Thursday, March 26, 2015

Here’s I am talking about my tutor

What is a tutor?

Sebagai anak graduate school yang “baru datang di Jepang pas mulai program pascasarjana” (pengalaman sebagai exchange student dan intern student 1 tahun lebih ga dihitung) dan belum paham banget kehidupan “yang sebenarnya” di Jepang, kami-kami ini secara beruntung ditemani oleh tutor. Tutor itu mahasiswa Jepang yang sudah tingkat akhir S1 (biasanya) yang dianggap kompeten sehingga diutus oleh Pak Profesor untuk mendampingi mahasiswa pasca tersebut. Kenapa bahasa gue jadi ribet begini? 

Intinya, tutor ini bakal bantuin, nemenin, ngajarin kita saat: lapor diri ke kantor kelurahan setempat, bikin akun bank, ngajarin cara bayar listrik-air-gas, telponin dokter gigi (ganteng) buat bikin janji konsultasi, ngisi dokumen-dokumen resmi yang isinya kanji (kriting) semua, dsb, dsb. Termasuk, (kalau sempet) jalan-jalan bareng keliling kota. Asik kan? Sayangnya gue ga pernah jalan-jalan sama tutor gue kecuali pas lagi lab trip. Kenapa? Karena (ceritanya) gue udah canggih kalau soal jalan-jalan #haisssshhh


My Tutor

Nah, sekarang cerita tentang sosok tutor gue yang canggih itu. Sebut saja CM, umur setahun atau dua tahun di bawah gue tapi kita ngobrol pake bahasa gaul, sama-sama perempuan, sama-sama suka gundam, sama-sama suka warna biru, sama-sama golongan darah B, sama-sama lahir di tahun heisei (mulai 1989 ke bawah), sama-sama galak kalau di farm tapi cantik nan anggun kalau ke pesta (mulai narsis), sama-sama mahasiswa Vet Med (ya iyalah). Mba CM ini orangnya tegas (kalau ga mau dibilang galak), suka asik sendiri tapi ga jomblo, jago main piano, canggih banget di ladang ski, hobi ngebut di jalan (entah pakai sepeda atau mobil), semua sapi takluk sama doi, pinter ngomong bukan pinter bohong, suka baca komik (koleksinya udah menuhin kamar apartemen), soal teori kurang cihuy tapi soal praktek super canggih. Terakhir, ga suka media sosial (makanya foto beliau disini bakal ditutupin icon cantik, hehehe…

Selama setahun, pokoknya beliau berjasa benget banget dalam hidup gue (asiiiik). Sangat membantu dan senang membimbing. Kalau ngejelasin suatu hal jelas dan detil banget. Kalau lagi ngomong sama petugas-petugas di bank atau toko misalnya, beliau-beliau langsung pada “luluh” dan urusan langsung lancar jaya… Duh, coba lawan jenis, pasti udah “cool” banget kalo kata anak muda jaman dulu. Yang pasti, gue udah naksir kalau doi lelaki. Hahahaha… Well, biasanya tutor memang sama jenisnya dengan yang di”tutor”in supaya lebih leluasa mau curhat ngurusin macem-macem. Betul ga?

Terakhir, gue beruntung banget punya tutor Mba CM, biarpun doi agak-agak anti ngomong Bahasa Inggris dan kita selalu ngobrol dengan (entah gimana caranya) bahasa Jepang, tapi doi selalu bisa mengambil hati mba-mba Teller Bank, Ibu-ibu Toko Hanko (stempel Jepang pengganti tanda tangan), mba-mba resepsionis PDAM, sampai mba-mba real estate agency beserta ibu kosan gue sekarang sehingga gue bisa tinggal di apartemen mungil tapi super keren kayak di drama Jepang (Ihiiiy). Entah gimana caranya, Mba CM bisa meyakinkan mereka-mereka kalo gue anak baik-baik, jago bahasa Jepang, dan udah biasa dengan kehidupan sehari-hari Jepang (biarpun cuma 50% tepat, hahaha).

Terimakasih gue ga terkira buat doi yang udah sempet-sempetin nganterin cari apartemen di tengah-tengah kesibukkan belajar buat Ujian Nasional Dokter Hewan (yang ternyata super duper susah banget bo….); sempet-sempetnya juga bantuin angkut barang-barang gue yang super banyak pas pindahan secara cuma-cuma. Belum lagi ditambah super sabar ngajarin gue ngisi puluhan dokumen resmi dengan kanji yang orang Jepang sendiri aja belum tentu paham isinya (kurang pinter apa coba tutor gue?), sampai ngajarin gue cara nulis kanji dengan baik dan benar serta indah. Hihihi…
Satu tahun berlalu dan doi pun lulus sebagai dokter hewan yang cinta sapi. Aaah, bentar lagi gue nangis nih ^^;



Happy Graduation my best tutor! Otsukaresamadeshita!

アユ
 
  

Monday, February 16, 2015

Cerita tentang 3 ekor anjing yang selamat dari kebakaran

Tadi pagi gue (seperti biasa) nonton TV sambil siap-siap berangkat ke kampus. Pas banget di channel favorit, manayangkan berita tentang kebakaran mansion di salah satu distrik di Tokyo, Setagaya yang terjadi MInggu, 15 Februari 2015. Diberitakan tidak ada korban jiwa (manusia), semua penghuni selamat, hanya saja beberapa orang mengalami luka ringan. Salah seorang reporter senior stasiun TV tersebut menyambangi tempat kejadian saat kebakaran baru saja terjadi. Kalau tidak salah ingat, sumber kebakaran berasal dari lantai 3. Beberapa penghuni terlihat keluar ke beranda karena konon mereka tidak bisa keluar dari pintu.

