Monday, February 22, 2010

(My) Path of Life

Intro: ini juga salah satu tulisan agak lama

Hidup manusia dimulai dari lahir (bahkan sebelum lahir pun sudah hidup), lalu dirawat oleh orang tua, bisa berjalan, berbicara, makan, lalu masuk sekolah. Mulai dari TK (ada juga yang sejak playgroup), lalu masuk SD kelas 1-2-3 sampai kelas 6, ikut ujian lalu lulus dan masuk SMP, SMA, kuliah. Yak, stop sampai di sini, karena saya masih ada di tahap yang terakhir ini. Waktu SMA kelas 3 (yak, kelas 3, biarpun saya cuma 2 tahun sekolah),, berusaha keras untuk mendapat nilai bagus, belajar untuk bisa masuk Universitas dan jurusan yang diinginkan. Setelah diterima, lega rasanya. Tapi, tidak berhenti sampai di sini. Kehidupan di kampus ternyata berbeda dari kehidupan waktu sekolah dulu. Sekali lagi, saya harus berusaha keras untuk bisa bertahan di kampus, belajar, berorganisasi, magang, bersosialisasi, menghadapi berbagai macam orang, dan sebagainya.

Pertanyaannya, apa sih yang sebenarnya saya cari? Tentu saja ilmu dan pengalaman, tapi apa tujuan saya sebenarnya menjalani ini semua? (saya ga mau bilang, nantinya ingin masuk surga, itu sih tidak perlu diperdebatkan lagi, sudah pasti, kan semua orang ingin?). Belajar dan mengejar mimpi untuk bisa sekolah di luar negeri, lalu setelah mimpi itu tercapai, bagaimana selanjutnya? Tentu saja menyelesaikan pendidikan saya yang tertunda. Setelah selesai, saya mau apa? bekerja? melanjutkan sekolah? lalu setelah bekerja atau melanjutkan sekolah, mau jadi apa? Pertanyaan2 tersebut belakangan ini terlintas di pikiran saya.

Sejujurnya, sejak tahun kedua berada di FKH, saya mulai berpikir, akan menggeluti dunia apa sebenarnya nanti? Jawabannya tentu bukan dunia kedokteran hewan, tapi bidang apa dan pekerjaan seperti apa yang saya inginkan? Ya, yang benar2 saya inginkan dan sesuai dengan kemampuan saya. Awal saya masuk FKH, saya berpikir akan menjadi praktisi, lalu setelah mengenal banyak sekali bidang pekerjaan seorang dokter hewan, saya mulai berpikir, kira2 bidang apa yang bagus ya? Lalu, setelah saya berada di Jepang, saya jadi semakin berpikir, setelah ini mau apa? Pola yang sudah ada yakni: mengikuti pertukaran pelajar, lalu pulang ke tanah air, melanjutkan studi--->lulus--->kembali ke Jepang untuk melanjutkan studi-->setelah lulus, ada 2 kemungkinan, kembali ke tanah air atau bekerja dan menetap di Jepang. Rata2 seperti itulah yang dialami para senpai.

Lalu bagaimana dengan saya? Apa yang sebenarnya saya inginkan setelah menyelesaiakan program ini dan setelah lulus mendapat gelar dokter hewan? Banyak orang berpikir bahwa asalkan sudah mendapat gelar dokter, pekerjaan yang akan dijalani sudah jelas dan mudah. Seorang dokter dan dokter hewan tentu saja mempunyai scope pekerjaan yang sangat luas, tidak hanya praktisi, tetapi juga peneliti, akademisi, karyawan, wirausahawan, dsb. Bisa bergerak di bidang makanan, makhluk hidup itu sendiri, kemasyarakatan, dan masih banyak lagi. Saya tidak memungkiri bahwa saya merasa sangat beruntung sudah memilih profesi ini (tanpa maksud meremehkan profesi lain, saya menghormati profesi apapun itu). Kalau dibilang saya bingung memilih pekerjaan karena begitu banyak bidang yang bisa digeluti, itu benar. Tetapi, tidak sepenuhnya benar. ada hal lain yang masih mengganjal di hati.

Terkadang ketika merasa jenuh belajar, saya berpikir, apakah benar ini jurusan dan profesi yang saya inginkan? Bagaimana jika saya pindah jurusan? Bagaimana jika saya dulu tidak memilih jalan ini? Pada saat "down" seperti ini saya melihat profesi lain yang saya anggap akan lebih mudah jika saya menggelutinya. Rasanya ingin berada di bidang lain yang bukan science. Rasanya bidang sosial atau bahasa akan lebih mudah. Atau memilih program kuliah yang lebih fokus untuk langsung kerja setelah lulus. Atau lulus SMA tidak usah kuliah saja. Kira2 begitulah yang pernah saya pikirkan.

