Sunday, July 18, 2010

Indonesia Festival


Selamat Sore!
Judul kali ini adalah Indonesia Festival yang diadakan di Yoyogi Park tanggal 10-11 Juli 2010. Sebenarnya sih, bukan di Yoyogi Park, tapi di lapangan sebelah Yoyogi Park. Gara-gara telat sadar, saya jadi nyasar hampir setengah jam, muter-muter di dalam taman Yoyogi kayak anak ilang sambil ditelepon berkali-kali sama Kanecho dengan bahasa jepang yang ga jelas (padahal saya berharap Gomi-chan yang ngomong T__T) sampai akhirnya dijemput Kanecho-Gomi (kenapa gak dari tadi aja sih? T__T). Oke, cukup penjelasan panjang lebarnya.

Kesan saya mengenai festival yang satu ini adalah "Inikah Indonesia?" (saya serius, inikah Indonesia?). Festival yang diantaranya disponsori oleh KBRI, DepBudPar, dan Garuda ini berlangsung sangat meriah dan dapat dikatakan sukses mempromosikan Indonesia, selain lebih "bersih" diabndingkan acara tahun sebelumnya. Akan tetapi, jika melihat beberapa detail acara, saya sebagai orang Indonesia merasa sedikit miris dan berharap orang Indonesia lebih care terhadap budayanya.

1. Booth Restoran Ayung Teras paling ramai
Setidaknya itulah yang terlihat oleh saya. Lalu, apa masalahnya? Ayung Teras memang restoran Indonesia, menyajikan makanan Indonesia, dekorasi 'sangat Indonesia', pegawainya orang Indonesia, dan pemiliknya adalah orang Jepang. Nah, inilah 'masalahnya'. Orang Jepang yang sangat suka dengan Indonesia, terutama Bali, mendirikan restoran Indonesia di daerah Shibuya, Tokyo dan laris manis. Saya sendiri pernah makan malam disana, dan suasanya 'sangat Indonesia', meskipun makanannya kurang berasa 'Indonesia'. Maklum, saya orang Indonesia asli yang sejak kecil makan makanan Indonesia asli di bumi Indonesia, jadi masakan Indonesia yang dibuat di luar negeri terasa kurang mantap rasanya.
Pada Indonesia Festival kali ini, saya lihat booth Ayung Teras paling ramai dikunjungi dan paling banyak yang ngantri. Demikian pula yang saya dengar dari Gomi-chan dan Kanecho, booth restoran yang satu ini paling panjang antriannya.
Sebuah restoran Indonesia yang dikelola orang Jepang bisa lebih laris daripada restoran Indonesia yang dikelola orang Indonesia asli? Tidakkah orang Indonesia sedikit evaluasi diri, apa yang membuat restoran tersebut bisa laris manis?
Menurut pendapat saya, restoran ini bisa laris manis, baik di kalangan orang Indonesia maupun orang Jepang, karena:

a. Pemilik Restoran serius menggarap konsep 'Indonesia' yang disajikan, mulai dari dekorasi, makanan, sampai suvenir yang menarik.
b. Rasa masakan disesuaikan dengan 'lidah' orang Jepang, yang tentunya membuat pelanggan Jepang merasa nyaman menikmati rasa Indonesia tanpa harus takut kepedesan atau merasakan bumbu yang terlalu 'tajam'.
c. Khusus pada Indonesia Festival kali ini, menu yang dijual sangat bervariasi, mulai dari makanan berat sampai makanan ringan dan minuman. Beberapa suvenir khas Indonesia seperti sandal pantai khas bali, daster (kalau menurut saya sih, daster) dan makanan instan Indonesia pun dijual.


Jualan Sendal dan suvenir khas Indonesia, termasuk saus sambal dan bumbu instan.