Langsung ke cerita inti, ada salah satu orang penghuni mansion, tante berusia sekitar 40-50 taun dengan dandanan yang cukup nyentrik tiba-tiba muncul dengan panik. Beliau memaksa untuk masuk ke kamarnya yang berada di lantai 4. Karena (tentu saja) tidak diizinkan oleh polisi dan bapak-bapak pemadam kebakaran, ia pun menelepon salah seorang anggota keluarganya (atau mungkin sahabat?) sambil berulang kali mengucapkan “gimana ini? Anjingnya bisa mati.” Sambil sesekali berkata pada polisi : “ada 3 ekor anjing di lantai 4, ada 3 ekor anjing di lantai 4. Mereka bisa mati”. Karena tidak diizinkan naik juga, beliau pun mengeluarkan kunci kamarnya sambil berkata “Ini saya kasih kuncinya, tolong selametin anjing saya.” Beliau sempat berulang-ulang berkata demikian dengan wajah panik dan setengah menangis.

Beliau bahkan sampai berkata “masa tidak ada yang mau menolong sih?” Salah seorang polisi sempat berkata “Yang penting Anda selamat. Harap jangan mendekat ke area kebakaran, berbahaya.”  Sang wanita, dengan wajah super panik menjawab “Gak apa saya yang mati, tapi anjing saya harus selamat. Ya ampun mereka bisa mati di dalam. Mereka ga bisa keluar sendiri  itu”.
Di tengah “debat” antara si tante dan si polisi, om reporter TV pun ga tega dan menghampiri mereka. Ia pun meminta tolong pada para petugas untuk menyelematkan ketiga ekor anjing yang terjebak. Akhirnya salah seorang (mungkin petugas) berlari ke arah mansion. Om reporter pun mencoba menenangkan si tante dengan berkata “Tenang, itu sudah ada orang yang naik ke lantai 4 untuk menjemput anjing Anda.”

Singkat cerita, akhirnya ketiga ekor anjing (kalau tidak salah ingat, 2 ekor daschund dan 1 ekor Jack Russel) berhasil diselamatkan dan kembali ke pelukan si tante. Si tante menangis terharu sambil memeluk ketiga ekor anaknya yang berebut mendekap beliau.

Apa kabar dengan kebakarannya? Alhamdulillah berhasil dipadamkan dan seperti yang dibahas di atas, tidak ada korban jiwa, baik manusia maupun hewan, semuanya selamat.
Gue sendiri hampir nangis sampai gemetar nontonnya. Apa yang gue bayangkan? Gue ngebayangin kalau gue yang jadi anjingnya, terjebak di dalam kamar, ga bisa keluar, ga bisa buka jendela (jelas ga bisa, gue ras anjing kecil yang ga bakal nyampe buat pegang kait pengunci jendela), ga bisa teriak minta tolong, ga bisa telepon owner gue buat minta tolong. Alhamdulillah, Sang Pencipta masih sayang sama makhlukNya yang tidak berdosa. Mereka masih diberi hidup dan berkumpul dengan orang yang menyayangi mereka sampai rela mati demi menyelamatkan mereka.

Detil berita :  http://news.yahoo.co.jp/pickup/6149756    


アユ

Wednesday, January 28, 2015

Catatan tambahan: Cari Tempat Tinggal di Jepang

Gue ga terlalu tahu detil tentang macem-macem tempat tinggal, tapi secara garis besar, sebelum cari tempat tinggal, buat pertimbangan:

1.     Jumlah penghuni: tinggal sendiri, berdua sama temen atau partner, atau rame-rame sama temen, atau rame-rame sama keluarga. Ini mementukan jumlah ruangan dan luasnya, bro.  

2.     Kegiatan sehari-hari yang dominan. Kalau dominan ngampus ya cari yang deket kampus, dominan masak ya cari yang deket supermarket, dominan commute pake kereta ya cari yang deket stasiun kereta paling strategis jalurnya, kalau punya anak, ya cari ya deket sama sekolah anak.


3.     Kids. Buat yang mau atau sudah punya anak dan anaknya masih sekitaran bayi-balita-SD, sangat dianjurkan pilih tempat tinggal yang lingkungannya sama, alias lingkungan keluarga. Demi keamanan si anak (tssaah) dan kenyamanan tetangga. Ga semua orang bisa tahan dengan kehebohan anak-anak dan ga semua tempat tinggal dan sebaliknya, ga semua anak-anak bisa tinggal dimana aja. Bayangin aja, tinggal di deket rel kereta atau di depan jalan raya. Agak-agak riskan lah ya buat anak-anak ^^

4.     Gaji. Ciyus, ini penting. Keep the rent fee not more than 1/3 of your monthly income. Kenapa? Karena kita masih bakal bayar listrik, air, gas, internet (kalau ada), TV digital (kalau ada juga), dan yang pasti perlu banget dipikirin buat makan sehari-hari. Jangan sampe tinggal di mansion mewah, tapi tiap hari makannya tahu sama nattou (anggap aja pengganti tempe di Jepang).


5.     Nah, kalau data-data di atas sudah dirangkum, saatnya pilih tipe: asrama, apato, mansion, share house, atau bahkan rumah. Apa bedanya dari tipe-tipe itu? Sila cek di link yang akan gue kasih di poin selanjutnya. Tapi kalau boleh gue rangkum:

a)     Asrama: biasanya punya kampus, lebih murah, lebih friendly buat mahasiswa, dan ada batas waktu boleh tinggal (ada yang 6 bulan, setahun, bahkan seumur hidup jadi mahasiswa). Terus biasanya udah “full equipped”. Kita tinggal bawa baju sama piring aja (ga segitunya juga sih, hehehe).
b)    Apato: bahasa EYD-nya rumah susun, ada bener-bener kayak rumah susun di Jakarta, tapi banyak juga yang setara apartemen di Pantai Indah Kapuk. Kalau kata http://www.jafnet.co.jp/ , apato itu biasanya dua tingkat saja, dindingnya cukup tipis buat denger suara tetangga lagi karaoke.
c)     Mansion: Setara apa yang disebut “Apartment” di daerah Casablanca Jakarta. Biasanya punya sistem security yang oke, alias tamu cuma bisa mentok sampe lobi (atau bahkan tempat parkir) kalau si punya rumah ga bukain pintu :D Lagi-lagi kalau kata http://www.jafnet.co.jp/ , mansion punya dinding yang lebih tebel dari apato, ada lebih dari dua lantai dan jumlah kamarnya lebih banyak. Harga sewa jelas lebih mahal.
d)    Share house. Gue juga belom pernah liat langsung tipe ini, tapi konon semacam kos-an di kampus-kampus di Indonesia. Satu rumah isi kamar-kamar dengan ruang tamu bersama, dapur bersama, dsb.
e)     Rumah. Rumah ya rumah. Harganya? Ga usah ditanya, apalagi di kota besar^^

