Monday, February 22, 2010

From My Point of View

Sebelum mulai ke cerita sebenanarnya, saia mohon maaf karena ini salah satu tulisan "sadis" saia (sebenernya ada yang lebih sadis lagi). Tulisan ini dibuat untuk menanggapi tulisan seorang teman baik saia yang "senasib" dengan saia. Jadi, tidak bermaksud menyinggung pihak manapun,, hanya ber-uneg2 untuk diri sendiri saja^^

Idola,, adalah sesuatu yang manusiawi. Setiap orang pasti punya idola (siapapun itu, dalam bentuk apapun, apapun pekerjaan idola-nya), karena sebagai manusia kita pasti perlu "role model" atau setidaknya seusatu/seseorang yang dikagumi. Meminjam kalimat lama dari majalah, dalam pencarian jati diri, seseorang cenderung mencari dan memiliki idola. Istilah idola memang identik dengan "artis", tapi apakah selama ini ada yang berpikir pengertian "idola" dan "artis" itu sebenarnya? dan apakah hanya anak muda saja yang mencari jati diri dengan mengagumi idola? saya punya pemikiran sendiri.

Pertama, Idola menurut saya bisa berarti "seseorang yang dikagumi", atau bisa jadi "role model". Kedua, Artis berarti "seniman", seseorang yang melakukan pekerjaan di bidang seni atau seseorang yang ahli dalam bidang seni. Bagi saya, guru tari saya adalah artis, meskipun beliau bukan seseorang yang populer seperti AKB48, Hamasaki Ayumi, atau SMAP. Ayah saya juga dulunya artis, karena beliau pernah belajar seni musik dengan serius dan cukup ahli bermusik.^^ Ketiga, tidak hanya anak kecil atau anak muda yang masih mencari jati diri. Kebanyakan orang berpikir umur tertentu berarti "sudah dewasa", dan "orang dewasa" sudah punya jati diri, sudah tahu apa yang baik untuk dirinya. Tidak salah juga sih,, tapi apakah salah orang dewasa punya idola atau sekadar orang populer yang dikagumi? seorang teman saya yang sudah berumur 40 tahun dan sudah berkeluarga adalah fans setia Tohoshinki, guru tari saya yg juga sudah "kepala 4" masih bisa mengagumi Arashi dan hafal lagu2nya, mama angkat saya di Jepang mengagumi Fukuyama Masaharu, seorang staf Universitas mengoleksi pernak-pernik Nodame, dan masih banyak lagi. Padahal mereka semua sudah "tidak muda" dan beberapa sudah berkeluarga. Jadi, saya merasa masih "muda" sekali dan "pantas sekali" untuk punya idola^^

Mengagumi artis luar negeri memang sering menjadi kontroversi di Indonesia (duh, bahasanya agak berat nih), dan entah kenapa yang menjadi sorotan paling tajam adalah fans artis jepang/korea. Padahal USA (untuk selanjutnya saya sebut Amrik ya) juga luar negeri dan banyak juga yang mengagumi artis2 Amrik atau setidaknya sering mendengarkan lagu2 mereka dan menonton film2 box office. Apakah yang demikian juga bisa disebut "masih cinta tanah air"? Apakah kita disebut cinta Indonesia hanya jika kita mengagumi, mendengarkan, menonton idola, musik, dan film Indonesia? Kalau begitu, kami yang di Jepang tidak cinta Indonesia donk? Kami tinggal di Jepang, mendengarkan musik Jepang, menonton film Jepang dan hampir tidak "ngeh" sama artis2 Indonesia. Hey, kami tidak ganti kewarganegaraan lho. Bukankah itu sudah termasuk cinta Indonesia juga? Sulit lho, mempertahankan status WNI kalau sudah terbiasa dan merasa nyaman dengan keadaan di negara maju seperti Jepang. Salut buat sensei2 yang masih berstatus WNI padahal sudah 30 tahun lebih tinggal di Jepang dan masih setia mmelestarikan budaya Indonesia.

