembali pada liputan berita malam ini, acara dibuka dengan scene yang cukup mengesankan: newscaster utama, Murao-san berdiri di depan monumen peringatan pengeboman Nagasaki sambil menyampaikan narasi yang berkaitan dengan peristiwa 9 Agustus 65 tahun silam tesebut. Menurut pendapat saya, sejak awal acara, pemirsa sudah dibawa pada atmosfer berkabung. Selanjutnya, ketika beralih dari siaran langsung di tempat kejadian ke studio, hal pertama yang dibahas adalah "headline" mengenai peringatan tragedi Hiroshima-Nagasaki. Selama 1 jam, 90% merupakan liputan Hiroshima-Nagasaki dari tempat kejadian.




Liputan pertama, perjalanan Murao-san ke Nagasaki. Wawancara dengan seorang saksi mata sekaligus korban tragedi sambil melakukan napak tilas ke tempat kejadian. Melihat hal ini, saya sedikit bisa mengerti bagaimana situasi Nagasaki saat itu. Ditambah lagi, narasumber adalah veteran tentara Nasional Jepang yang secara pribadi tidak ingin terlibat dalam situasi peperangan. Cerita yang dituturkan sang veteran perang mengenai teman seperjuangannya serta sisa-sisa kenangan pahit cukup membuat hati sedikit banyak tergerak. Pada liputan ini, diperlihatkan pula bagaimana warga Nagasaki melakukan upacara peringatan setiap tahunnya dalam mengenang para korban bom. Monumen, bunga, dan origami yang di simpan di atas monumen peringatan cukup merenyuhkan hati. Terakhir, wawancara dengan anak seorang veteran perang yang wafat tahun lalu. Beliau menuturkan bahwa kenangan pahit yang dialami sang ayah selalu dan masih terasa serta sulit untuk dihilangkan. Beliau juga mengatakan bahwa masih ada perasaan (kenangan pahit) sang ayah yang belum disampaikan yang baginya sebagai anak sekalipun sulit untuk dimengerti. Wawancara terakhir ini menyiratkan bahwa kenangan peristiwa Nagasaki sangatlah pahit.



Sementara itu, liputan kedua mengenai perjalanan Sakurai-san ke Hiroshima. Pemandangan yang hampir sama terlhat pada saat upacara peringatan di depan monumen. Hal yang berbeda dengan liputan pertama adalah partisipasi siswa SMA Hiroshima dalam rangka memperingati 9 Agustus ini. Sebanyak lebih kurang 8 orang siswa SMA melukis peristiwa pasca dijatuhkan bom atom oleh AS berdasarkan cerita ang dituturkan oleh seorang saksi mata. Berbagai lukisan sangat jelas dan apik menggambarkan bagaimana "porak poranda"-nya kota saat itu. Diantara 8 lukisan yang ada, sebuah lukisan karya siswa kelas 3 SMA dipilih sebagai yang terbaik untuk menyampaikan pesan kekejaman bom atom. Lukisan tersebut menggambarkan seorang ibu berdiri di tengah reruntuhan kota bersama seorang anak kecil sambil menggendong bayi. Judul lukisan tersebut yakni "Jerit tangis seorang ibu atas kematian bayinya" Baik pose sang ibu maupun latar belakang yang dilukis cukup jelas menyampaikan pesan "kekejaman bom atom".

Partisipasi para siswa SMA tersebut diharapkan dapat menbumuhkan kepedulian generasi muda pada peristiwa besar dalam sejarah Jepang. Selain itu, menurut M-san (sebut saja begitu, saksi mata peristiwa pengeboman tersebut) melalui lukisan, diharapkan ada bentuk nyata yang dapat dijadikan sarana untuk mengenang dan menyampaikan pesan moral secara turun temurun pada generasi berikutnya. Beliau juga menambahkan bahwa, berapa kalipun beliau bertutur mengenai kenangan yang dialami, tidaklah cukup tanpa sebuah benda konkret. Sekadar kata-kata kadang tidak semua hal dapat disampaikan, untuk itu perlu sebuah gambar yang dapat menyampaikan suasana yang sebenarnya. Melalui gambar, orang lain dapat lebih mudah mengerti situasi yang terjadi.

Pada akhir acara, Murao-san kembali menyampaikan sebuah narasi sebagai penutup sekaligus pesan moral. Dalam memperingati tragedi Hiroshima-Nagasaki, sebagai generasi yang tidak mengalami langsung, kita sebaiknya tidak hanya mendengarkan dan melihat, tapi juga dapat menyampaikan pesan (moral) dibalik peristiwa yang terjadi.

Sungguh sebuah liputan yang membukakan mata saya mengenai sisi lain dari sejarah Perang Dunia II. Kesimpulan yang saya dapatkan bahwa dalam perang, dimanapun, siapapun akan "terluka" serta sangat sulit untuk melihat siapa yang benar dan salah. Bukan hitam dan putih, melainkan abu-abu. Tidak satupun pihak dapat disalahkan sepenuhnya maupun dibenarkan sepenuhnya. Memang tidak ada hal yang baik dalam perang. Walaupun sulit, kedamaian adalah hal yang paling indah di dunia.

Tokyo, 9 Agustus 2010
23.58pm
アユ


Disclaimer:
村尾信尚
櫻井翔
NEWS ZERO, NTV

0 comments :

Post a Comment