6.     Selanjutnya adalah pilih tipe “lantai”: tatami atau flooring. Apa bedanya? Tatami itu semacam tikar tradisional Jepang yang otentik. Kelebihannya? Konon (gue juga ga ahli dalam bidang ini) kalau tatami-nya beneran asli kayak yang jaman dulu, doi akan menghangatkan di musim dingin dan mendinginkan di musim panas. Canggih kan? Buat yang suka gaya klasik dan lesehan, ini cocok banget. Nah, flooring itu istilah buat lantai “modern”, ya semacam ubin lah ya di Indonesia cuma beda penampakan. Buat yang suka pake slipper di dalem rumah atau yang demen makan pasta (ga nyambung), flooring ini cocok buat dipilih. Yang jelas, kalau lantainya tatami, ga ada istilah nyapu sama ngepel lantai, biasanya di jaman modern, bersihinnya pake sapu lidi eh vacuum cleaner (CMIIW).

7.     Jangan lupa, pilih luasnya. Sesuaikan dengan jumlah penghuni dan kebutuhan. Buat yang single-single, tipe 1R, 1K, atau 1DK biasanya udah cukup buat memenuhi kebutuhan makan-tidur-leyeh-leyeh depan tipi. Kecuali kalau mau sering-sering ngopi sambil main poker sama temen-temen se-geng, perlu yang lebih luas. Ngomong-ngomong, 1R, 1K, 1DK, 1LDK apa sih? Daripada gue panjang-panjang jelasin, mending cek langsung di
http://www.jafnet.co.jp/manual/e_chintai/migigawa/eapart.htm

8.     Cari orang yang CANGGIH bahasa Jepangnya, mau itu non-Jepang maupun natif. Alternatif lain yang baru aja gue temukan, adalah jasa interpreter http://blog.gaijinpot.com/renting-in-tokyo/ Atau... kalau situ bahasa Jepangnya udah secanggih natif, ya jalan sendiri sangat tidak masalah (Ya, Iyalah). Kenapa perlu kecanggihan bahasa Jepang? Tentunya buat menghadapi kerumitan administrasi dan peraturan perUndang-undangan, serta kerumitan ngomong sama mba-mba dan mas-mas agen yang bahasanya sangat kromo kalau kata orang Jawa. Atau, kalau mau sewa langsung face-to-face sama Ibu/Bapak Kos, ya buat melancarkan obrolan sama beliau-beliau yang kebanyakan sudah cukup sepuh. Kalau asrama atau share house yang statusnya “International”, kayaknya ga perlu canggih-canggih amat bahasa Jepangnya deh, hehehe.

9.       Cari info tempat tinggal di?


a)  Cuap-cuap tanya kanan-kiri, tanya temen, sanak saudara, kerabat, temennya temen, pacarnya temen, temennya pacar, atau bahkan ke dosen. Siapa tahu mereka mau pindah dari apato/mansion yang lama, jadi kamarnya jomblo alias kosong, atau di apato/mansion mereka lagi ada kamar jomblo alias kosong :P

b) Tanya ke bagian “student life support” di kampus. FYI, di kampus gue ada bagian ini. Mereka punya list kos-an dengan harga mahasiswa yang letaknya strategis buat commute ke kampus pake sepeda atau bahkan jalan kaki.

c)  Rajin-rajin cek di Internet. Real Estate Agency jaman sekarang udah “go digital”. Ga perlu datang langsung buat sekedar “lihat-lihat” tempat tinggal.

d) Langsung datang ke Real Estate Agency. Ini a la orang Jepang pada umumnya, biarpun ga semua begitu.

e) Langsung datang ke apato atau mansionnya, hanya kalau si Ibu/Bapak Kos ga pake jasa agen buat promosi kos-anya, atau situ udah kenal sama si Ibu/Bapak kos-nya karena dikenalin temen yang nge-kos situ.

f)  Mungkin ada cara lain? Bisa ditambahin sendiri, hehehe.

Intinya, siapin duit, siapin mental, jangan sampai salah pilih tempat tinggal. Ingat-ingat kata emak, sesuaikan dengan kebutuhan dan kantong. Hihihi…


Ditulis oleh amatir,

アユ

Sekilas tentang mencari tempat tinggal di Jepang


Pertengahan bulan ini gue baru aja sukses dapet tempat tinggal baru yang deket kampus, murah (?), dan nyaman. Kalau ditanya prosesnya gimana, jujur gue ngerasa semuanya cepet banget, yang lama adalah galau memulainya. Well, gue mulai dari proses si gue cari tempat tinggal dulu ya.
Ceritanya, aturan asrama tempat gue berlabuh sekarang cuma bisa ditinggalin selama satu tahun doank, which is selesai musim semi ini (hiks). Padahal asrama tempat gue guling-guling sekarang adalah tempat paling nyaman, lengkap perabotnya, dapur dan kamar mandi di dalam (istilah anak kos banget ini), dan MURAH! Yes. Dimana lagi di Tokyo (pedalaman sih) bisa dapet tempat kayak gini. Mungkin karena fasilitas dan harganya yang sesuai kantong mahasiswa non-Jepang, asrama ini ga punya banyak kamar dan cuma boleh ditinggalin maksimal 1 tahun.
Nah, menginjak tahun kedua (honestly tahun ke-3 lebih satu bulan gue di Jepang kalo digabung sama tahun-tahun sebelumnya), gue mulai harus masuk ke realita, cari apartemen alias apato dalam istilah Jepangnya. Dari akhir tahun lalu gue udah mulai tanya kanan kiri soal info apato yang gue pengen: murah, bersih, cukup buat sendiri dan bikin party (eh), dan deket dari salah satu tempat berikut: Kampus, Swalayan lengkap bin murah, atau Stasiun yang ada kereta ekspresnya. Tinggi banget ya kriteria gue? Jujur, awalnya gue ogah pake real estate agency, karena denger-denger sekilas dari orang-orang bayarnya mahal dan orang asing (bukan luar angkasa) sering ditolak karena ga bisa bahasa Jepang.