Ini dia booth Ayung Teras yang ramai itu


2. Setidaknya 50% performer tari Indonesia adalah orang Jepang.
Tidak bisa dipungkiri bahwa tidak sedikit orang Jepang yang tertarik pada budaya Indonesia, salah satunya tarian tradisional Indonesia. Jumlah orang Indonesia di Tokyo pun tidak cukup banyak yang bisa menjadi performer tari Indonesia. Sebenarnya dalam hal ini, tidak ada yang perlu disalahkan. Orang Jepang menyukai budaya Indonesia dan mempelajarinya adalah sesuatu yang bagus bagi promosi budaya. Orang Indonesia memang banyak di Tokyo, tapi tidak mungkin semuanya disuruh menari kan? Akan tetapi, pelajar yang bisa dipetik dari hal ini adalah "Apakah orang Indonesia sudah cukup menghayati dan mengenal budaya Indonesia?" Memang, tidak harus dalam hal tarian saja, tapi tidakkah ada sedikit perasaan malu ketika melihat orang Jepang asli menari tarian Indonesia dengan cantik dan sempurna? Terlintaskah di pikiran bahwa 'Kenapa mesti orang Jepang yang menarikan tarian Indonesia di Indonesia Festival?' atau 'Apakah kita benar-benar kekurangan orang Indonesia yang bisa menampilkan seni Indonesia?' Bagi saya, jawaban untuk pertanyaan yang terakhir adalah 'Ya'. Itulah kenyataan yang terjadi di kelompok tari Duta Melati yang saya ikuti. Diantara 60 orang lebih murid Duta Melati, mungkin sekitar 80% adalah orang Jepang. Sekali lagi saya tidak menyalahkan siapapun, sebaliknya, saya malah bangga melihat banyaknya orang Jepang yang belajar tarian Indonesia dan mengenal budaya Indonesia. Namun, alangkah baiknya jika kita merenungkan kembali 'Sudahkah kita benar-benar mengenal budaya tanah air sendiri?' Jangan sampai pada Indonesia Festival tahun depan, 90% performer seni Indonesia adalah orang Jepang.


Dua tarian yang dibawakan oleh orang Jepang


3. Film Garasi vs NANA
Saya tidak berani mengatakan dengan pasti bahwa film Garasi (Indonesia, dibintangi oleh Aiu Ratna) mencontoh (kalau tidak mau dibilang plagiat) film NANA (Jepang, dibintangi oleh Nakashima Mika). Sejujurnya, saya sendiri belum menonton kedua film tersebut meskipun khusus untuk NANA, saya cukup banyak membaca referensi mengenai manga maupun filmnya. Lalu, kenapa saya bisa bilang (mungkin) mirip? Waktu itu Kanecho sempat bertanya mengenai siapa Aiu Ratna dan apakah dia terkenal di Inonesia. Saya hanya menjawab setahu saya bahwa Aiu Ratna itu mantan vokalis band Garasi. Band ini berasal dari judul film dan bisa dikatakan cukup terkenal di kalangan anak muda. Lalu, Kanecho pun berkomentar "Wah, mirip ya sama film Jepang yang judulnya NANA." Mendengar hal ini, saya jadi berpikir, 'jangan-jangan ada sedikit banyak kemiripan antara Garasi dan NANA', 'jangan-jangan memang benar Garasai itu terinspirasi film NANA'. Sekali lagi, saya tidak bisa mengatakan dengan pasti tentang hal yang satu ini. Kalau ternyata benar bahwa Garasi itu terinspirasi (kalau tidak mau dibilang menjiplak) NANA dan teman-teman Jepang saya sampai tahu, malu deh :\


Inilah Aiu Ratna yang penampilannya keren banget (tapi filmya?)

Terakhir, tentunya kesan baik yang saya rasakan dari festival ini adalah menarik, ramai, menyenangkan. Satu hal yang membuat saya salut adalah, penonton Jepang cukup setia menyaksikan pertunjukkan seni tradisional Indonesia meskipun hujan turun. Melihat banyaknya penonton, yang rata-rata orang Jepang, mau 'bersusah payah' memegang payung dan tetap setia menyaksikan pertunjukkan sampai akhir, cukup membuat saya merasa 'terapresiasi'. Semoga Indonesia Festival tahun depan bisa lebih baik dan lebih membanggakan bagi warga Indonesia.



          五味ちゃん、かねちょ、来てくれてありがとう~

(Terimakasih sudah datang ke festival, Gomi-chan, Kanecho)

アユ

0 comments :

Post a Comment