Rasa cinta tanah air juga bisa diukur (diukur? istilah agak kaku ya?) dari pemakaian produk dalam negeri. Setidaknya hal ini akan nyambung dengan pernyataan saya berikutnya. Apakah kita pernah berpikir dan melihat barang2 di sekeliling kita, buatan manakah? Coba kita cek lagi satu per satu: piring made in china, HP made in china (merk Jepang, Korea, Eropa, Amrik tapi dirakit di China), mobil made in japan (sebut saja Toyota, Mitsubishi, Mazda, dkk.), baju made in china... Hey! mana buatan Indonesia-nya? Tentu saja ada, tas tajur made in bandung (tapi merk-nya Perancis), lampu national made in Indonesia (jujur, saya bangga waktu menemukan lampu ini dipakai di apartement saya di Jepang^^), dan masih banyak lagi. tapi, apakah orang yang bilang "kalau kamu suka Idol Jepang, kamu gak cinta Indonesia" berpikir bahwa dirinya sendiri juga sudah cukup mencintai Indonesia? Apakah barang2 yang ia pakai "made in Indonesia"? Apakah dia naik mobil dan bus "made in Indonesia"? Kalau melihat pernyataan saya pada paragraf ini, tentu jawabannya "tidak".

Mengenai "cinta tanah air", saya jadi inngat perkataan seorang senpai, "Seseorang akan mencintai negeri-nya jika sudah berada di luar negeri." jujur, ini pernyataan yang menohok bagi saya dan perlu diakui kebenarannya 100%. Ketika mendengar lagu Indonesia Raya dan Tanah Airku diputar di depan banyak orang2 Jepang, rasanya merinding, gemetar, dan terharu. Ketika orang Jepang memberi applause yang sangat meriah untuk pertunjukkan tari Indonesia, rasanya bangga sekali. Ketika seorang teman Jepang bertanya mengenai Indonesia lalu memuji orang Indonesia dengan semangat, rasanya bangga sekali bisa memiliki negeri yang indah ini. Setiap kali diminta untuk memperkenalkan Indonesia, kami dengan bangga memakai batik dan kebaya. Ketika mengobrol dengan teman, rasanya nyaman sekali berbicara dengan bahasa Indonesia, meskipun salah satu alasannya adalah supaya tidak ketahuan sedang membicarakan apa^^ Paling tidak, kami bangga berbahasa Indonesia.

Kembali ke masalah "Idola dan mengidolakan artis Jepang/Korea". Sebelum saya berkesempatan datang ke negeri Sakura ini, saya sangat "menggebu2" mendengarkan, melihat, dan mempelajari segala seuatu tentang Jepang. Bisa dikatakan, saya "gaptek" sama artis Indonesia. Seorang teman sempat bilang, "ayo donk, sekali2 dengerin lagu indonesia". dan saya menjawab "gw denger lagu Indonesia juga kok, cuma emang gak ngeh sama artisnya, dengernya cuma karena adek gw sering muterin lagu Indonesia ajah". Tapi sepertinya waktu itu teman saya tetap tidak percaya dengan jawaban saya >,< (padahal saya jujur lho, jawabnya). Saya sempet sedikit "down" dengan hal ini, tapi kembali lagi, tidak ada yang salah dengan mengagumi artis Jepang. Itu cuma masalah "kesukaan" saja. Toh, selama ini saya tidak punya masalah bergaul dengan teman2 di kampus dan dalam pelajaran pun lancar2 saja. Kalau boleh sedikit membanggakan diri, nilai saya dan beberapa teman saya yang "nge-fans sama Jepang" justru lebih tinggi dari teman2 yang lain^^ Padahal kami senang membaca komik (yang katanya bacaan tidak mendidik), merakit model kit (yang katanya mainan anak2), nonton Anime (yang katanya film anak kecil), tapi kami serius kalau sudah membaca materi kuliah dan tidak mengait2kan dengan hobi kami.