Tapi, setelah gue ngobrol-ngobrol lebih lanjut sama orang-orang yang pro dan kontra sama si agen, gue pun memutuskan untuk “why not try using the agency’s services?” Hal pertama yang gue lakukan sebelum pergi ke agen adalah “poking” orang-orang yang gue kenal deket dan punya bahasa Jepang yang canggih dan sedikit mirip orang Jepang, kalau bukan orang Jepang asli. Buat apa? Buat nemenin gue ngomong sama mba-mba dan mas-mas agennya lah, secara bahasa Jepang gue masih cupu. Kedua, gue ngomong 4 mata (karena dari kita ga ada yang pake kacamata) sama babeh Lab alias dosen pembimbing gue buat minta kesediaan beliau jadi guarantor. Apa itu? Penjamin kalau gue mahasiswa asing legal dan anak baik-baik yang tinggal di Jepang buat tujuan mulia mencari ilmu (mulai lebay). FYI, Jepang adalah negara yang lebih skeptis dari gue yang suka skeptis berlebihan. Mereka menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, secara label “non-Japanese” punya budaya yang berbeda, cara hidup yang berbeda, dan bahasa yang berbeda. Bayangin aja situ punya kos-an, terus ada orang dari negara yang situ aja belom pernah denger namanya, apalagi bahasanya. Terus doi ga bisa bahasa negara situ. Gimana coba mau ngomong sama doi? Gimana mau jelasin aturan kos-an ke doi?  Bahasa Tubuh? Ya bisa aja sih. Tapi tetep aja, ga nyaman bukan? Kira-kira analogi ekstremnya gitu. Tapi ini analogi ala gue ya, hehehe.

Intinya, setelah dapet persetujuan dan kedua pihak penting: partner in crime sebagai penerjemah dan babeh sebagai pengganti orang tua gue di Jepun, gue pun meluncur ke salah satu agen (sebut saja mawar) yang terlihat memajang iklan apato murah bin keren karena deket stasiun yang ada kereta ekspresnya. Hahaha. Awalnya setengah “iseng”, pengen nanya dan lihat-lihat dulu aja gitu. Eh, berhubung partner gue sama golongan darah dan stoic-nya sama gue, plus mba-mba agen mawar (sebut saja melati) yang canggih nyari apato yang pas buat mahasiswa non-Jepang kayak gue, gue pun tertarik buat liat salah dua dari sekian banyak apato yang ada. Setelah dua jam ngobrol dan muter-muter, termasuk lihat langsung ke TKP, gue pun memutuskan untuk “ambil” salah satu dari yang ditawarkan. Partner in crime gue sih terserah gue, tapi berhubung dia tahu kayak apa kehidupan penelitian gue sama anak-anak (kambing) gue, dia dengan senang hati menerima keputusan gue ambil itu apato.
Langkah selanjutnya adalah: gue isi form data diri (standar sih), begitu pula dengan babeh sebagai orang tua, eh penjamin. Ini form “ancang-ancang” sebelum form kontrak resmi. Mba melati harus konfirmasi dulu ke Ibu Kosan yang punya apato, mau apa ga nerima gue jadi anak kosanya. Dua jam kemudian... (ga kok, gue ga nunggu 2 jam di kantornya, gue pulang ke lab sambil nunggu telepon) mba melati telepon dan bilang kalau aplikasi gue diterima dan gue udah bisa teken (bahasa apa sih ini teken?) kontrak besok atau lusa. Gile, cepet banget (apa emang cepet ya?). Karena gue besoknya sibuk (tsaaah), jadilah lusa gue ke kantor si agen ditemenin my cool partner in crime. Setelah isi ini itu, termasuk itung-itungan duit, gue pun membubuhkan tanda tangan plus stempel di atas kertas. Dilanjutkan dengan babeh beberapa hari kemudian (maklum babeh sibuk, jadi dokumennya harus dianter ke kantor babeh dan gue harus “mapan” ngomong di depan beliau). Yang menarik, ada prosedur ngebacain kontrak dan aturan. Dibacain! Cuma 3 lembar sih, tapi tetep aja. Gue cuma ngerti intinya (Alhamdulillah masih ngerti intinya. Kalo lagi kepepet kadang gue bisa sih bahasa Jepang). Kelakuan gue saat dibacain itu tulisan adalah mendengarkan dengan manis, setelah selesai, gue suruh partner gue merangkum. #plaaak.

Langkah selanjutnya adalah, cari bantuan angkut barang. Alhamdulillah partner gue dengan senang hati meminjamkan dan nyupirin mobilnya buat angkut barang-barang gue. Yeay!

Jadilah gue punya apato hasil jasa agen. Terus, kenapa akhirnya gue pilih apato yang sekarang ini?

1.     Lokasinya deket dari kampus. Saking deketnya, kampus gue bisa dikeker (bahasa apalagi ini?) dari jendela.

2.     Home appliances include. Alias udah ada perabot lengkap! Sebagai mahasiswa, gue ga perlu cari perabot second-hand atau gratisan buat ngisi apato. Dan kalau udah lulus, terus pindah ke belahan dunia lain, gue ga perlu repot cari orang yang mau diwarisin perabot gue atau buang perabot gue. As you know, buang perabot di Jepang bayarnya mahal dan harus pesen dulu sama tukang angkut sampahnya bro. Lumayan duitnya buat PP Tokyo-Hokkaido naik pesawat. Wuuuzzz….

3.     Harga sewa sesuai golden rules: ga lebih dari 1/3 gaji sebulan. (Harga dan gaji dirahasiakan, bahkan emak gue di kota aja ga tau gaji gue berapa, maap ya mak ^^).

4.     Luasnya pas sama badan gue yang mungil (sok-sok mungil) dan sesuai apa kata emak: semakin luas rumah semakin capek bersihinnya. Jadilah gue pilih yang “pas” buat gue sendiri guling-guling sambil nonton DVD konser Arashi (teteuup).