Sekarang, ketika orang bertanya: tertarik pada bidang apa? Ingin melalukan apa di penelitian nanti? setelah pulang ke Indonesia mau apa? saya tidak pernah punya jawaban yang selalu sama. Saya berkali-kali bilang ingin kembali ke Jepang untuk sekolah (cita2 yang bagus ya). Tapi, apa yang akan saya lakukan setelah lulus sekolah di Jepang nanti? Kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai akademisi, atau menetap dan bekerja di Jepang? Memangnya mau kerja apa di Indonesia? Kalau di jepang mau kerja apa? apakah saya bisa survive dengan keadaan yang pasti akan sangat berbeda antara tanah air dan Jepang?

Banyak teman2 saya yang bilang saya beruntung, punya otak yang cemerlang, kesempatan yang bagus, dan pengalaman yang banyak. Mudah untuk mencari kerja atau melanjutkan pendidikan. Alhamdulillah, selama ini saya diberi anugrah yang begitu luar biasa oleh Allah SWT. Seorang teman pernah mengatakan, "Apa lagi sih yang kamu cari? Semua sudah kamu miliki, prestasi akademis, non akademis, teman2 yang banyak, jaringan yang luas?" Lalu saya jawab, "Saya mencari pengalaman yang berbeda dan kesempatan yang lain". Selama hidup, manusia memang tidak pernah merasa puas. Itu manusiawi. Saya sendiri juga belum merasa cukup puas (tentu saja saya sangat bersyukur) dengan apa yang yang miliki. Saya ingin menjadi lebih baik lagi. Meskipun saya bisa menjawab pertanyaan teman saya dengan yakin, terkadang saya ingin bertukar tempat dengannya atau dengan teman saya yang lain. Saya merasa ada beban yang secara tidak langsung dilimpahkan ke pundak saya. Orang sering berkata, sayang sekali kalau kemampuan akademis yang cemerlang tidak dimanfaatkan dengan menuntut ilmu sampai gelar tertinggi. sayng sekali kalau kesempatan sekolah di luar negeri tidak diambil. Memang sayang, tapi apakah itu yang terbaik bagi orang tersebut? Well nobody can tell.

Saya merasa beruntung memiliki orang tua yang tidak pernah memaksakan kehendak dan selalu membiarkan saya memutuskan apa yang terbaik bagi hidup saya. Bagi mereka, tugas orang tua 'hanya' mengarahkan anaknya ke jalan yang lurus saja, kalau soal anaknya mau jadi apa, mau ke mana, mau memilih pekerjaan apa, itu si anak sendiri yang mementukan. asalkan tidak melenceng dari nilai2 agama dan moral, tidak masalah. Ini menjadi salah satu hal yang membuat saya cukup gamang saat ini.

Berbicara tentang masa depan, tentu saja indah. Bisa merencanakan akan lulus, sekolah, bekerja, menikah, punya keluarga, dan seterusnya... Lalu bagaimana realisasinya? kekhawatiran itu pasti ada. Biarkan saja mengalir, go with the flow. Hey, tidak begitu! Kita (ya, kita! tidak hanya saya) harus berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, minimal untuk menjalani hidup hari ini. Meskipun jalan itu masih buram, "goal" belum terlihat, tapi paling tidak kita berjuang untuk apa yang sedang kita jalani.

Hmmfhh,, seharusnya kalimat terkahir tadi bisa jadi kalimat untuk mengakhiri tulisan saya. Tapi masih ada yang ingin saya sampaikan.
I envy people who already has their own plan for the next 10 years of their life. I envy people who can couragely say "I will do this after that, and then that..." I envy people who already have a place to work for the next 15 years. I envy people who has been engaged with someone, and already decide their future live together. I envy people who is brilliant and many companies/institution want to have him/her for the next 20 years. I envy people who financially independent. I envy people with good job, good family, good place to live. I envy people who have already start their bussiness since they're in college. I envy everyone who can decide their path of life with no doubt. I wish I could replace with those "lucky" people.

Rumput tetangga memang selalu lebih hijau. People always want to be in somebody's place. Again, as Ryouji Kaji said:
You only think you understand each other. They can't even understand themselves. Understanding a hundred percent is impossible. So, "people endeavor to attempt to learn about themselves" and others. That's makes life interesting.


Yuu_cHan

*huge thanks to those who shared their thought about life, and waken me up from my sleep*

0 comments :

Post a Comment