Beberapa saat sebelum saya berangkat ke Jepang, saya menyadari bahwa menjadi "fans jepang" adalah hal yang sangat bermanfaat. Alasannya:
1. Berawal dari suka baca komik, nonton anime/dorama, denger musik jepang, saya jadi punya motivasi untuk menuntut ilmu di negeri matahari terbit. Motivasi ini yang mendorong saya untuk berusaha dan akhirnya kesempatan pun datang. Kalau teman2 saya tidak tahu saya suka jepang, mungkin tidak akan ada yang menawari saya untuk coba daftar beasiswa ke Jepang^^

2. Saya bangga dengan profesi yang akan saya geluti nantinya. Saya juga bangga karena profesi mulia ini dituangkan oleh Fujisaki Masato dalam manga "Wild Life". Manga ini pun mendapat penghargaan sampai akhirnya diadaptasi ke bentuk movie yang menurut saya luar biasa^^. Saya merasa banyak sekali hal yang bisa saya pelajari dari manga ini, tentu saja karena ini manga tentang dunia kedokteran hewan. Saya jadi sedikit terbantu saat mata kuliah klinik, penyakit dalam, dan imunologi, karena sebelumnya saya sudah membaca beberapa kasus di Wild Life yang berkaitan dengan materi kuliah.

3. Saya merasa bisa berpikir lebih dewasa dan lebih "struggle". Hal ini dikarenakan saya menyaksikan banyak anime dan dorama yang membahas tentang bagaimana sulitnya mempercayai dan dipercayai orang, bagaimana kita bisa mendapatkan hal yang kita inginkan, bagaimana jika kita diremehkan orang lain, bahwa perbedaan itu akan selalu ada dalam hidup, bagaimana sulitnya menjaga hubungan baik dengan teman, keluarga, pacar, dan lain-lain. Selain itu, pandangan "remeh" orang2 sekitar tentang hobi saya, membuat saya sedikit banyak berusaha (kalau tidak mau dibilang lebay: usaha mati2an^^) untuk membuktikkan kalau pandangan mereka salah. Dan sekarang setelah saya sampai di jepang, saya bisa tersenyum puas dan berkata: "Silakan bilang saya aneh, childish, atau tidak cinta Indonesia, tapi saya bisa sekolah di salah satu Universitas elit di Jepang dan mengharumkan nama bangsa".

Mungkin kata2 saya banyak yang terkesan sombong, belagu, dan egois. Saya akui, iya. Saya memang ingin membuktikkan bahwa pandangan "remeh" tidak seharusnya ditujukan terhadap fans Jepang. Saya jadi ingat, seorang teman saya di sini. Dia berasal dari Perancis dan bisa dikatakan "satu2nya" otaku di kelas. Tapi, ke"otaku"-annya itu justru membuat dia bisa membuat presentasi yang sangat menarik (kalau tidak mau disebut heboh) pada kelas Japanese Culture. Dia berhasil membuat sesuatu yg berbeda dengan membuat film dokumenter pendek. Sampai2 semua sensei yang mengajar bahasa dan budaya Jepang mengakui kepandaiannya membuat video^^ Bukankah ini suatu hal yang bagus?


Cewek suka idol cewek = lesbi. Maaf sedikit ekstrim, tapi menurut saya ini keterlaluan. Kalau begitu, meng-idolakan pahlawan wanita (maaf) juga lesbi? Kan sama2 mengidolakan wanita? Tapi pasti mereka tidak mau disebut demikian bukan?! Saya sempat tertawa waktu membaca bagian ini. Menertawakan betapa sempitnya pemikiran mereka yang bilang cewek mengidolakan cewek = Lesbi ^^
Ketiga, tentang pakaian minim. Menurut saya, cuma masalah perbedaan budaya saja. Lagipula, kita kan sama2 cewek, gak apa2 donk? Mungkin begitu “ekstrimnya”^^ Di sisi lain, sebaiknya kita bercermin (lagi) pada diri sendiri. Apakah artis dalam negeri pakaiannya tidak minim? Tentu banyak yang tidak begitu, tapi yang berpakaian minim juga ada kan? Kok ga diprotes juga? Rumput tetangga memang selalu lebih hijau (istilahnya gak tepat ya? >,<)

Terakhir, saya tidak akan membuat kesimpulan. Mungkin saya bisa mengakhiri tulisan ini dengan quote favorit saya dari Ryouji Kaji (Shin seiki Evangelion):
“You only think you understand each other. They can't even understand themselves. Understanding a hundred percent is impossible. So, people endeavor to attempt to learn about themselves and others. That's makes life interesting.”

Ijou desu!
Terima kasih sudah mau repot membaca tulisan saya yang kacau balau ini.

Otsukaresama deshita~

Ayu

0 comments :

Post a Comment