5.     Uang “macem-macem”nya ga banyak. Memang ga bisa dihindari yang satu ini. Tapi ada beberapa poin yang menurut gue reasonable dan gue ga keberatan bayar:

a) asuransi (perlu ga perlu, tapi buat jaga-jaga ga ada salahnya, daripada menyesal di belakang);
b) guarantee deposit (yang ini lebih murah dibanding guarantee deposit di asrama dengan fasilitas yang “lebih”, gimana gue ga setuju^^ Toh di akhir bakal dibalikin kalau gue ga melakukan bully terhadap apato dan barang. Yeay! );
c) jasa bersih-bersih sekalian desinfeksi (setelah bertahun-tahun gue belajar bedanya bersih-bersih dan desinfeksi, gue 99% setuju ini penting);
d) jasa agen (ya sudahlah, gue juga kerjanya di bidang jasa, dan kita sama-sama perlu makan, jadi gue bayar berhubung uang jasa cuma sepersekian harga sewa sebulan).

No Pic Hoax? Demi melindungi keamanan tempat gue berlabuh, gue ga akan mengunggah foto apapun tentang apato gue :D


アユ

Thursday, December 25, 2014

Turning upside down in 2014

Enam hari menuju 2015. Tahun ga ngaruh sih, kalau mau “review” perjalanan hidup kapan aja bisa. Tapi, mumpung “pas” tahun 2014 ini banyak kejadian yang berdampak besar bagi gue, jadi gue berniat melalukan “review” alias tinjauan ulang alias mengingat kembali.
Jadi, apa saja kejadian-kejadian yang membuat hidup gue jungkir balik, diputer 180 derajat, terus diputer balik 180 derajat, terus diputer lagi 180 derajat, terus dibelokkin dikit 90 derajat, terus diputer lagi, sampai entah sekaranga ada di fase mana? ^^

  • Lulus ujian kompetensi dokter hewan. Baru-baru ini sadar setelah melihat kembali sertifikatnya yang tertulis “memiliki kewenangan medik veteriner berikut hak dan kewajiban dalam melaksanakan profesinya”. Berat euy isinya ^^ Di Jepang sendiri, ujian nasional semacam ini “segalanya” buat para dohe (dokter hewan) baru. Karena lulus ujian ini berarti “izin praktik di bidangnya masing2” yang otomatis bisa bekerja sesuai profesinya. Kalau ga lulus, harus menunggu satu tahun untuk ikut ujian ulang, dan selama itu ga bisa kerja apa-apa yang berkaitan dengan profesi dohe. Serem ya, setahun nganggur, apa kata dunia? >_<
  • Ikut ujian masuk program PhD di Gifu. Biarpun ini bagian dari pilihan “lanjut PhD”, tapi keputusan ambil program yang pakai embel-embel ujian masuk juga lumayan menantang. Setelah ngumpulin receh dari PP Bogor-Sudirman 5 hari seminggu, akhirnya gue pun terbang sendirian ke Tokyo dan lanjut nebeng bis ke Gifu. Kalau dipikir-pikir, itu pertama kalinya gue jalan sendiri ke luar negeri dengan status turis dan tiket pesawat murah meriah seadanya di musim dingin pula. Semuanya juga pesen sendiri, dari tiket pesawat sampai tiket bis, itinerary selama di Jepang juga dibikin sendiri, jalan-jalan sendiri, Cuma nginepnya ga sendiri, melainkan di mansion keluarga Indonesia yang super baik hati sejak dahulu kala. Alhamdulillah, aman sampai kembali ke tanah air biarpun sempat dihampirin badai salju terbesar dalam 20 tahun ^^;

  •  Berangkat sekolah tanpa beasiswa. Ini jadi semacam “first turning point” dalam hidup gue. Kenekatan gue berangkat (tentu dengan sejuta pertimbangan yang melibatkan satu quadroon keluarga, sahabat, dan kolega) membuat gue belajar puter otak cari nafkah sendiri, cari makan murah tapi tetap bergizi,  atur keuangan sendiri, atur komunikasi dengan orang-orang supaya bisa tetap bertahan hidup di negeri yang pajaknya baru saja naik 8% ini. Termasuk puter otak cari beasiswa.

  • Daftar dan resmi menjadi awardee LPDP. Turning point gue yang kedua. Dengan dukungan ibu pertiwi khatulistiwa semesta jagad raya, gue memperjuangkan beasiswa ini sampai akhirnya menjadi bagian dari keluarga LPDP. Sempat ada cerita, sudah berangkat ke Tokyo, lalu 1.5 bulan kemudian harus kembali lagi ke Tanah Air untuk menyelesaikan proses menjadi keluarga LPDP. Alhamdulillah, ada aja rezeki yang nempel buat perjalanan PP yang super heboh itu.

  • Setelah menjadi bagian dari keluarga LPDP, hidup tentunya berubah, dari yang putar otak cari makanan murah meriah namun bergizi menjadi putar otak cari makanan bergizi yang murah. Eh, sama aja ya? Ya, bisa dibayangkan, yang tadinya pendapatan per  bulan ga pasti, tergantung dari gaji (ehm) Teaching Asisstant dan sedikit sambilan olahraga otak sana sini, belanja sayur dan protein nabati muter2 ke supermarket murah, protein hewani yang paling maknyus cuma telur dan susu Hokkaido (teteup), sering-sering nongkrong di kampus (sekalian belajar juga kok, hehehe) supaya listrik di asrama bisa hemat.  Berubah jadi punya pendapatan bulanan tetap, teaching assistant teteup jalan, sambilan putar otak tambah banyak, dan rajin belanja demi menambah energi buat mikir dan ngurus farm. Lho, malah tambah banyak?  Lho, udah dapet beasiswa masih aja sambilan? Bukan… bukan… Sebenarnya teaching asisstant dan sambilan putar otak itu tetep lanjut karena “terlanjur” kontrak setahun dan sayang juga ilmunya kalau “dilepas”. Ilmu menyampaikan ilmu dalam bahasa asing (tsssaaaaah). Alhamdulillah bisa nambah-nambah buat seonggok tiket konser Arashi, (teuteup back to arashi). Dan gosipnya, tahun depan Alhamdulillah ditawari dosen pembimbing buat bantu penelitian beliau. Kalau lolos, bakal menyandang “status” baru: Research Asisstant. Sebenernya kerjaan begini, keuntunganya dobel, ikut publikasi penelitian bonus fulus (ga boleh dibalik ya, hihihihi).

  • Mengenal kembali sahabat-sahabat lama dan berkenalan dengan sahabat-sahabat baru lengkap dengan masalah-masalah hidup mereka. Ini agak sedikit berat, tapi tahun ini gue dipertemukan dengan beberapa sahabat lama yang membagi masalah besar dalam hidupnya ke gue. Mencoba menjadi pendengar yang baik, gue pun menyimak setiap keluhan mereka dan mencernanya tanpa protes. Lebih tepatnya gue ga tau harus nge-respon apa karena pengalaman gue Nol Besar dengan masalah-masalah mereka. Ini bisa dibilang pertama kalinya dalam hidup gue mendengar masalah-masalah yang gue anggap cuma “problematika yang bisa ditemui di layar kaca”, tapi ternyata ketika terjadi di dunia nyata, itu bukan “sekadar”. Yang pasti, gue belajar dari inti permasalahan mereka bahwa “anything could be happened in life”, sekalipun kita sudah berada pada “steady state” sekalipun, meskipun “tidak pernah ada masalah” tapi justru itu bisa “memicu masalah” kalau tidak berhati-hati. Apalah ini bahasanya kiasan semua. Pokoknya harus tetap berusaha dekat dengan Pencipta Alam Semesta ini yang Maha membolak-balik hati, yang mengubah nasib suatu kaum setelah kaum tersebut berusaha.

  • Tetap bertahan dengan kondisi yang sekarang walaupun aral melintang, badai konser di Dome (salah, itu badai yang lain alias grup badai :P), dan suhu dingin mendera. Aku tetap di Tokyo dan ga akan pergi kemana-mana kecuali ada konferensi ilmiah, konferensi grup badai, konferensi hidup, dan koneferensi-konferensi yang lainnya.


Last but not least, 2014 akan jadi salah satu dari sekian tahun yang dapet award sebagai “tahun dengan frekuensi jungkir balik paling banyak”. Entah tahun-tahun selanjutnya bakal ada jungkir balik lagi atau ga, apapun yang terjadi, anything could be happened in life so be prepared J

アユ
In the middle of designing the next research plan    


Friday, December 12, 2014

Mengukur jejak kaki yang kita tinggalkan untuk bumi

Tunggu dulu, ini bukan mau bahas puisi atau sastra atau literatur. Ini terjemahan bebas dari “Calculating ecological footprints on earth” seperti yang tertera di tautan http://footprintnetwork.org/en/index.php/GFN/page/calculators/ Apa itu ecological footprint? Ecological footprint adalah metrik yang memungkinkan kita menghitung tekanan manusia terhadap planet sehingga dapat dihubungkan dengan fakta seperti: Jika semua orang hidup dengan gaya hidup setara penduduk Amerika Serikat pada umumnya, maka kita akan memerlukan 4 (EMPAT!) planet bumi. Wow!

Singkatnya, ini bisa jadi bayangan buat kita, sejauh apa kita sudah menyayangi bumi (cieee,, bumi juga perlu kasih sayang, tsaaah) dan “seboros” apa kita dalam menggunakan sumber daya alam yang sudah disediakan oleh bumi secara “cuma-cuma”.
Gimana cara mainnya? Pertama masuk ke laman http://footprintnetwork.org/en/index.php/GFN/page/calculators/, lalu akan muncul tampilan flash player seperti berikut :



Lalu pilih negara dengan mengarahkan kursor ke bullet point warna kuning. Sayangnya belum semua negara tersedia. Jadi, yang wilayahnya belum ada bullet point-nya harap sabar ya^^;


Lanjut, setelah itu akan keluar pilihan bahasa: Bahasa Inggris atau bahasa nasional negara tersebut.
Setelah itu, kita akan masuk ke laman pertama dari kuis (yak, ini semacam quiz tapi bukan sembarang kuis). Pertanyaan-pertanyaan pertama yang diajukan berkaitan dengan kebutuhan pokok manusia, pangan. Pilihan jawaban dari masing-masing pertanyaan diurutkan dari “tidak pernah” sampai “selalu” mengkonsumsi.



Daftar pertanyaan kedua mengenai konsumsi barang-barang yang berhubungan dengan sandang dan papan serta pelengkapnya, seperti kebutuhan rekreasi.  Pilihan jawaban yang tersedia dirutkan mulai dari yang “pengeluaran uang paling sedikit” sampai “pengeluaran uang paling banyak” yang relative berdasarkan standar hidup di masing-masing wilayah tentunya dan parameter waktu per bulan sampai per tahun.

Lanjut ke daftar pertanyaan ketiga. Masih seputar papan alias tempat tinggal dan perlengkapan pendukungnya. Di sini, pertanyaan yang diajukan cukup pribadi karena berpusat pada jenis rumah tempat kita tinggal, berapa orang yang tinggal bersama kita, ukuran rumah, serta tagihan-tagihan listrik, air, dan gas per bulan ^^;

Daftar pertanyaan keempat membahas seberapa sering kita melakukan perjalanan yang memerlukan konsumsi energi, seperti seberapa jauh kita berpegian setiap harinya menggunakan mobil pribadi, tranportasi umum, hingga seberapa sering kita terbang (pakai pesawat terbang tentunya, bukan baling-baling bambu :P).

Klik icon next, dan voila! Kita bisa melihat hasilnya.  



Ecological footprint kita akan ditampilkan dalam bentuk analogi sebarapa banyak planet bumi yang diperlukan jika semua orang di dunia memiliki gaya hidup seperti kita. Berdasarkan pengamtan kecil-kecilan di kelas ekologi tadi, sesederhana apapun para akademisi yang tinggal di kota (tapi ga terlalu kota) seperti Tokyo atau Wageningen, tetap saja memerlukan lebih dari satu bulatan planet bumi ^^; Lalu di area sebelah kanan dari laman hasil, kita bisa melihat konsumsi terbesar kita ada di sektor apa. Dari hasil pengamatan kecil-kecilan (lagi), rata-rata pengeluaran pangan lah yang terbesar (memang manusia ga bisa hidup tanpa makan ya^^;). Lalu, bagian terakhir adalah perbandingan jejak kita berdasarkan sumber daya alam yang kita pakai, apakah itu bersumber dari pertanian, hutan, perairan, dan sebagainya.

Terakhir, kita dapat mengubah jejak kita dengan ikut ulang kuis. Tentunya setelah mengatur “ancang-ancang” baru sebagai patokan seberapa besar kita ingin “lebih hemat”.

Seru kan? ^^; Satu hal yang agak mengganjal adalah, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan masih belum termasuk konsumsi listrik, air, gas, dan/atau sumber daya lainnya yang kita pakai di luar rumah. Bagi yang bekerja, sekolah, maupun ga dua2nya, tentunya ada konsumsi listrik, air, gas di tempat lain dan bisa jadi lebih besar dibandingkan konsumsi di dalan rumah. Apalagi buat (ehm) orang sibuk. Mungkin ini karena saya yang ga baca metodologinya dengan baik atau memang kuisnya disederhanakan sehingga hanya menghitung pengeluaran pribadi yang “dasar-dasar” saja.

Ngomong-ngomong, ini bukan bidang saya, jadi kalau ada pertanyaan lebih lanjut tentang jejak langkah eh jejak kaki, silakan langsung meluncur ke laman resminya atau ke correspondence author yang tertera di jurnal berikut: Borucke et al. Accounting for demand and supply of the biosphere’s regenerative capacity: The National Footprint Accounts’ underlying methodology and framework. Ecological Indicators 24(2013):518-533.  

 Sumber inspirasi: 
Special Lecture in Green Clean Food Production Advancement II by Prof. Ignas Heitkonig (Wageningen University, The Netherlands)

アユ

Jatuh cinta pada Kopi

Si gue punya ayah dan ibu yang dulu adiksi terhadap kopi. Konon waktu jaman kuliah, kopi jadi teman bergadang ngerjain tugas, media ngobrol-ngobrol dengan teman sejawat, ataupun sekadar teman santai. Lulus kuliah, beliau berdua masih suka ngupi-ngupi (bahasa alaynya minum kopi alias ngopi :P), sampai punya anak dan anaknya SMA pun tiap pagi wajib ngupi supaya “segar” katanya. Si gue pun masih ingat kopi kapal api (bukan promosi) kesukaan beliau. Secangkir kopi plus gula jadi teman sarapan tiap pagi. Si gue sendiri waktu ngerti ga ngerti “apa sih enaknya kopi? Kopi hitam pula, pekat pula, secangkir pula, tiap pagi pula, kalau ga ngupi malah pusing”, dst dst...

Akhirnya pun suatu waktu, beliau berdua berhenti minum kopi karena alasan kesehatan. Sebenarnya ga cuma kopi, tapi ada makanan dan minuman lain yang akhirnya (istilahnya) “kata dokter ga boleh dikonsumsi lagi”. Dan saat itu si gue merasa sedikit senang karena akhirnya mamih papih (sok anak gedongan banget gue) berhenti ngupi.

Si gue pun sampai saat itu belum juga ngerti “why people love coffee” dan belum bisa minum kopi hitam (entah apa istilahnya) pake gula doang, apalagi ga pake gula. Kalaupun minum, pasti dicampur krim atau susu dan gula yang banyak. Ini mah bukan kopi kalau kata orang Italia, hehehe. Sampai si gue kuliah (ehm) S1, terus lanjut (ehm) koas pun, masih minum kopi-kopian alias susu campur kopi, gula campur kopi, mocca campur kopi, es batu campur kopi, dst dst.


Vienna coffee vs Cappucino a la cafe

Ketagihan si gue sama kopi dimulai pas semester kedua sekolah S-Teler (beneran bikin teler soalnya), dimana kerjaan numpuk, penelitian ambil sampel intervalnya ga kira-kira (10 menit sekali lah, 2 jam sekali lah, 6 jam sekali lah, dll), kehidupan Tokyo bagian desa yang bikin jam 1 pagi baru pulang nongkrong di Kota, sampai aroma kopi yang semerbak tiap hari di ruang mahasiswa yang bikin ngiler. Awalnya masih minum kopi-kopian, tapi belakangan ini si gue mulai sadar akan bahaya pemanis selain fruktosa (sebut saja aspartam, asesulfam, dkk) dari kopi-kopian instant dan mulai beralih ke kopi tubruk (ga tubruk juga sih) atau kopi hitam yang pasti komposisinya cuma biji kopi dihaluskan. Lalu diseduh dengan air panas, diseruput tanpa gula. Sedaaaappp. Alasan lain si gue berhenti minum kopi-kopian adalah ga bersahabatnya lambung gue sama yang namanya krim dkk. Entah kenapa minum kopi ber-krim malah bikin asam lambung galau, hahaha...


Cafe au latte instan edisi Rilakkuma


Kembali ke kebiasaan minum kopi. Jam biologis si gue minum kopi adalah: pagi menjelang siang, sekitar jam 10-11 (tapi ini masih jarang) dan yang wajib adalah antara jam 3-5 sore, saat ngantuk-ngantuknya dan perlu “energi” buat melanjutkan kerjaan (alesan). Setelah itu efeknya adalah, si gue masih terang benderang alias masih melek sampai tengah malam (emang biasanya juga tidur tengah malem sih). Anyway, menurut jurnal ilmiah yang gue baca (Am. J. Epidemiol. (2002) 156 (9):842-850), kopi sebagai salah satu sumber kafein berperan sebagai stimulant ringan dan mampu meningkatkan aktivitas sistem saraf pusat sehingga si peminum kopi punya kesigapan (alertness dan arousal) yang tinggi. Peneliti lain juga berhipotesis bahwa kafein dapat meningkatkan memori. Keren kan bahasanya? Hehehe…



The hits: Starbucks' Hot vs Cold Caramel Machiatto !

Apapun itu, sebagai warga negara penghasil kopi terenak di dunia (semoga hipotesis gue bener), gue mau melestarikan kopi demi mensejahterakan para petani kopi (asiiik).


Selamat ngupi... (Sluuurp)


アユ

Monday, December 8, 2014

Rekam Medik Hidup

Tahun 2014 sudah akan berakhir. Ya, tidak ada hubungannya dengan tahun juga sih, tapi dengan umur, hehehe. Jadi ceritanya si gue mau sadar diri, udah dikasih hidup selama lebih dari 25 tahun (lebih beberapa bulan menurut kalender masehi, dan lebih setahun menurut kalender hijriyah). Tua muda itu realtif, tergantung yang bikin gantungan, eh acuan. Semacam teori gerak relatif kalau dalam fisika (Alhamdulillah masih inget pelajaran fisik^^). Apapun itu, si gue mau sedikit merangkum apa-apa aja yang udah, dan apa-apa aja yang belum terlaksana. Yang pasti ibadah haji bareng mama belum terlaksana. Duh, jadi mellow deh kalo gini.

Oke, sekarang kita telaah dulu ala Rekam Medik. Maaf, agak berat bahasanya, maklum lagi bolak-balik tugas di Rumah Sakit terdekat :P

Signalement:
Nama : sebut saja Ayu
Usia: sekitar 25 tahun
Gender: Perempuan
Status: Single (keterangan lebih detil tidak tersedia untuk publik)
Pekerjaan: Part-time student, part-time cook, dan part-time lainnya.

Anamnese:
Pernah menulis peta hidup waktu masih pakai seragam putih biru, isinya rencana ikut pertukaran siswa AFS ke Jepang waktu SMA, kuliah S1 sastra Jepang di Jepang, lanjut S2, menikah (ehm) dengan pria Jepang muslim, punya anak, kerja jadi interpreter, naik haji bareng enyak babeh, hidup di Jepang sampai pensiun, terus pulang ke Tanah Air kerja social buat bangsa dan negara. Cihuy banget kan mimpi si gue jaman ABG? Lebih cihuy lagi karena si gue masih inget isinya sampe sekarang ^^;

Physical (reality) examination:
Jaman SMA ga jadi ikut AFS karena di tahun kedua SMA si gue udah dikeluarin dan disuruh kuliah. Kuliah S1 gak jadi ambil sastra Jepang, jadinya kedokteran hewan. Gara-gara SMA ga jadi ikut student exchange, pas kuliah jadinya ikutan pertukaran mahasiswa, biarpun ga ada yang mau dituker sama si gue. Untung tujuan negaranya tetep ke Jepang, Cuma tujuan prefecture yang tadinya mau ke Ishikawa (entah kenapa dulu gue pengen kesini), malah terdampar di Kelurahan Koganei, Ibu Kota Tokyo. Lulus S1 ga jadi ambil S2, malah muter-muter fakultas dan jalan-jalan keliling jawa barat, sampe terdampar (lagi) di Sapporo, Hokkaido.  Jadilah, 2 tahun setelah lulus S1, gue didandanin yang cantik sama mba model, pakai kebaya warna ungu, dan disumpahin alias ngucapin sumpah sehidup semati sebagai (ehm) dokter hewan. Berat euy kalau inget sumpah yang satu ini. Sudahlah. Lulus dari jenjang yang bukan S2 itu pun gue tetep belum (ehm) nikah, apalagi sama muslim Jepang (boro-boro lah, calon ga ada apalagi niat), si gue kembali terdampar di Ibu Kota Tokyo yang semakin bling-bling menjelang Olimpiade 2020 (cihuy!). Singkat cerita, sekarang si gue terpaksa (gara-gara gue memaksa juga sih) ga jadi S2 dan mungkin seumur hidup ga akan S2, tapi malah masuk program S3. S3 bro! Doktor!

Nah, mulai dari sini bagian paling galau. Lanjut! Sebagai mahasiswa yang masih (ehm) muda, pengalaman kerja seadanya, nulis thesis ga pernah, cuma pernah nulis skripsi sama setumpuk laporan koasistensi yang direvisi melebihi skripsi, si gue pun harus jungkir balik belajar gimana caranya: nulis jurnal buat publikasi Internasional (Oh no!) dan nulis disertasi (yang bahkan babeh gue aja masih in progress disertasinya^^; kumaha ieu~). Ditambah pengalaman ngasprak cuma seadanya, macam 3 jam muter-muter ruang praktikum, sambil liat mikroskop kalo ada yang nanya, kalo ga ya gosip sama mas-mas dosen (eh). Sekarang, yang namanya asprak disini kerjaannya hampir-hampir nyamain dosen muda di tanah air. (hebat ya? Kalau ga mau dibilang lieur, heuheuheu).

Sekolah mulu, kapan nikahnya? Eits, ini pertanyaan akhirnya muncul juga. Kalau mau dibikin selow, si gue sih selow-selow aja: Kalau ada yang ngajak dan cocok, cocok hati, cocok pikiran, cocok duit (eiiiits) ya lanjut. Kalau belum, ya usaha supaya ada. Hahahahaha. Kalau mau dibikin galau, ya lebih cepat lebih baik (aseeeeek). Kecenderungan dari jaman entah kapan sampai sekarang, pola kuliah-lulus-kerja bentar-nikah itu udah paling umum. Itungannya umur 25 itu “pas”nya di fase yang terakhir itu. Biarpun setengah dari populasi temen seangkatan gue melaksanakan kecenderungan umum, gue sampe sekarang tetep tergoda buat melaksanakan pola umum itu. Hahahaha. Kalau kata sesepuh, udah 25 taun lho, 3 taun lagi Doktor lho, udah ketinggian lho, entar kalo banyak yang mau (eh, bener kan ya banyak yang mau? aamiin) gimana? Anyway, pada akhirnya gue ga jadi nulis tentang kegalauan mahasiswa Doktor yang masih muda, single (no other detail available regarding this), dan belum ada yang ngelamar. Eaaaaa….
Diagnosa:
Sehat

Prognosa:
Fausta alias bisa move on

Treatment:
Tidak perlu treatment khusus

Tokyo, 8 Desember 2014


TTD
Ayu (ceritanya sebagai dokter hewan yang mencoba mendiagnosa diri sendiri biarpun ga termasuk sebagai spesies yang wajib didiagnosa).